
Perkataan dokter yang baru saja masuk kembali ke ruangan Alvaro menarik perhatian Almeera. Perempuan itu melangkah mendekat ke arah Mama Rani dan Azlina yang masih berpelukan. Dia memberanikan diri untuk mengurai rasa saling menguatkan antara mertua dan menantu itu.
"Siang, Tante!"
Almeera mencoba bersikap ramah dengan menyunggingkan senyum di bibir.
Mama Rani yang semula memeluk Azlina sembari memejamkan mata karena menahan tangis, akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah Almeera. Keningnya mengernyit melihat seorang wanita cantik datang menemuinya.
"Saya Almeera teman Alvaro. Saya ada di tempat saat kejadian berlangsung. Kami berdua yang membawa Alvaro ke rumah sakit ini dengan bantuan sopir tentunya."
Mama Rani hanya mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih. Tangannya tak melepaskan pelukan dari menantu kesayangannya. Sikap penuh kehangatan perempuan paruh baya itu kepada Azlina membuat Almeera iri. Seharusnya dia yang berada di sana, bukan gadis SMA itu.
"Apalah Alvaro alergi udang?"
Mama Rani kembali menoleh, tetapi kali ini pandangannya tampak serius menatap Almeera. "Ya, kami tidak pernah makan udang karena Alvaro memiliki reaksi berlebihan jika menyangkut udang."
Azlina yang mendengar itu membelalakkan matanya, terkejut dengan ucapan Mama Rani. "Apa Ma?"
"Kami tidak pernah menyetok udang di rumah, ataupun memesan makanan yang berbahan udang. Apakah kamu pernah makan udang selama di rumah? Tidak pernah kan, Sayang."
Azlina menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Air matanya mengalir semakin deras. "Zizi pelakunya. Zizi yang membuat Kakak begini. Zizi memasukkan udang di makanan itu, Ma. Maaf!"
"Apa kamu bilang?" Mama Rani bertanya dengan melonggarkan pelukannya kepada Azlina. "Katakan! Apa yang terjadi?!" Suara Mama Rani meninggi, membuat Azlina makin gemetar dalam tangisnya.
"Zizi membuat siomay untuk Kakak, lalu mencampurkan udang ke dalamnya. Maaf, Ma ...."
"Kau ... mencampurkan udang ke dalam makanan Alvaro? Tidak mungkin, kita tidak pernah mempunyai persediaan udang."
"Zizi memesan via online, Ma." Azlina tak bisa menyembunyikan rasa menyesalnya. Jika ada apa-apa dengan Alvaro, dialah yang patut disalahkan. Dia yang menyebabkan Alvaro kesulitan untuk bernapas hingga berada di ruangan menyeramkan itu dalam posisi meregang nyawa.
__ADS_1
"Jangan bercanda, Zi!"
Azlina menggeleng, menunjukkan jika semua perkataannya adalah benar adanya. Dia tahu jika selama ini tak pernah ada menu udang di rumah Alvaro, tetapi dia tak tahu jika Alvarolah yang alergi terhadap udang. Namun, hari ini dia justru mencampurkan udang ke dalam makanan yang dia masak untuk lelaki itu.
"Ya, ampun." Mama Rani melepaskan pelukannya dari Azlina, dia memejamkan mata sembari memijat pelipisnya. "Mengapa kamu tak menanyakannya kepada para pelayan. Semua pelayan tahu jika udang dilarang di rumah kita."
"Maafkan Zizi, Ma."
Azlina meraih tangan Mama Rani, tetapi perempuan itu tampaknya tak mau menanggapi. Tangan Azlina ditepis ringan olehnya, menunjukkan sikap sarat akan penolakan.
"Jangan salahkan dia, Tante. Dia tidak mungkin mau tahu apa yang disukai atau tidak disukai Alvaro, bahkan tentang pantangan makanan yang harus dihindari oleh Alvaro, dia tidak akan pernah mau peduli."
Mama Rani mengalihkan perhatian kepada Almeera. Dia masih heran dengan sosok di depannya, seolah-olah merasa dirinya patut untuk diperhatikan, membuat Mama Rani tak menyukainya. "Apa maksudmu?"
Merasa ditanggapi oleh Mama Rani, Almeera tersenyum senang. Dia melangkah mendekat, lalu mengucapkan, "Karena mereka tidak saling mencintai. Pernikahan mereka hanya sebuah sandiwara."
Azlina ternganga dengan ucapan Almeera, mengapa perempuan itu begitu ikut campur urusan rumah tangganya? "Kak Meera!"
"Ya, saya sudah tahu semuanya. Menantu kesayangan Tante itu memiliki kekasih di sekolahnya. Hubungan mereka masih berlangsung hingga sekarang. Dia tidak mencintai Alvaro karena sudah mencintai laki-laki lain."
