
Deras hujan mulai mendera, menhunjam bumi. Titik-titik air terjun dengan bebas membasahi permukaam tanah yang telah mengering, memberikan satu pasokan energi baru juga kehidupan baru bagi makhluk yang tinggal di bawah sana.
Alvaro masih berkeliling untuk mendapatkan bunga edelweiss segar sesuai permintaan sang Papa. Satu per satu toko bunga dia kunjungi dan mendapatkan hasil yang sama. Mereka hanya menjual bunga edelweiss kering dan itu jumlahnya juga tidak banyak. Hingga mobil hitam itu masih terus melaju untuk mencari toko-toko bunga yang lain.
Sebuah toko bunga di pinggiran kota menjadi tempat tujuannya kali ini. Dia hampir berkeliling mengitari kota hanya untuk mendapatkan bunga kecil sialan itu. Andai dia tidak berjanji dan meremehkan persoalan mencari bunga, tentu hal ini tak perlu membuatnya pusing. Seolah Alvaro memiliki tanggungan besar untuk mendapatkan bunga itu.
Alvaro memarkirkan mobilnya di salah satu tempat parkir di komplek pertokoan itu. Dia keluar kemudian, memayungkan tangannya hanya untuk menaungi wajahnya dari guyuran hujan yang hampir mereda.
Ternyata bukan toko bunga. Itu adalah kantor sejenis Event Organizer yang bertema alam. Alvaro bisa melihat itu dari bagaimana mereka menata kantor tersebut juga beberapa foto di standing banner hasil dekorasi mereka yang kesemuanya bernuansa alam dengan banyaknya bunga-bunga cantik menghiasi di setiap sisi.
Bagi Alvaro, tak harus mencarinya di sebuah toko bunga. Jika dia bisa mendapatkannya di tempat seperti ini, tentu akan dia lakukan asalkan bunga itu segera berada dalam genggaman. Dia tidak ingin diremehkan sang Papa, yang akan menganggapnya tidak becus hanya untuk mencari sebuah bunga.
Pintu kaca itu dia buka perlahan dan langsung dihadapkan oleh sebuah papan besar yang menampilkan nama atau branding event organizer itu. 'Aurora Event Organizer' nama itu tercetak jelas dengan huruf timbul menempel di dinding.
Alvaro tampak mengibas-ngibaskan pakaiannya yang sempat basah oleh rintik hujan, lalu duduk di sofa panjang yang disediakan di ruangan itu.
Tempat itu tampak bersih dan rapi, ada bunga hidup yang tertata cantik di sudut ruangan, serta beberapa ornamen hasil karya kerajinan tangan yang diletakkan menghiasi dinding-dinding itu. Beberapa karya mozaik dan mecrame ditata sedemikian rupa demi mempercatik ruangan mempertunjukkan jiwa seni si pemilik dan tim creator sangatlah tinggi.
Alvaro tampak tak sabar menunggu petugas yang seharusnya berjaga di depan. Sepertinya profesionalitas mereka berbanding terbalik dengan tempat yang disuguhkan, membiarkan seorang tamu tanpa sambutan adalah hal yang sangat fatal bagi sebuah perusahaan, apalagi perusahaan itu bergerak dibidang jasa, seperti Event Organizer.
Alvaro mendengkus kasar. Waktunya tidak banyak. Dia harus segera menemukan bunga berkuntum kecil itu sampai dapat. Sampai dia ingin beranjak keluar dari tempat itu, seorang gadis mengenakan apron dress muncul dari balik dinding yang menghalangi pandangan Alvaro untuk melihat kondisi dalam. Gadis itu mengenakan ikatan kain di kepala menyerupai bando warna hitam selaras dengan warna rambutnya yang dibiarkan tergerai indah dengan poni menutupi di bagian dahi.
__ADS_1
Gadis itu cukup tergemap melihat siapa yang datang, pun demikian dengan Alvaro. Jelas saja lelaki itu merasa aneh melihat sosok di depannya yang beberapa waktu lalu terlibat insiden besar dengannya.
"Kau!"
