Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
136. Rencana Awal


__ADS_3

Pertanyaan itu tentu tak bisa dijawab oleh Alvaro. Dia belum memiliki rencana matang ketika dirinya menyusul Azlina sampai ke Paris. Dalam benaknya saat itu hanya ingin bertemu, memeluk Azlina lantaran terlalu rindu dengan perempuan yang sudah mengambil separuh jiwanya itu.


Kini, Alvaro hanya bisa menggenggam kedua tangan Azlina, menatap manik bulat hitam yang sepertinya tengah menahan pergolakan rasa di dalam hati. "Hanya satu minggu. Kakak akan kembali setelahnya ...."


Azlina tersenyum tipis, berusaha bersikap tenang dan mendukung apa pun yang Alvaro putuskan kendatipun perpisahan untuk sementara itu memang tak bisa terelakkan. Azlina paham jika Alvaro mengemban tugas penting di perusahaan papanya, sehinhga Azlina tidak terlalu banyak menuntut lelaki itu agar mengikutinya ke tempat ini. Bukankah ini cita-citanya? Jadi, dia harus menerima konsekuensinya untuk hidup berjauhan dengan lelaki itu.


Namun, perkataan Alvaro selanjutnya cukup menyejukkkan, seperti sebuah angin segar berembus di hati Azlina. Dengan sorot mata yang lembut menatap sang istri, lelaki itu berkata, "Kakak akan kembali ke sini, membangun usaha di sini. Kakak harap kamu mau mendampingi Kakak membangun usaha itu mulai dari awal."


"Apakah Kakak yakin?"


"Heem, Kakak ingin buktikan kepada Papa bahwa Kakak bisa memiliki usaha sendiri. Meskipun suatu saat usaha Papa akan berpindah ke Kakak, tapi Kakak ingin merasakan memulai usaha dari nol. Kamu mau, 'kan, berjuang dan memulai semuanya dari awal?"

__ADS_1


Bola mata Azlina tampak bergerak ke kanan dan ke kiri, menatap dengan haru ke arah Alvaro. Sebuah anggukan dia lakukan, karena tak menyangka Alvaro justru mengalah dan memilih menemani dan menjaganya di sini, bukan melarangnya melanjutkan kuliahnya. "Tentu saja. Aku akan selalu menemanimu. Kita berjuang bersama-sama."


Alvaro menarik tangan itu, sehingga Azlina menabrak ke tubuhnya. Dipelukanya perempuan itu, mengusap rambut istrinya yang masih basah tersebut sembari melabuhkan kecupan hangat di pucuk kepala sang istri..


"Kakak tidak mungkin membiarkanmu tinggal sendiri di tempat yang jauh, Zi. Sudah kewajiban Kakak untuk menjagamu. Mendengar ada laki-laki lain yang menggantikan tugas Kakak untuk menemanimu saja sudah membuat Kakak kesal setengah mati. Kakak tidak ingin tugas seorang suami digantikan oleh pria lain. Kakak bisa cemburu, kamu dengar itu? Kakak sayang sama kamu."


Sungguh, perkataan Alvaro membuat hati Azlina begitu trenyuh. Perempuan itu tak bisa berkata apa-apa lahi. Beginikah rasanya dicintai, didukung serta disayangi? Perjuangan mendapatkan restu yang begitu melelahkan telah terbayat dengan cinta Alvaro untuknya. Dia menyunggingkan senyum tulus, merasakan dekapan itu semakin mengerat di tubuhnya.


...***...


Malam itu, ketika sinar rembulan menyelusup di balik tirai yang tak tertutup sempurna, menerangi dengan cahaya remang-remang sepasang suami istri yang tengah terlelap dengan tubuh saling menempel seolah-olah tak sanggup untuk berjauhan sedikit pun. Wajah mereka tampak bahagia meski mata terpejam erat dengan posisi saling mendekap. Hingga ketika sebuah ingatan menembus alam bawah sadar Azlina, perempuan itu segera membuka mata sembari berteriak.

__ADS_1


"Aah ... tidak!"


Alvaro yang masih bersemayam dalam alam mimpi pun terpaksa menyudahi mimpi indahnya itu karena teriakan Azlina. "Hai, ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Berusaha membuka mata kendati berat, Alvaro mengikuti Azlina yang kini sedang terduduk di atas ranjang.


Menarik selimut yang hampir melorot dari tubuhnya, Azlina mengacak rambutnya kesal. "Gara-gara Kakak, aku lupa mengerjakan tugas." Dia mebgembuskan napas kesal, menatap ke arah Alvaro. "Pokoknya aku enggak mau tahu. Kakak harus tanggung jawab buat bantuin aku menyelesaikan tugas, sekarang!"


"Haah!" Alvaro ternganga, dia baru bisa memejamkan mata setelah melepaskan semua tenaganya untuk bergelut di atas ranjang bersama Azlina. Namun, belum sempat tenaganya berhasil terkumpul, perempuan itu menghukumnya untuk membantu mengerjakan tugas yang katanya pagi ini harus selesai.


"Udah, Kakak enggak usah protes. Semua gara-gara Kakak ngajakin gituan mulu, aku jadi terlupa dengan tugasku sebagai mahasiswa." Dia berucap dengan marah, menumpahkan kekesalannya kepada Alvaro.


"Ya ampun, Zi." Mengusap kepala Azlina dengan sedikit mengacaknya, Alvaro mengecup kening istrinya itu dengan gemas. "Untung sayang."

__ADS_1


》Mau bilang nyicil, entar dikira lg kredit panci 😁🤭


__ADS_2