Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
41. Pandangan Layaknya Singa


__ADS_3

Menyadari perubahan sikap Azlina yang tidak semanis biasanya, membuat Alvaro berpikir ulang. Dia merasa tidak melakukan kesalahan atau menyinggung gadis itu, tetapi Azlina seolah-olah menunjukkan perlawanan dengan sikap dinginnya.


Alvaro belum juga pergi dari depan pagar rumah Azlina. Dia ingin menyusul ke dalam, tetapi panggilan seseorang di ponselnya mengurungkan niatnya. Ya, ponsel Alvaro ternyata masih bisa menyala setelah semalam mati karena tercelup oleh air kolam.


Dia tersenyum ketika melihat nama 'Almeera' di layar digital tipis itu. Baru saja dipikirkan, perempuan itu langsung menghubunginya. Perkataan Almeera yang ingin terlepas dari hubungan toxic dengan Ren sedikit memberi harapan bagi Alvaro. Tujuannya hampir tercapai, yaitu membuat Almeera nyaman dengannya dan berakhir memilihnya.


"Halo!" Alvaro menjawab panggilan itu segera, membiarkan lawan bicaranya mengatakan sesuatu di seberang sana.


"Ya, baiklah. Aku sedang tidak ada urusan. Aku bisa menemanimu."


Alvaro mematikan panggilan setelahnya. Dia memandang pintu rumah Azlina yang tampak tertutup itu. Mungkin Azlina sudah bersenang-senang di dalam sana, bercerita panjang lebar dengan kakak-kakaknya sehingga Alvaro memilih tak mengganggu dengan segera pergi dari rumah itu untuk menemui Almeera. Dia menutup kembali kaca mobil, menyalakan mesin untuk kemudian melajukan mobil itu.


Dari balik jendela kaca yang tertutup tirai, Azlina bisa melihat kepergian mobil Alvaro setelah lelaki itu menerima panggilan seseorang. Azlina menerka jika itu adalah panggilan dari Almeera karena melihat ekspresi Alvaro yang tampak senang ketika menjawabnya.


Ada rasa kesal melingkupi hati gadis itu. Entah mengapa dia tiba-tiba tidak menyukai Almeera. Dia merasa Almeera adalah wanita jahat yang tidak baik untuk Alvaro. Entah itu karena instingnya sebagai sesama wanita atau karena rasa cemburu yang tanpa sadar dirasakan olehnya.


Rumah Azlina terlihat sepi, sepertinya semua orang sedang keluar dari rumah. Beruntung dia selalu mengingat di mana keluarganya meletakkan kunci pintu depan jika mereka sedang tidak berada di rumah, sehingga Azlina bisa masuk ke dalam tanpa kesulitan yang berarti.


Azlina memilih menyalakan televisi, merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Acara demi acara yang telah dijelajahinya dari siaran TV digital tak membuat rasa bosannya menghilang. Dia kehilangan ponsel, dan itu membuatnya bertambah kesal. Seharusnya dia bisa menghubungi Lulu untuk diajaknya bermain atau sekadar jalan-jalan bersama daripada tidur-tiduran sendirian di dalam rumah.


Azlina beranjak dari tidurnya, melangkah ke dapur untuk mencari camilan. Perutnya mulai lapar setelah menahan kesal sejak pagi karena tingkah Alvaro. Belum sempat dia mencapai ambang pintu dapur, suara ketukan di pagar rumah menahannya untuk terus melangkah.


Siapakah yang bertamu? Jika itu keluarganya, pasti langsung masuk saja tanpa perlu lagi mengetuk pintu. Terdengar desàhan lesu dari bibir Azlina. Melangkah dengan malas menuju pintu rumahnya. Dia membuka pintu itu kemudian, memeriksa siapa pengganggu yang telah membuatnya tak jadi mencari makanan.


Wajah lesu itu tampak berbinar ketika melihat siapa yang sedang berdiri di depan pagar. Gadis berambut gelombang dengan bando simpul kupu-kupu menghiasi di bagian atasnya. Gadis itu tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya, tampak senang melihat Azlina sudah di rumah.


"Lulu!"

__ADS_1


Umur panjang, Lulu. Baru saja Azlina ingin menghubungi, tetapi gadis itu sudah berdiri di depan rumahnya.


Azlina sedikit berlari untuk membuka pagar rumah, tak ingin membuat sahabatnya itu menunggu lama.


Dia membuka lebar-lebar pintu pagar itu, memberi akses Lulu untuk masuk ke rumahnya.


"Akhirnya, aku dari semalam mencemaskanmu. Untung saja kamu baik-baik saja."


Azlina mengangguk, "Iya, tapi aku kehilangan ponselku." Azlina tampak menyesal ketika mengatakannya.


"Sudahlah! Yang penting kamu selamat. Ceritakan kepadaku, mengapa kamu sampai jatuh ke kolam. Bukankah kamu tidak pernah mau jika diajak berenang?"


