
Ruangan itu tampak rapi dengan satu meja besar berada di depan kursi putar. Tampaknya itu adalah meja kerja Alvaro jika dilihat dari nama yang tertera di atasnya.
Azlina memilih duduk di sofa panjang berwarna hitam berbahan bludru yang terdapat di sisi dekat pintu. Dia merebahkan tubuhnya di sana. Berada di ruangan ber-AC sendirian pastilah membuatnya bosan, hingga dia memilih untuk membuka sosial media sembari tidur-tiduran di atas sofa itu.
Azlina tampak mulai mengantuk. Menunggu Alvaro dalam waktu lama tak bisa membuatnya bertahan dengan rasa kantuk yang menyerang. Matanya mulai menyipit yang makin lama semakin redup dan berakhir terpejam. Azlina tertidur dia atas sofa itu berbantalkan tas sekolahnya dengan ponsel berada di atas tubuhnya.
"Al, apakah kau sibuk?" Seorang pria mengenakan stelan kerja tiba-tiba membuka pintu ruangan Alvaro. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Matanya mengedar ke segala penjuru dan tak mendapati Alvaro di mana pun. Hingga ketika dia menoleh ke arah sofa panjang yang terletak berdekatan dengan pintu, lelaki itu terkesiap mendapati gadis berseragam sekolah tertidur pulas di sana.
Dia melangkah mendekat dengan langkah senyap, tak ingin mengganggu tidur gadis itu. Langkahnya terhenti tepat ketika lututnya menyentuh ujung sofa. Dia membungkuk, mengamati wajah kelelahan dengan mulut sedikit terbuka. Napas gadis itu naik turun dengan teratur menandakan si pemilik tubuh sudah terbuai dalam mimpi indahnya.
Pria itu menunduk, ingin menyibakkan anakan rambut yang terlihat menutupi wajah cantik itu. Akan tetapi, tepat ketika lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut gadis itu, sebuah tangan mendorongnya ke belakang.
"Apa yang kau lakukan?!" ucap lelaki itu dengan meninggikan suaranya.
Dia adalah Alvaro, menatap penuh murka dengan seseorang yang hampir menyentuh Azlina. Alvaro melepaskan jas dari tubuhnya, lalu menutupkannya ke tubuh Azlina. Gadis itu masih memejamkan mata, seolah-olah tak terganggu dengan keributan yang terjadi di sekelilingnya.
"Kau salah paham. Aku tidak melakukan apa-apa." Lelaki itu berdiri setelah jatuh terjerembab ke lantai. Dia mengibas-ngibaskan bagian belakang celananya yang menyentuh lantai.
"Siapa yang menyuruhmu datang!"
__ADS_1
"Ayolah, Al! Aku memiliki informasi penting terkait Almeera. Kau pasti sangat tertarik dengan informasi yang aku dapatkan." Terlihat seringai licik menghiasi wajah lelaki itu.
"Aku tidak membutuhkannya. Aku bisa berusaha sendiri. Keluarlah!"
"Kau mengusirku?" Lelaki itu mengernyit dengan reaksi Alvaro yang tidak tertarik akan informasi terkait Almeera. Biasanya Alvaro akan memberinya uang atau benda berharga ketika dia berhasil mendapatkan informasi yang dianggap penting bagi Alvaro. Akan tetapi, apa yang baru saja terjadi tampaknya tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Ya, apakah kau mulai tuli?"
"Bukan urusanmu! Sekarang, keluar!"
"Al!"
__ADS_1
"Keluar! Aku bilang keluar, Soni!" Alvaro membuka lebar-lebar pintu itu, mempersilakan pria di depannya agar segera pergi dari ruang kerjanya.
Lelaki itu tampak mengentakkan kaki, lalu pergi dari ruangan Alvaro tanpa menoleh lagi.
Alvaro segera menutup pintu ruangannya rapat, lalu menguncinya. Beruntung dia segera datang. Jika tidak entah apa yang akan dilakukan oleh Soni--teman SMA-nya--kepada Azlina. Pria itu berada di Divisi keuangan sebagai staf administrasi pencatatan utang dalam aktivitas produksi. Alvaro begitu mengenal Soni, sehingga dia bisa menebak hal buruk lain jika lelaki itu dibiarkan berada dalam ruangan bersama seorang gadis cantik yang tidur terlelap.
Dia melangkah kemudian, mendekat ke sofa panjang yang kini digunakan oleh Azlina berbaring. Gadis itu masih terlelap, sama sekali tak terganggu dengan pertikaian Alvaro dengan Soni.
"Cil, bangun!" Alvaro menepuk-nepuk pipi Azlina perlahan. Gadis itu mengerjap, lalu menguap dengan telapak tangan menutup mulutnya yang terbuka.
"Kakak, kapan kembali?" Dia bangkit dari tidurnya, mengubah posisi menjadi duduk. Azlina menyentuh jas yang melorot dari tubuhnya, menggenggam pinggirannya seraya tersenyum.
"Eh, ini punya Kakak? Sejak kapan aku menggunakannya?"
Alvaro mengusap kepala Azlina seraya mengatakan, "Sudahlah! Ayo, kita pulang! Bukankah kau harus bersiap untuk ke pesta itu."
Azlina mengangguk patuh seraya menjawab, "Heeem, baiklah!"
Dia beranjak dari duduknya, menyerahkan jas itu kepada Alvaro, lalu bersiap untuk segera pulang ke rumah.
》Next, ya ....
__ADS_1