Azlina menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan Almeera. Bagaimana di situasi seperti ini dia bisa membahas masalah itu. Tak adakah empatinya dengan tidak memperkeruh suasana? Perkataan Almeera itu bagaikan minyak tanah yang disiramkan di tempat kebakaran.
"Apa kau bilang?" Mama Rani beralih menatap Azlina. Sorot matanya penuh dengan tuntutan jawaban akan sebuah pertanyaan. "Apakah benar kau memiliki kekasih di sekolah?"
Azlina menggeleng. Air matanya tak henti membasahi pipi. Dia harus menjawab apa? Memang kenyataannya demikian, jika dia masih berstatus pacar Elang. Namun, semua itu juga atas persetujuan Alvaro dan Azlina juga berniat mengakhiri hubungan itu karena dia dan Alvaro sudah memutuskan bersama.
Melihat Azlina hanya menggeleng dan bungkam, Almeera mengeluarkan ponselnya, menunjukkan akun media sosial milik Elang yang terdapat banyak foto romantis bersama Azlina untuk ditunjukkan kepada Mama Rani.
"Ini buktinya. Dia adalah kekasih menantu Tante. Foto ini baru beberapa hari yang lalu diposting. Ini foto saat mereka berkencan."
__ADS_1
Mama Rani membuka satu per satu foto Azlina bersama Elang yang berkencan di pasar malam saat itu. Foto nonton film dan makan di sebuah pusat perbelanjaan pun tak luput diunggah oleh Elang di akun sosial medianya. Tatapan Mama Rani beralih kepada Azlina, menatap penuh rasa kecewa. Dia tak menyangka jika gadis yang terlihat polos ternyata mampu dan berani berselingkuh di belakang putranya.
"Jelaskan dari semua ini?!"
Azlina hanya bisa menggeleng sambil menangis. Dia bingung harus mengatakan apa. Namun, Almeera justru menjadi sumbu kompor yang selalu berusaha menyulut pertengkaran dan kesalahpahaman itu.
"Bukan hanya itu. Dia juga enggan melayani Alvaro dengan baik. Saya sudah menasihati Alvaro, tetapi dia masih membelanya. Tante tanya saja, apakah selama ini dia pernah berhubungan dengan Alvaro layaknya suami istri?"
Mama Rani mencengkeram bahu Azlina, lalu mengguncangnya. "Jadi kamu belum mau merelakan dirimu untuk putraku setelah semua yang dia lakukan untukmu? Kau menyiksanya dengan membiarkan dia menahan diri atas haknya kepadamu. Ingat! Kau itu istrinya, Azlina!"
"Maaf, Ma ...." Hanya itu yang bisa Azlina katakan. Dia tak sanggup mengatakan apa-apa karena semua tuduhan itu benar adanya. Dia ingin membela diri, tetapi tak tahu cara mengungkapkannya.
"Pergi! Jangan temui Alvaro lagi. Kau hanya membawa kesialan bagi putraku. Pergi!"
"Ma ...."
"Aku bukan mama mertuamu lagi. Aku akan menyuruh Alvaro menceraikanmu segera. Pergi dari sini! Aku tidak sudi melihatmu lagi!" Mama Rani berteriak ingin memukul Azlina, tetapi Almeera segera menahannya.
"Tenang, Tante!" Almeera menenangkan perempuan itu, mengusap-usap punggungnya.
Mama Rani hanya memejamkan mata, tak sanggup menahan rasa sakit dan kesedihan di hatinya. "Alvaro maafkan Mama, Nak. Mama salah menikahkanmu ...."
Azlina masih menangis mendengar kalimat Mama Rani yang menyakitkan itu. Dia tak sanggup berkata apa-apa. Suaranya tertahan di tenggorokan. Dia sedih, menyesal, dan ketakutan jika terjadi sesuatu kepada Alvaro karena ulahnya. Dia ingin menghampiri Mama Rani yang sedang menangis itu, tetapi Almeera segera menghadangnya.
"Pergi kamu! Jangan pernah datang lagi! Aku tidak menyangka kau bisa mencelakai Alvaro karena ingin segera terbebas dengannya!" Almeera mengeluarkan kotak berbentuk hati yang dia temukan ketika Alvaro terjatuh tadi, lalu membukanya di depan Azlina.
"Sebenarnya kau tak perlu menyakiti Alvaro, karena dia akan secepatnya mengakhiri pernikahan kalian. Dia sudah menyiapkan cincin ini untukku, tetapi kau merusak segalanya. Dasar perempuan tidak tahu diri kamu!"
Almeera mendorong tubuh Azlina, mengusir perempuan itu yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Itu adalah desain cincin yang dikirimkan Azlina ke kantor Alvaro, dan berlian yang bertahtahkan di atasnya adalah berlian jenis vivid light, berlian merah jambu yang begitu terkenal di dunia perhiasan. Mengapa Alvaro begitu tega dengan menghadiahkan semua itu untuk Almeera?
__ADS_1
》Next! Masih sy ketik. Sabar. 😁