Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
131. Kenangan Malam itu


__ADS_3

Pandangan Bu Darmini menelisik ke arah lelaki yang tengah berdiri di depannya. Lelaki itu mengenakan piyama, tak seperti seseorang yang sedang ingin bertamu. Lebih tepatnya, Alvaro sedang ingin pindah tidur daripada ingin bertamu.


Disambutnya tangan Bu Darmini yang menggantung untuk dicium, berusaha menjadi menantu yang baik, berharap dengan sikapnya itu sang mertua tak lagi marah kepadanya.


"Bolehkah saya menginap di sini?" ucap Alvaro dengan senyum ragu-ragu.


Terlihat kening Bu Darmini berkerut, lalu tanpa diduga bukan pengusiran yang terjadi, tetapi justru perempuan paruh baya itu mempersilakannya masuk.


Jelas Alvaro merasa senang karena sang mertua tampaknya tak lagi marah kepadanya. Dia segera mengekor di belakang, ikut duduk di sofa ruang tamu.


Bu Darmini ternyata tak bangun sendiri. Di sana sudah berdiri Alfatih yang ikut terganggu akan suara gedoran di pintu. Kakak laki-laki Azlina itu ikut duduk di sofa panjang, sementara Alvaro duduk di sofa tunggal.


Lelaki itu menatap ke atas di mana kamar Azlina berada. Dia berharap jika perempuan itu juga terbangun karena gedorannya. Membayangkan wajah ngantuk sang istri sudah membuat jantung Alvaro berdegup kencang. Dia sudah tak sabar untuk segera bertemu, lalu memeluk perempuan itu sepuasnya.

__ADS_1


"Jadi, saya boleh nginep di sini malam ini?" Alvaro bertanya dengan hati-hati, menatap penuh permohonan kepada Bu Darmini.


Perempuan paruh baya itu mengangguk dan kalimat selanjutnya membuat Alvaro tak percaya. "Kamu bisa tidur di kamar Azlina."


Bahkan, Bu Darmini mempersilakan dirinya tidur bersama sang istri. Senyum jelas terbit dengan lebar di bibir lelaki itu, akhirnya kerinduannya terbalas malam ini.


"Jangan senang dulu, kamu tidur sendiri. Karena Azlina tidak di rumah."


"Nikah lagi," jawab Alfatih asal.


"Apa?!" Alvaro seketika berteriak dengan membenatak, menatap murkan ke arah Alfatih, tetapi perkataan Bu Darmini selanjutnya membuatnya agak tenang.


"Jangan mengganggu iparmu!" Dia menghardik anak laki-lakinya yang terlihat meringis setelahnya, lalu menatap kembali ke arah Alvaro. "Dia kuliah ...." Alvaro menghela napas lega mendengarnya. Namun, begitu Bu Darmini melanjutkan kalimatmya, Alvaro lemas seketika. "... di Paris."

__ADS_1


"A-apa?!" Keinginan untuk tidur bersama Azlina malam ini pupus sudah. Bagaimana bisa Azlina tak memberi tahunya akan kepergiannya. Dia tak tahu apa-apa tentang istrinya, bahkan dia seperti orang bodoh yang hampir menaiki tangga seperti maling demi untuk mengetuk kamar perempuan itu.


Melihat raut kecewa Alvaro, Bu Darmini memahaminya, sehingga wanita itu menjelaskan hal penting kepada Alvaro. "Kami melarangnya memberi tahumu agar kamu bisa fokus dengan masalahmu. Bagaimana, apakah sudah membawa berita baik buat kami?"


Wajah Alvaro yang sebelumnya meredup kini sedikit berubah cerah. Azlina ternyata tak membohonginya. Ada campur tangan pihak keluarga yang menyuruhnya untuk tetap bungkam akan kepergiannya itu. "Kapan dia berangkat?"


"Sudah sepuluh hari yang lalu. Kakak-kakaknya yang mengurus semuanya."


Sepuluh hari yang lalu? Itu artinya percakapannya dengan Azlina malam itu adalah panggilan terakhir sang istri kepadanya. Patutlah ada yang disembunyikan dari nada bicaranya. Perempuan itu menanyakan tentang bagaimana usahanya meluluhkan hati sang Mama. Bagaimana jika pada kenyataannya Azlina pergi jauh dan tak bisa bertemu dengannya?


Alvaro seketika mengingat kenangan malam itu, di saat dirinya memendam rindu juga menahan rasa sakit di tubuh, ternyata Azlina tengah menahan tangis karena hendak pergi jauh darinya.


》Next, yaaa ...

__ADS_1


__ADS_2