Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
109. Membujuk Alvaro


__ADS_3

Di ruangan itu, tak ubahnya seperti tempat kerja yang dipindahkan. Alvaro sibuk dengan komputernya di dalam kamar. Dia memang bekerja di rumah, melakukan meeting secara virtual, sama sekali tak ingin keluar dari ruangan pribadinya itu.


Pintu dikunci dari dalam, hanya ketika pelayan yang sudah bersekongkol dengannya membawakan makanan secara diam-diamlah pintu itu dibuka.


Dia ingin melihat reaksi mamanya, apakah masih tetap kekeh memisahkan dirinya dengan Azlina. Apakah perempuan yang telah melahirkannya itu tega melihat masa depan anaknya hancur hanya karena egonya semata.


Sebuah pigura kecil yang diletakkan di atas meja, kini menjadi perhatian Alvaro. Tangannya meraih pigura itu, mengusap-usapkan ibu jarinya di permukaan kaca bening tersebut. Itu adalah fotonya bersama Azlina ketika acara wisuda sang istri beberapa hari yang lalu.


Perlahan tangannya mengangkat pigura itu, membawanya dengan kedua tangan. Rindu seketika membelenggu, menyiksa kalbu. Alvaro tak bisa menahan rasa itu, ingin sekali berjumpa dengan Azlina, menumpahkan perasaan rindu dan cintanya yang menggebu. Namun, bagaimana bisa? Sementara mamanya pasti akan curiga jika dia memutuskan keluar dari kamar.


"Sabar, ya. Kakak pasti akan membawamu kembali."


Alvaro bergumam sendiri, mencium wajah berseri Azlina di pigura tersebut. Impiannya memiliki keluarga kecil sudah di depan mata, tetapi dia harus memperjuangkan semua itu jika ingin meraihnya.

__ADS_1


Tepat ketika Alvaro meletakkan pigura itu kembali ke atas meja, suara ketukan di pintu terdengar di telinganya. Dia mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah pintu, lalu menghela napas kasar.


"Al, buka pintunya. Ada Almeera di sini."


Tak ada sahutan dari gedoran di pintu. Alvaro justru pindah ke tempat tidur, berbaring di sana sembari membawa pigura foto Azlina bersamanya.


"Al, Mama mohon keluarlah! Jangan sakiti dirimu dengan mengurung diri seperti itu! Azlina tak pantas mendapatkan pengorbananmu yang sangat besar. Kamu harusnya lebih tegas sebagai kepala rumah tangga."


Perempuan paruh baya itu akhirnya berhenti mengetuk pintu, pergi dari depan kamar Alvaro, menuruni anak tangga untuk menemui Almeera. Wajahnya begitu masam karena tak berhasil meyakinkan Alvaro agar mau membuka pintu.


Almeera menyambut Mama Rani dengan senyum anggun yang menyenangkan. Dia mengajak Mama Rani duduk di sofa panjang ruang tamu.


"Dia tidak mau membuka pintu. Tante sudah bingung bagaimana cara membujuk Alvaro keluar. Tante takut dia kenapa-napa."

__ADS_1


"Sabar, Tan. Kita bisa membujuknya pelan-pelan. Apakah mungkin Azlina yang menyuruhnya melakukan semua itu? Jujur saja, saya curiga akan hal itu. Saya mengenal Alvaro cukup lama. Dia lelaki dewasa yang selalu mau menghadapi masalahnya dengan benar, bukan main merajuk seperti ini."


Almeera mencoba memengaruhi Mama Rani. Dia sempat takut ketika Sean Paderson meenanyakan tentang pekerjaannya, sehingga apabila ada suatu hal yang membuat kariernya hancur, dia masih memiliki Alvaro sebagai penopang hidup mewahnya.


"Tante juga berpikir seperti itu, tetapi ...." Perkataan Mama Rani menggantung. Perempuan itu sedikit ragu akan pikirannya. Apakah yang dia lakukan sudah benar, atau hanya dirinya yang tak mau mengakui kesalahannya karena kesalahpahaman yang selama ini telah Alvaro jelaskan kepadanya?


Rasa gengsi untuk meminta maaf membuat dia gelap mata, membutakan hati akan kebenaran yang sudah jelas berada di depan mata. Namun, dia tetap terluka melihat Alvaro tak juga mau membuka pintu untuk sekadar bertatap muka dengannya. Apalagi lelaki itu adalah anak semata wayangnya, tempatnya mencurahkan segala kasih sayang. Dan kali ini, dia merasa ada yang kurang dalam hidupnya, tetapi tetap saja keras kepala untuk bersikeras akan kehendaknya sendiri.


"Tante tenang saja, ya. Besok saya ke sini lagi, mencoba membujuk Alvaro lagi." Almeera berkata dengan mengusap tangan Mama Rani, mencoba meyakinkan wanita itu jika dirinya bisa mengambil hati Alvaro lagi.


***


》Ke bawah lagi ... 🤭

__ADS_1


__ADS_2