Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
67. Istri Selamanya


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Alvaro baru keluar dari perusahaan. Dia berlari-lari kecil agar segera mencapai parkiran mobil. Sudah pukul sepuluh malam, Azlina pasti sudah menunggunya, mungkin gadis itu akan sangat kesal kepadanya. Alvaro sudah membayangkan wajah Azlina yang merajuk dengan pipi mengembung menggemaskan.


Lelaki itu segera melaju ke tempat Almeera untuk mengambil hadiah yang tadi dipesannya. Dia meraih ponsel yang ada di saku jasnya, memastikan lokasi Almeera saat ini. Namun, matanya tertuju dengan rentetan panggilam dan pesan Azlina kepadanya. Lelaki itu bisa memastikan betapa marahnya istrinya itu. Memilih abai, Alvaro segera menghubungi Almeera untuk mempercepat tujuannya untuk merayakan ulang tahun sang istri.


Sebuah panggilan dilakukan Alvaro dan dapat diketahui jika malam ini Almeera masih berada di rumah temannya, sehingga lelaki itu harus menjemput perempuan itu terlebih dulu untuk mendapatkan hadiahnya.


Alvaro bergegas melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan yang memang sudah sangat sepi karena semua karyawan telah pulang jauh sebelum dia keluar dari ruangannya.


Hampir dua puluh menit berlalu, Alvaro berhenti di sebuah rumah berpagar tinggi dengan dominasi warna putih. Lelaki itu segera menghubungi Almeera agar keluar dari rumah itu. Tak lupa juga dia mengirimkan pesan kepada teman Mama Rani yang pandai membuat kue agar menyiapkan kue ulang tahun Azlina yang sudah dia pesan beberapa hari sebelumnya.


"Al!"


Almeera mengetuk jendela kaca itu, membungkuk menunggu Alvaro membukakan pintu. Tanpa banyak bicara Alvaro segera membuka lebar pintu itu dengan Almeera segera masuk ke dalamnya.


"Maaf merepotkanmu."


"Tidak apa. Hanya masalah kecil. Apakah kau tidak terlalu malam merayakan ulang tahun istrimu?"


Alvaro terkekeh kecil menanggapi. "Yaah, dia pasti marah kepadaku. Aku belum sempat menghubunginya."


Almeera mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang bertuliskan huruf A di sana. Almeera membelikan kado sebuah kalung minimalis untuk hadiah ulang tahun Azlina. "Waktunya terlalu sedikit. Aku tidak sempat memikirkan hal lain. Jadi aku berpikir jika wanita akan suka jika diberi perhiasan. Maaf jika tidak terlalu bagus."


Alvaro membukanya sebentar, lalu menutupnya lagi. "Indah. Pilihanmu pasti sangat indah. Terima kasih."


Lelaki itu mulai melajukan mobilnya, meninggalkan rumah besar teman Almeera, bergegas mengantar Almeera pulang ke rumahnya.


Jalanan itu tampak lenggang, mungkin karena waktu sudah hampir tengah hari sehingga Alvaro bisa melajukan mobilnya tanpa ada hambatan yang berarti.


"Kau sangat sibuk akhir-akhir ini?" Almeera bertanya, memecah keheningan yang sempat tercipta.


Alvaro mengangguk seraya tersenyum. "Begitulah. Kau lihat jam berapa aku baru keluar dari kantor."


"Yaah, kau pasti tak sempat memikirkan kondisimu sendiri. Tapi aku senang melihat laki-laki yang semangat bekerja."

__ADS_1


Alvaro hanya melirik sekilas ke arah Almeera dengan tetap mempertahankan senyumnya. "Ya, demi masa depan. Aku akan bekerja keras untuk membahagiakan anak istriku nanti."


Wajah Almeera bersemu mendengar kalimat Alvaro. Dia merasa sebagai wanita yang disebut istri itu, karena dia tahu bagaimana perasaan Alvaro yang begitu besar kepadanya. "Aku lihat kau mudah tersenyum saat ini. Kau terlihat lelah, tetapi terlihat bahagia juga."


"Begitukah?" Alvaro kembali tertawa. "Semua karena cinta. Aku sudah tidak sabar mengakhiri permainan yang telah kubuat sendiri. Aku ingin mengungkapkan perasaanku sesungguhnya dan menyelesaikan semuanya." Lelaki itu masih terfokus ke depan, berbicara tanpa menatap wajah Almeera yang terlihat bahagia mendengar perkataannya. "Aku takut terlambat melakukannya, sehingga semuanya harus selesai malam ini."


"Aku akan mendukung apapun yang kau putuskan, Al. Kau pasti sudah memikirkan semuanya dengan baik." Almeera menimpali, tak bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya.


Hingga mobil Alvaro telah sampai di depan kediaman Almeera. Perempuan itu pamit undur diri seraya mencium pipi Alvaro, membuat lelaki itu terkejut dengan membelalakkan matanya. Sepertinya harus ada yang diluruskan saat ini, hingga Alvaro menahan tangan Almeera yang hendak keluar dari mobilnya.


Perempuan itu menoleh begitu merasakan tangannya dicekal oleh Alvaro.


"Ada apa?"


"Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu." Alvaro bersikap tegas, tak ingin banyak berbasa-basi.


