Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
123. Terlelap Dalam Buaian


__ADS_3

Tanpa memedulikan semua orang, Alvaro meninggalkan orang-orang tersebut, memilih menyusul Azlina ke atas, menuju kamar sang istri.


Perlahan Alvaro memelankan langkahnya ketika sudah berada di depan pintu kamar Azlina. Dia mematung sejenak, menatap pintu kamar yang beberapa waktu memberinya kenangan manis dengan perempuan itu. Apakah semua akan berakhir sekarang?


Sungguh kejam jika mereka semua masih berada dalam ego masing-masing untuk tetap dalam pendirian memisahkan dirinya dan Azlina. Lelaki itu memutar kenop pintu, begitu pintu terbuka, matanya disuguhkan dengan kamar yang gelap gulita. Hanya seberkas cahaya matahari yang masuk melewati ventilasi udara mampu menerangi sedikit ruangan itu.


Azlina tidur dengan tengkurap, membenamkan wajahnya di bantal dengan tubuh yang bergetar karena isak tangis. Alvaro bisa mendengar senggukan-senggukan kecil yang keluar dari bibir perempuan itu.


Kakinya melangkah perlahan, lalu terhenti tepat di sisi ranjang Azlina. Dia duduk di sisi yang kosong tanpa membuat suara sama sekali, begitu senyap sehingga Azlina tak menyadari jika dirinya telah berada di kamar tersebut.


"Zi!" Dia memanggil dengan mengusap kepala perempuan itu, membelai rambut panjangnya yang tergerai.


Suara Alvaro yang khas dan lembut menarik perhatian Azlina. Dia mengusap tangisnya, lalu berbalik menghadap ke arah lelaki itu.


Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan bahwa lelaki itu telah berada di kamarnya, bersamanya. Dia mengubah posisinya menjadi duduk, lalu berhambur memeluk lelaki itu.


"Kakak, ...." Tangis Azlina pecah, tetapi dibenamkan di dada lelaki itu.

__ADS_1


Alvaro bisa merasakan getaram tubuh Azlina. Entah apa yang baru saja terjadi, yang jelas semua itu pasti begitu melukai hati perempuan yang berada dalam dekapannya itu.


"Maafin Kakak, ya. Kamu baik-baik saja, 'kan, Sayang?" Alvaro mengecup pucuk kepala Azlina, begitu rindu dirinya dengan perempuan itu.


Dalam dekapannya, dia tak ingin melepaskan wanita yang telah berhasil mengambil sebagian hatinya, mengisi kekosongan jiwanya. Sudah lama sekali dia mendambakan berumah tangga dengan seseorang yang bisa merengkuh hatinya, tetapi ketika cinta itu telah tumbuh dan berkembang, ujian justru datang dari keluarganya.


Mungkin Tuhan telah memberinya pelajaran, karena sempat berniat mempermainkan sebuah pernikahan yang sesungguhnya begitu suci dan tidak patut dijadikan sebuah candaan.


Alvaro menyadari itu, sehingga dia tak menyalahkan siapa pun, mencoba menerima keadaan yang ada dengan tetap berusaha dan berdoa kepada Tuhan sang pembolak-balikkan hati manusia.


...***...


Sebelum pergi, Alvaro mencium kening Azlina dan berbisik lirih, yang lebih tepat disebut sebagai pengungkapan sebuah janji. "Kakak akan memperjduangkanmu, Zi. Kita akan bersama-sama lagi."


Satu kecupan di bibir mengakhiri pertemuannya dengan Azlina. Dia menegakkan tubuh, lalu berbalik memunggungi sang istri untuk keluar dari ruangan itu, meninggalkan separuh hatinya di rumah tersebut.


Pintu itu ditutup oleh Alvaro dari luar. Pandangannya mengarah ke bawah di mana Mama Rani tampak sudah meninggalkan rumah itu, Alvaro tak melihat mamanya lagi. Entah apa yang mereka bicarakan, sehingga semuanya terlihat lebih tenang.

__ADS_1


Lelaki itu turun perlahan, kendati begitu berat melangkah karena sang belahan jiwa telah tertinggal di sana. Pandangan orang-orang di bawah sana sedang mengawasinya, tetapi dia sama sekali tak terlihat peduli. Sampai ketika kakinya sudah menapak pada anak tangga terakhir, suara Pak Samsul terdengar parau memanggilnya.


"Alvaro!"


Dia menoleh ke arah pria berkain sarung itu, menatapnya dengan hormat. Tanpa menjawab, Alvaro mengangguk, menunggu perkataan Pak Samsul selanjutnya.


"Bujuk mamamu sekali lagi. Kau sudah dewasa, kau pasti bisa melakukannya. Restu orang tua sangat penting untuk kelangsungan rumah tangga kalian. Jika memang sudah tidak bisa dipertahankan, mungkin memang takdir kalian bersama hanya sampai di sini. Allah pasti memiliki rencana lain untuk kalian berdua. Meskipun tidak kalian sukai, tetapi belum tentu itu tidak baik untuk masa depan kalian berdua."


Alvaro mengangguk, berusaha mencerna nasihat dari baoak mertuanya. Apa pun itu, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membawa Azlina bersamanya.


Lelaki berusia kepala tiga itu tampak menghela napas perlahan, lalu berpamitan kepada kedua mertuanya. Dalam hati dirinya berharap masih memiliki kesempatan untuk bersama, membahagiakan sang istri dan memiliki anak-anak lucu yang bisa dia banggakan.


...***...


》Lanjut, ya ...


🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2