Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
73. Kenyatan yang Lain


__ADS_3

"Cincin itu ... untuk Kak Meera?" Azlina bertanya dengan sedikit terbata. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terlihat di depan mata.


Sosok Alvaro yang semalam mengungkapkan cinta kepadanya dan ingin memadu kasih sebagai bukti cinta yang sudah menggebu di dalam hati tak bisa membenarkan semua perkataan Almeera. Bagaimana mungkin Alvaro berbohong kepadanya?


"Kamu pikir untuk siapa? Jelas saja untukku. Ada huruf A di dalam sini. Dan kamu juga pernah mendengar sendiri ketika Alvaro mengungkapkan perasaannya kepadaku."


Azlina menggelengkan kepala. Huruf A bukan hanya nama Almeera saja. Dirinya juga berawalan huruf A, bisa saja sebenarnya itu dipesan oleh Alvaro untuknya, bukan untuk Almeera, tetapi mengapa cincin itu bisa berada di tangan Almeera?


"Itu dulu. Karena sekarang dia mencintaiku, bukan lagi dirimu, Kak."


Almeera tersenyum miring, mentertawai perkataan Azlina. Dia melangkah mendekat, mengulurkan tangan, menyentuh liontin yang tergantung di kalung yang dikenakan Azlina. "Ini hadiah ulang tahunmu darinya, 'kan?" Azlina hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata. "Kau tahu, siapa yang membelikan kalung ini?"

__ADS_1


Bola mata Azlina membulat penuh, tak mengerti apa yang dimaksud Almeera. "Apa maksudmu?"


Senyum itu semakin terlihat menyebalkan, bahkan Azlina ingin sekali mencakar wajah Almeera, membekaskan luka di kulit putih, bersih, dan mulus itu.


"Jika Alvaro mencintaimu, dia tidak akan lupa akan hadiah ulang tahunmu. Karena dia lupa, jadi dia memintaku untuk mencarikan hadiah untukmu. Ya, aku yang membeli dan memilihkan hadiah itu untukmu, bukan Alvaro. Jadi, itu cukup membuktikan di mana posisimu di mata Alvaro sesungguhnya."


Azlina mengibaskan tangan Almeera yang masih berada di depan lehernya. "Tidak, itu tidak benar. Kau berbohong, 'kan? Dia tidak mungkin melakukan itu."


Kertas itu terjatuh di atas lantai dalam posisi terbuka ke atas, sehingga di sana Azlina bisa melihat jelas jika apa yang dikatakan oleh Almeera itu benar adanya.


"Mengapa? Mengapa jadi begini?"

__ADS_1


Azlina yang sedari tadi berusaha kuat tak sanggup lagi mempertahankan tubuhnya. Dia luruh ke lantai, menatap surat pembelian kalung hadiah dari Alvaro untuknya. "Mengapa, Kak? Mengapa?" Azlina mengusap air matanya yang mengalir tiada henti. "Mengapa kau membohongiku? Mengapa?"


Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangisi perasaannya yang terlampau gembira dengan ucapan Alvaro semalam. Mimpi indah yang sempat mereka rajut untuk memiliki anak-anak lucu dan menggemaskan masih terbayang di kepala Azlina. Hatinya sakit, begitu sakit hingga tubuhnya tak sanggup lagi untuk ditegakkan.


Almeera tersenyum miring, merasa semua masalah Alvaro terkait Azlina telah berhasil dia selesaikan. "Pergilah! Jangan datang lagi! Biarkan dia bahagia dengan cinta yang sesungguhnya."


Perempuan itu kemudian meninggalkan Azlina, lalu melangkah menemui Mama Rani. Di sana Azlina bisa melihat bagaimana usaha keras Almeera untuk mengakrabkan diri kepada mertuanya. Dia ingin ke sana, memeluk Mama Rani, meleburkan kesedihan yang sama-sama mereka rasakan untuk saling menguatkan, tetapi hal itu urung dia lakukan.


Azlina bisa melihat sorot mata penuh kebencian di mata Mama Rani yang ditujukan kepadanya. Ya, tatapan penuh sayang juga kelembutan yang selama ini ditunjukkan kepada Azlina hilanglah sudah, bergantikam dengan sebuah kilat kemarahan dan kekecewaan yang teramat sangat.


***

__ADS_1


Maaf dikit, 😊


__ADS_2