Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
65. Dikelilingi Pria Tampan


__ADS_3

Azlina menggeleng. Sudah terbiasa mendengar lelaki itu memuji diri sendiri. Bahkan, Alvaro tanpa tahu malu terkadang menyamai dirinya sebagai sosok public figure terkenal yang digandrungi remaja masa kini, membuat Azlina begitu gemas dengan kelakuan sang suami.


"Iya, hanya sedikit. Sedangkan aku cantiknya banyak."


"Benarkah? Sini aku lihat!"


Azlina menunduk, menanyakan maksud Alvaro. Namun, bukan Alvaro jika tak memanfaatkan kesempatan itu dengan menarik leher gadis itu agar lebih menunduk.


Satu kecupan di bibir cukup menjadikan syok terapi bagi Azlina. Gadis itu memukul bahu Alvaro karena mulai menciumnya lagi. "Mumpung kita masih suami istri. Aku ingin menciummu setiap hari."


Alvaro melepaskan kedua tangannya dari leher Azlina, membiarkan perempuan itu menegakkan kembali kepalanya. "Harusnya tidak boleh! Kau tidak boleh seenaknya seperti itu."


Azlina segera menaikkan kakinya, menggeser tubuhnya ke belakang hingga berada di tengah ranjang. Perempuan itu memilih tidur miring memunggungi dan membiarkan Alvaro sendiri di bawah sana.


Tak tinggal diam, Alvaro mematikan lampu kamar, lalu menyusulnya dengan tidur tepat di samping Azlina, memeluk perempuan itu dari belakang seraya membenamkan wajahnya di rambut yang tergerai itu.


"Jangan peluk-peluk!" Tangan Azlina segera melepaskan pelukan tangan Alvaro di perutnya. Namun, lelaki itu justru semakin erat memeluknya.


"Mumpung kita masih suami istri, aku ingin setiap hari memelukmu."


"Kau menyebalkan!"


"Ya, aku tahu. Dan kau secara diam-diam menyukai sikap menyebalkan ini, bukan?"

__ADS_1


Azlina terdiam. Dalam lubuk hatinya dia menyukai sikap Alvaro yang seperti ini, tetapi dia takut jika suatu saat merindukan lelaki yang sebentar lagi akan menalaknya. Membalikkan tubuh, Azlina menghadap Alvaro dan secara bersamaan lelaki itu menggeser tubuhnya sedikit menjauh agar bisa melihat wajah perempuan itu.


"Kak!" Tangan Azlina terulur menyentuh pipi Alvaro, bergerak mengelusnya perlahan menuju rahang. Lelaki itu memejamkan mata ketika tangan lembut sang istri mengusap wajahnya. "Aku takut merindukanmu suatu saat nanti."


Alvaro membuka mata, tak menyangka jika Azlina mengatakan itu kepadanya. Sejenak keduanya terdiam untuk saling beradu pandang. Tak ada ucapan ataupun pergerakan, yang ada hanya tatapan dan batin yang terus berbicara, bertanya akan perasaan mereka sesungguhnya.


Hingga ketika Azlina melepas tangannya dari wajah Alvaro, lelaki itu menahannya. Alvaro dengan sadar mencium telapak tangan Azlina untuk pertama kali yang sebelumnya digunakan mengusap wajah lelaki itu.


Semilir angin seakan meniupkan bunga-bunga yang terasa bermekaran di hati Azlina. Pandangannya tak lepas sedikit pun dari wajah dengan rahang tegas dan berhidung mancung di depannya.


Azlina memejamkan mata begitu Alvaro mencium keningnya. Sikap lembut lelaki itu pasti akan sangat dirindukannya ketika mereka berpisah nanti. Apakah dia akan sanggup melewatinya, menjauh dari lelaki yang beberapa bulan ini sudah dia anggap sebagai pelindung dan penjaganya?


"Aku menyayangimu, sangat menyayangimu." Alvaro berbisik setelah melepaskan bibirnya di dahi Azlina. Gadis itu terlihat berkaca-kaca, meneteskan sebulir kristal jernih yang kemudian membasahi pipinya.


Andai dia bisa menggantikan Almeera, mungkin pikirannya tak sesulit ini. Dia sudah berusaha membentengi hati, tetapi lelaki itu justru melepaskan benteng pertahanan itu dengan sikap lembutnya.


Semoga. Hanya itu yang Azlina inginkan. Semoga dia baik-baik saja ketika tak bersama Alvaro lagi. Melupakan lelaki itu dengan berbagai kenangan singkat yang mereka lalui, mengganti dengan kenangan-kenangan lain yang lebih indah dan menyenangkan.


Azlina mulai menutup mata ketika tangan Alvaro memeluknya erat, membelai rambut panjang serta punggungnya. Hal yang pasti akan Azlina rindukan ketika tak bersama lelaki itu lagi.


...***...


Ujian akhirnya selesai hari ini. Semua anak tampak bersorak senang, seolah-olah beban terberat kehidupan telah terhempas ketika ujian telah berakhir. Mereka terlupa jika ujian sesungguhnya adalah ketika hasil dari ujian sekolah itu selesai diumumkan.

__ADS_1


Lulu menepuk bahu Azlina, mengajaknya segera pulang sekolah.


"Langsung pulang?" Azlina mengemasi peralatan tulisnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Mau nge-mall dulu? Langsung pulanglah!" Lulu menunggu Azlina selesai berkemas, tetapi gadis itu tiba-tiba teringat sesuatu. "Besok kamu ultah, ya? Pasti udah ada rencana kencan sama Elang."


Azlina menggeleng sembari menyunggingkan senyum. Mencangklong tas sekolahnya, gadis itu beranjak dari duduknya.


"Elang ada turnamen di luar kota besok."


"Sayang sekali." Lulu menunjukkan mimik wajah sedih, tetapi tak membuat Azlina terpengaruh. Sepertinya tak ada yang spesial di ulang tahunnya kali ini, kecuali ....


Azlina tiba-tiba teringat dengan perkataan Alvaro. Lelaki itu dengan jelas mengatakan bahwa dirinya ingin merayakan ulang tahun Azlina berdua, menghabiskan satu malam istimewa dengannya. Apa sebenarnya maksud Alvaro?


Apakah lelaki itu akan menuntut haknya setelah usia Azlina telah genap sembilan belas tahun? Bagaimana rasanya melakukan itu? Pasti akan sangat sakit, bukan?


Azlina buru-buru menggeleng, membiarkan pikiran kotornya itu segera pergi dari kepalanya.


"Kenapa, Na?"


"Aku akan merayakannya dengan keluargaku." Sebuah senyuman akhirnya ditunjukkannya kepada Lulu. "Mereka pasti sudah membuat kejutan untukku."


"Ih, bahagia banget jadi kamu. Punya cowok sekeren Elang, Kakak-kakak ganteng, Om tampan, Ipar bule. Kenapa kamu dikelilingi laki-laki tampan, sih? Jadi iri, deh!"

__ADS_1


Azlina hanya tertawa mendengar penuturan Lulu. "Sudah rezeki, Lu. Jangan iri, ya!"


Keduanya pun tertawa setelah membicarakan hal itu, lalu keluar dari kelas secara bersamaan.


__ADS_2