"Om, kenapa ada di sini. Om sengaja membuntuti saya, kan?"
Gadis itu adalah Azlina. Sementara tempat yang sedang Alvaro kunjungi adalah kantor Event Organizer milik kakak Azlina, yaitu Ahsan dan Alfatih. Kedua kakak laki-laki Azlina sedang sibuk mengatur sebuah pesta pernikahan seorang artis terkenal, sehingga melibatkan Azlina untuk menjaga kantor pusat mereka.
Melihat kedatangan Alvaro yang tiba-tiba, tentu saja membuat Azlina curiga. Jangan-jangan om satu ini memang sengaja membuntutinya hingga sampai di sini.
"Jangan ngada-ngada. Mana mungkin aku melakukan hal bodòh seperti itu."
"Aku ingin membeli bunga." Alvaro ragu-ragu ketika menjawabnya. Bagaimana tidak, seseorang pasti akan mendatangi toko bunga untuk membeli bunga, tetapi Alvaro malah mendatangi sebuah kantor Event Organizer untuk membeli bunga. Bukankah itu sangat aneh?
"Membeli bunga? Di tempat seperti ini? Oh, mungkin perilaku orang kaya sekarang sudah kelewat aneh, ya?" Jelas saja Azlina tidak percaya dengan perkataan Alvaro. Hanya orang aneh yang membeli bunga di kantor Event Organizer.
"Aku serius. Aku sedang mencari bunga. Dan aku harus mendapatkan bunga itu untuk malam nanti."
"Lalu, ngapain Om ke sini? Apakah Om melihat bunga di sini?" Azlina merentangkan kedua tangannya, seolah-olah memberi kode kepada Alvaro untuk melihat sekeliling ruangan itu. Memperjelas maksudnya bahwa tiada bunga di tempat itu.
"Aku membutuhkan bantuanmu. Kalian selalu berhasil mendapatkan bunga sesuai permintaan customer, bukan? Dan aku yakin kalian pasti juga akan dengan mudah mendapatkan bunga yang sedang aku cari," ucap Alvaro kemudian, menunjukkan wajah serius dari sorot matanya. "Aku akan membayar berapa pun yang kau minta," imbuhnya lagi.
__ADS_1
Azlina memicingkan mata, menangkap wajah Alvaro penuh curiga. Akan tetapi, dia menunjukkan kedua telapak tangannya ke arah Alvaro, memberi isyarat agar lelaki itu menunggu.
Gadis itu bergerak menyamping, menuju ke meja resepsionis. Tangannya meraih gagang telepon, lalu menekan tombol angka sembari melihat deretan nomor telepon yang berada di buku telepon.
"Halo, Assalamu'alaikum, Kakak." Suara Azlina terdengar sedikit berteriak. Tampaknya tempat di mana kakaknya sedang bekerja dalam keadaan bising sehingga membuat Azlina harus meninggikan suara agar lawan bicaranya bisa mendengar suaranya.
"Ada yang ingin memesan bunga. Apakah kakak bisa membantunya?" Wajah Azlina terlihat begitu serius. Mungkin dia merasa apa yang dilakukannya itu bisa memberikan omset besar untuk kedua kakaknya, dan itu akan jelas bisa menambah pundi-pundi rupiah untuk jatah uang saku pribadinya.
"Dia mau membayar berapa pun untuk bunga itu, Kak. Ayolah, aku yakin kita akan untung banyak!" Terdengar Azlina sedang merayu sang Kakak agar diizinkan mengambil job itu. Lalu, sebuah senyuman penuh kegirangan terpasang di bibirnya.
"Oke, aku janji tidak akan mengecewakanmu."
Azlina menutup teleponnya setelah mengucapkan salam. Dia tampak menghela napas, lalu menatap ke arah Alvaro.
"Jadi, bunga apa yang Om inginkan?"
Alvaro tersenyum menanggapi. Akhirnya dia bisa mendapatkan bunga itu dengan bantuan gadis cerewet itu.
"Bunga Edelweiss segar."
"A-apa?!"
__ADS_1