Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
29. Pertanyaan Menjengkelkan


__ADS_3

"Lantas, kau setuju?" tanya Alvaro dengan penuh harap. Jika Azlina menyetujui, dia pasti akan merasa bahagia.


Azlina mengangguk dengan yakin. "Iya, kenapa harus tidak setuju. Bukankah itu kewajiban. Jadi pasti akan ada pahala yang mengalir, kan?"


Alvaro tersenyum lebar. Jadi, untuk apa dia menahannya dari semalam jika ternyata Azlina mau melakukan itu sebagai baktinya menjadi seorang istri. Dia sampai menyiksa diri dengan tidur di bathup, merasakan dingin yang teramat sangat agar tidak membayangkan bercinta dengan gadis polos itu.


"Jadi, apakah kau mau melakukannya nanti malam?"


Azlina mengernyit, memiringkan wajah menatap Alvaro. Lalu, dia menjawab, "Kakak suka kelaparan di malam hari?"


"Hah?"


"Iya, bukannya Kakak menyuruhku memasakkan makanan di malam hari?"


"Siapa yang menyuruhmu masak?"


"Kakak!"


"Aku tidak menyuruhmu, aku hanya ingin ...." sebelum Alvaro melanjutkan kalimatnya, dia tampak berpikir sejenak, lalu menanyai gadis itu. "Apa saja yang Ibu katakan kepadamu?"


"Ibu mengatakan, bahwa sebagai istri harus patuh dan taat kepada perintah suami, mau menyiapkan pakaian suami, membuatkan makanan dengan tangan sendiri, meminta izin dengan apa yang akan seorang istri lakukan, bahkan pergi ke rumah orang tua sendiri pun juga harus meminta izin suami."

__ADS_1


"Terus?"


"Hah?!" Azlina tampak bengong, menatap bingung kepada Alvaro.


"Lagi, yang paling penting?" Alvaro bertanya dengan antusias.


"Paling penting?Apakah ada yang terlewat?"


Alvaro tampak mendengkus kasar, sepertinya dia terlalu berlebihan berharap. "Dahlah, lupakan! Cepat bersiaplah, aku antar ke sekolah!"


Alvaro memilih tak mengharapkan hal lebih kepada Azlina. Seharusnya dia sadar jika tak mungkin seorang ibu memberi nasihat tentang ranjang kepada anaknya. Hingga dia harus menelan kekecewaan yang sebelumnya sempat berbunga.


...***...


"Enak, ya, Al, masakannya?" Mama Rani menyapukan sapu tangan ke bibir setelah menikmati sarapan paginya.


"Eh, iya, Ma. Masakan Mama selalu enak."


Mama Rani terkikik geli, lalu menggeleng kemudian. "Ini istri kamu yang masak. Ternyata dia pandai masak. Gak salah pilih istri kamu," ucapnya dengan menunjukkan jempol ke arah Alvaro.


"Apa? Iya, tentu saja Alvaro pintar milih istri."

__ADS_1


Wajah Azlina tampak bersemu merah mendapatkan pujian. Tidak sia-sia dia selalu membantu ibunya memasak setiap hari. Ternyata memang berguna ketika dia menikah.


Alvaro kembali menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Rasanya lumayan, terasa sangat pas di lidah. Dia menyukai masakan Azlina juga sama seperti mamanya. Setelah Alvaro menghabiskan makanan di piring, dia segera menuntaskannya dengan meminum air putih yang sudah disediakan di sampingnya. Namun, belum selesai dia menelan cairan bening itu, Azlina menanyakan sesuatu yang membuatnya terkejut.


"Kak, sebenarnya semalam apa yang Kakak lakukan di atas tubuhku?"


Bbbrrrrrr (eh, gini enggak, sih, suara orang nyembur 😁)


Alvaro menyemburkan minuman itu begitu saja mendengar pertanyaan absurd Azlina, tak menyangka jika Azlina akan menanyakan hal itu di depan semua orang. Dan saat ini mereka tampak memandangnya dengan berbagai macam pemikiran.


"Jadi, semalam kalian sudah?" Mama Rani terlihat bersemangat.


"Jangan mikir yang macam-macam, deh, Ma. Dia masih sekolah. Mana mungkin Varo melakukannya."


"Lalu, apa yang kamu lakukan di atas tubuh menantu Mama, hah?!"


Dan saat ini Alvaro begitu bingung dengan jawaban apa yang akan dia katakan kepada Mama Rani juga Azlina.


"Oh, ya ampun, Cil. Kau membuatku malu!" ucap Alvaro dalam hati.


》Bersambung.

__ADS_1


Maaf, ya, gak update beberapa hari, bocil lagi rewel lagi pada sakit. Terima kasih telah meninggalkan jejak dan komentar serta dukungan kepada Author. 🤗


__ADS_2