Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
110. Sembunyi-sembunyi


__ADS_3

Malam kelam mulai menggantikan semburat jingga di ufuk barat, mengubah langit cerah perlahan menghitam seiring cahaya mentari tenggelam di batas cakrawala.


Azlina membolak-balikkan brosur kampus yang dia dapatkan ketika di sekolah. Sesuai cita-citanya, dia mengambil jurusan desainer di salah satu jajaran universitas terkemuka. Dia ingin menghubungi Alvaro, tetapi melihat tak ada satu pun panggilan dan pesan dari lelaki itu hari ini membuatnya ragu untuk melakukannya.


Apakah dia sedang sibuk atau sudah bosan dengannya? Namun, beberapa hari tak bertemu tentu saja membuatnya rindu. Azlina mencoba mengirim pesan singkat kepada lelaki itu, tetapi tidak terkirim. Sepertinya Alvaro sengaja mematikan ponselnya sehingga Azlina kesulitan untuk menghubunginya.


Perempuan itu mendèsah lesu. Sungguh rasa rindu yang merayapi hatinya membuatnya semakin kesal saja. Dia rindu, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Kedua orang tuanya menentang untuk berhubungan dengan Alvaro selama Nyonya Rani tak mau menerimanya sebagai menantu dan meminta maaf atas semua perkataan menyakitkan yang sempat dilontarkan.


Kedua orang tua Azlina hanya tidak ingin anaknya hidup menderita jika bersama Alvaro. Lebih baik hidup sendiri, melupakan lelaki itu dengan membuka hati untuk cinta yang lain. Tinggal bersama mertua yang tidak suka dengannya justru akan membuat kehidupannya sengsara baik lahir maupun batin.

__ADS_1


Tentunya kedua orang tua Azlina tak setuju dan tak terima jika anaknya menderita seperti itu. Sehingga memutuskan itulah jalan satu-satunya jika Alvaro benar-benar ingin memperjuangkan Azlina untuk tetap menjadi istrinya.


Azlina merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap layar ponsel yang berisi pesan tak sampai kepada Alvaro. Dia kembali menghela napas kasar, meletakkan ponsel itu di sisi ranjang yang kosong. "Kak, kau di mana?" batinnya dengan mata menatap ke langit-langit kamar.


Suasana hatinya sedang tidak enak, Azlina memilih memejamkan mata sejenak mengusir rasa sesak dan rindu yang membelenggu di dada. Hingga ketika matanya hampir terpejam, sayup-sayup terdengar suara seseorang yang memanggilnya dengan bunyi ketukan di jendela kamar tidurnya.


Matanya terbuka sempurna. Ada rasa takut bercampur ngeri mendengar suara panggilan bersamaan ketukan di jendela itu.


Pertanyaan yang menyerang di kepalanya menciptakan rasa takut yang meneylimuti diri. Bagaimana jika sosok menyeramkan yang akan muncul di sana dengan suara tawa yang menakutkan dan membuat dirinya mimpi buruk malam ini?

__ADS_1


Tidak, tentu Azlina tak berani jika harus menghadapi sosok makhluk astral seperti itu seorang diri. Dia ingin memanggil kedua kakaknya untuk melihat siapa yang tengah mengganggunya malam-malam begini. Namun, hal itu urung dilakukan karena suara itu terdengar lebih tegas daripada sosok hantu yang seharusnya lebih lembut dan samar.


Hingga rasa takut itu berubah menjadi penasaran karena suara itu terus saja memanggilnya. Dia meneguk ludah, segera beranjak dari tidurnya untuk kemudian mengambil sapu dengan memegang kuat di bagian gagangnya.


Kakinya melangkah dengan hati-hati mendekati suara itu. Satu tangan membuka engsel jendela, sementara tangan yang lain bersiap dengan gagang sapunya. Begitu jendela berhasil terbuka, Azlina bergegas mengayunkan gagang sapunya yang pada akhirnya tertahan ketika menyadari siapa yang berada di balik jendela tersebut.


"Kakak!" Suaranya hampir meninggi, tetapi seseorang yang berada di depannya itu segera membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan.


"Sussstt, jangan keras-keras! Nanti ketahuan."

__ADS_1


Azlina mengangguk, lalu membungkam mulutnya sendiri. Terdengar helaan napas dari bibirnya setelah menyadari bahwa yang mengetuk jendelanya malam-malam bukanlah sosok hantu jahil, melainkan Alvaro.


__ADS_2