Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
102. Rindu yang Tertahan


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama lelaki itu tidur sendiri pasca berpisah dengan Azlina. Dia mencoba memejamkan mata, merapatkan kelopak mata itu agar kantuk segera hadir dalam tidurnya. Namun, sepertinya semua hanya sia-sia. Alvaro bahkan tak sanggup untuk menghadirkan kantuk itu dalam dirinya .


Perkataan Mama Rani yang terdengar menyakitkan itu masih membekas dalam ingatannya. Dia harus bisa meyakinkan mamanya itu, meyakinkan jika Azlina bukanlah wanita yang buruk. Mungkin, dia akan melibatkan Almeera. Menyuruh wanita itu mengatakan sejujurnya bahwa apa yang selama ini wanita itu ucapkan hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka. Tidak ada cinta di antara mereka dari dulu sampai saat ini.


...***...


Dua hari berlalu, Mama Rani masih tidak bicara dengan Alvaro. Perempuan itu mendiamkan putra kesayangannya, berharap Alvaro meminta maaf akan perkataannya tempo hari. Dia masih sakit hati dengan kalimat Alvaro yang dianggap kasar.


"Ma, sampai kapan Mama diam begitu?"


Mama Rani tak peduli. Dia mengunyah makanannya dengan senyap, tak memedulikan Alvaro yang sedang berbicara dengannya.


Tak menghabiskan isi piringnya, Mama Rani menenggak segelas air untuk menyelesaikan sarapan paginya. "Mama antar ke depan, ya, Pa." Tanpa menatap Alvaro, Mama Rani beranjak dari duduknya, mendahului yang diantar.


Papa Agus yang melihat sikap dingin sang istri hanya menggelengkan kepala. Dia tersenyum kepada Alvaro, lalu menepuk bahu anaknya itu ketika melewatinya. "Papa ada ide."


Alvaro mengernyit melihat senyum aneh papanya. "Maksud Papa?"


"Kau tahu 'kan jika selama ini Mama begitu menyayangimu? Mama merajuk kepadamu karena kau tak menuruti keinginannya. Tapi, perlu kau ingat seorang ibu tidak akan tega melihat anaknya menderita." Papa Agus menjeda kalimatnya, menunggu Alvaro mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibirnya. Namun, lelaki itu yang biasanya cerdas menelaah sesuatu menjadi mendadak tumpul terkait perasaan seorang wanita.


"Jadi?"

__ADS_1


"Ya, Mama pun tidak akan tega jika melihatmu menderita. Kau bisa memanfaatkan kasih sayang Mama untuk mendapatkan restunya."


Alvaro baru mengerti apa yang dimaksudkan oleh papanya. Dia tersenyum seraya mengangguk menyetujui. Jika dengan cara membujuk tidak bisa mengubah pendirian wanita itu, maka dia akan menjadi seseorang yang terpuruk agar mendapatkan simpati sang Mama.


"Terima kasih, Pa."


Lelaki itu mengusap kepala Alvaro sebelum pada akhirnya melangkah pergi menemui istrinya yang sudah menunggu di depan rumah.


...***...


"Kak, ...."


Suara Azlina terdengar sedikit serak dari seberang sana. Ini adalah malam ke empat di mana sepasang suami istri itu tak bisa saling bertemu.


"Apakah kamu sakit?"


"Heem." Sebuah gelengan Azlina lakukan, tetapi tentu Alvaro tak bisa melihatnya. "Hanya kurang istirahat. Bapak baru pulang tadi siang. Gimana kabar Kakak?"


Sunyi membentang di antara mereka. Pertanyaan sederhana yang Azlina ucapkan mampu mengguyurkan rasa rindu yang telah menekan di dalam jiwa. Alvaro menyunggingkan senyum dengan mengubah posisi tidurnya menjadi miring, meletakkan ponsel itu di depan wajahnya, mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video. Satu tangannya mengeratkan pelukan pada sebuah guling yang sebelumnya sempat dia abaikan.


"Baik. Kakak kangen sama kamu, Zi?"

__ADS_1


Kalimat itu hanya ditanggapi senyuman oleh Azlina. Sedikit aneh mendengar Alvaro menyebutkan diri sebagai "Kakak" kepadanya. Entah mengapa sudut matanya mulai berkaca-kaca. Dia juga rindu, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.


"Mama belum maafin aku, ya, Kak? Pasti Mama sudah terlalu suka dengan Kak Meera. Aku tidak bisa bersaing dengan Kak Meera di hadapan Mama." Azlina berkata lirih, kalimatnya penuh dengan ratapan. Dia menginginkan berkumpul kembali, tetapi merasa tak berdaya untuk memperjuangkan.


"Kamu tenang, ya. Kakak sedang berjuang. Doakan Kakak agar bisa meluluhkan hati Mama."


"Yaa, aku selalu mendoakanmu." Sunyi kembali menyapa, hanya terdengar suara helaan napas dari panggilan video itu, saling menatap, menikmati wajah masing-masing penuh kerinduan. Hingga pikirannya mengingat sesuatu, perempuan itu mengatakan satu hal kepada Alvaro.


"Kak, besok ada pengambilan ijazah. Aku belum memberi tahu Bapak sama Ibuk. Bapak belum pulih benar, sementara Ibuk harus menjaga Bapak di rumah. Apakah aku meminta bantuan Bang Ahsan saja untuk mengambilkannya?" Azlina bertanya sekaligus memberikan inisiatif lain, tetapi Alvaro segera mencegahnya.


"Jangan! Jangan memberi tahu siapa-siapa. Kakak yang akan mengambilkannya untukmu."


"Kakak enggak kerja?"


"Heem, Kakak bisa mengatur waktunya." Alvaro melirik jam dinding di kamarnya, sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Seharusnya Azlina beristirahat, tetapi dia justru mengganggu istri kecilnya itu. "Sudah malam. Tidurlah! Kita ketemu besok, ya?" Lelaki itu tersenyum setelah mengucapkannya. "Pakai kebaya, ya? Pasti kamu sangat cantik."


Azlina hanya mengulum senyum, mengangguk. "Iya, pakai kebaya. Besok Kakak akan melihatnya, 'kan?"


"Tentu. Kakak tidak akan melewatkan itu. Kita akan foto bersama. Sekarang kamu tidur, ya? Mimpi indah."


Dia mengangguk, patuh dengan perintah Alvaro. "Kakak juga."

__ADS_1


Panggilan video itu berakhir dengan saling mengungkapkan kata cinta. Senyum tak bisa disembunyikan dari wajah Azlina. Ada rasa senang menyeruak di hatinya. Ya, besok dia bisa bertemu dengan Alvaro lagi, dan lelaki itu akan menjadi walinya untuk mengambilkan ijazah sekolah di hari wisuda pelepasan siswa. Dia mulai memejamkan mata, berharap mimpi indah segera merasuk dalam tidur lelapnya.


》Lagi, ya ... Tinggalkan jejak 😁✌


__ADS_2