"Sudah malam, Al. Kau akan terlambat merayakan pesta kejutan untuk istrimu. Kita bisa bicara besok."


"Tapi, ...."


Tanpa menunggu Alvaro pergi, Almeera sudah memasuki gerbang rumahnya, lalu berlari masuk ke dalam. Sungguh detak jantungnya tak bisa dikendalikan. Dia merasa setiap perkataan Alvaro mampu memporak-porandakan perasaannya. Apakah lelaki itu adalah jodoh sebenarnya setelah Elang sempat mengkhianatinya?


Almeera tersenyum sembari menggelengkan kepala, merasa konyol dengan sikapnya sendiri. Dari balik korden dia mengintip mobil Alvaro yang sudah mulai pergi meninggalkan rumahnya. Dia kembali menyunggingkan senyum lebarnya, merasakan hal bahagia yang sebenarnya hanya ilusinya semata.


...***...


Di kesunyian malam yang terasa begitu dingin itu tak membuat Azlina sanggup memejamkan mata. Dia bisa melihat pesannya sudah dibaca oleh Alvaro, tetapi lelaki itu tak membalasnya satu pun. Azlina semakin kesal menyadari lelaki itu sengaja mengabaikannya dan membiarkan dirinya menunggu tanpa kepastian. Mengapa Alvaro sejahat itu?


Mengapa harus mengerjainya di hari ulang tahunnya?


Hingga bulir bening itu menetes di sudut mata, tak sanggup menapung rasa sakit di hati serta jiwanya. Lelaki itu telah membohonginya, menghancurkan perasaannya dengan cara yang menyakitkan.


Azlina masih berdiri di atas balkon kamarnya, menatap bintang-bintang yang merupakan temannya di malam yang kelam. Disekanya air mata itu dengan kasar yang sepertinya tak mau berhenti, tak mau menuruti keinginannya.

__ADS_1


Sampai ketika terdengar ledakan dari bawah sana, mencuat ke atas, menyemburkan kilatan cahaya indah dengan cipratan warna-warni.


Azlina sempat terkejut, menatap indahnya kembang api yang baru saja dinyalakan, meledak di angkasa.


Ada yang tak biasa dari ledakan kembang api itu. Di sana jelas tertulis kalimat "I love you".


Azlina menutup mulutnya seakan tak percaya. Dia melihat ke bawah dan di sana ada Alvaro sedang tersenyum ke arahnya. Lelaki itu menyalakan kembang api sekali lagi dan kali ini menyuruh Pak Security untuk membantu menyalakannya.


Lelaki itu berlari masuk setelah menyerahkan urusan kembang api kepada Pak Security. Dengan bersemangat dan senyum mengembang dia membawa kue ulang tahun yang sudah dinyalakan lilin di atasnya. Dia sudah tak sabar memberitahu Azlina akan perasannya.


Di sana, Azlina beridiri di atas balkon sembari menatap cipratan cahaya indah dari ledakan kembang api itu. Perempuan itu menoleh ketika mendengar suara Alvaro menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepadanya.


Azlina menangis haru, tak menyangka jika Alvaro ternyata tak membohonginya. Dia mengusap air mata yang sempat berderai sebelumnya, lalu menyunggingkan senyum bahagia.


Lelaki itu tampak letih jika dilihat dari gurat di wajahnya. Kemeja yang tiga kancing atasnya sudah dilepas dengan dasi sudah dilonggarkan ke bawah. Sementara lengannya telah digulung sebatas siku, memperlihatkan tangan berotot miliknya.


Kendati penampilan Alvaro tampak berantakan, tak mengurangi ketampanan lelaki itu. Azlina merasa lelaki itu kian menawan dengan tampilannya yang apa adanya itu.


"Make a wish!"


Azlina mengangguk seraya memejamkan mata. Dia meniup lilin berbentuk angka sembilan belas tahun itu dengan raut gembira.


"Selamat ulang tahun, ya!" Alvaro menghadiahi kecupan di kening Azlina yang ditanggapi senyuman serta anggukan perempuan itu.


"Kak, apa maksud dari kembang api itu?"


Alvaro terkekeh ringan, dia meletakkan kue itu di atas meja di sisi balkon. Tangannya merogoh sesuatu dari saku celananya. "Apalagi?" Lelaki itu semakin mendekat ke arah Azlina, merapatkan tubuhnya ke arah perempuan itu. "Aku mencintaimu, Zi. Aku ingin kau menjadi istriku sesungguhnya. Bukan istri sementara seperti kesepakatan kita sebelumnya. Maukah kau hidup bersamaku hingga menua nanti?"


Pandangan Azlina kembali berkaca-kaca, tak menyangka jika inilah hadiah Alvaro yang sesungguhnya. Dia takut terlalu nyaman dengan Alvaro, menutup rapat hatinya agar tidak jatuh cinta. Dia takut jika ketika mereka berpisah, tak sanggup melupakan sikap manis lelaki itu kepadanya. Namun, sepertinya hal itu tidak perlu dicemaskan lagi karena Alvaro ternyata merasakan hal yang sama.


"Kak!"


"Aku berjanji akan membahagiakanmu. Maukah kau menjadi istriku selamanya?"

__ADS_1


》Sudah capek jempolnya. Nanti lanjut lagi. Terima kasih sudah meninggalkan jejak dan dukungan kepada Author. 😊😊


__ADS_2