Azlina mengingat dengan jelas insiden semalam, bagaimana Airin dengan senyum mengerikan mendorongnya kasar hingga tercebur ke dalam kolam. Dia tak menyangka jika Airin bisa setega itu. Jika Azlina tak segera tertolong, dia yakin mungkin waktunya hanya sampai di situ.


"Apakah Airin yang melakukannya?" Lulu mencoba menerka. Jika bukan Airin, lalu siapa lagi? Karena Lulu melihat Azlina sedang berbincang dengan Airin saat itu.


"Jadi benar Airin pelakunya. Benar-benar keterlauan anak itu!" Lulu masih saja mengoceh, meskipun langkahnya terus melaju memasuki rumah Azlina.


Dia mendaratkan pantatnya di kursi sofa ruang tamu, merelekskan punggungnya, bersandar dengan nyaman. Tangannya sibuk meraih sesuatu di dalam tas selempang yang saat ini berada dalam pangkuan. Sesuatu benda dia keluarkan untuk kemudian disodorkan kepada Azlina.


"Ponselmu. Aku menemukan terjatuh di sisi kolam."


Azlina menerimanya dengan senyum mengembang. Tak banyak bicara, gadis itu memeriksa kerusakannya.


"Ah, sepertinya harus di-charge dulu. Thanks, ya, Lu. Kamu mau minum apa?" Dia meletakkan kembali ponsel itu di atas meja.


"Terserah. Jus alpukat juga boleh." Lulu nyengir setelah mengatakannya. Dia mengatakan terserah, tetapi memberi pilihan jus alpukat saja. Seolah meminta sesuatu, tetapi berlindung pada kata 'terserah'.

__ADS_1


"Emm, jalan saja, yuuk! Kita jajan di luar. Aku yang traktir." Azlina memberi pilihan. Bukannya apa, dia sendiri tidak tahu di dalam lemari es ada makanan atau tidak, apalagi di rumah tidak ada orang sama sekali.


"Kamu lagi banyak duit, ya. Okelah, enggak boleh nolak rizki." Lulu tampak senang mendengarnya.


...***...


Azlina dan Lulu akhirnya jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan. Tidak perlu membeli apa-apa karena mereka sama sekali tak berniat belanja. Cukup melihat-melihat barang-barang branded yang dipajang di etalase toko dan mencobanya sesekali sudah membuat hati mereka senang. Maklum anak sekolahan yang masih butuh sponsor dari orang tua.


Kendati wajah penjaga toko memaksakan diri untuk tersenyum ramah, tetapi mereka tahu jika para pekerja itu ngedumel dalam hati karena sudah hafal dengan perilaku anak-anak sekolahan yang memiliki hobi mencoba barang-barang tanpa perniat membeli.


Azlina mengenakan topi lebar dan kaca mata hitam besar, berpose bak model papan atas, sementara Lulu memotretnya menggunakan kamera ponsel. Mereka tampak tertawa senang, menikmati jalan-jalannya hari ini. Namun, semua itu berakhir ketika Lulu melihat seseorang yang tak asing melintas di hadapan mereka.


"Na, itu bukannya Om Tampan. Dia di sini juga. Samperin, yuuk!" Azlina langsung mengarahkan pandangan ke mana Lulu menunjuk.


Ya, benar. Itu adalah Alvaro dan ... Almeera. Azlina tidak menyangka jika perkataannya yang menyuruh Alvaro untuk bersenang-senang segera dilaksanakan oleh lelaki itu.


"Jangan, deh, Lu ...." Azlina belum sempat menyelesaikan protesnya, tetapi Lulu sudah berteriak lantang memanggil lelaki itu.


Ah, dasar Lulu.


"Om Ganteng!" Lulu berteriak sembari melambai-lambaikan tangan ke arah Alvaro, membuat Azlina malu lantaran pandangan semua pengunjung mengarah ke arahnya. Pun dengan Alvaro yang seketika menghentikan langkahnya ketika ingin menuju ke salah satu toko sepatu.


Dia terpaku di tempat, tak menyangka jika Azlina berada di tempat yang sama dengannya. Pandangan mereka saling bersitatap dan itu berhasil membuat hati Alvaro ngilu. Alvaro merasa seperti kedapatan sedang berselingkuh saja, meskipun dia hanya sedang mengantar Almeera berbelanja.


Alvaro meneguk ludah, tatapan Azlina mengarah kepada tangannya yang kini sedang menggandeng Almeera. Alvaro segera melepas genggaman tangan itu seakan-akan tatapan itu menakutinya untuk bertindak lebih. Tatapan gadis SMA yang sering dia panggil bocil ternyata lebih menyeramkan daripada tatapan seekor singa yang kelaparan.


》Next ... 1 bab lagi.

__ADS_1


__ADS_2