Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
146. Anti Alvaro


__ADS_3

Kehamilan Azlina sama seperti kehamilan-kehamilan pada umumnya. Dia mengalami morning shick yang hebat setiap pagi sehingga perempuan itu harus kehilangan banyak nutrisi tubuhnya. Alvaro begitu mencemaskan perempuan itu, bukannya sehat, Azlina malah semakin lemas setiap hari.


Dia memutuskan untuk izin kepada pihak kampus, melakukan private class secara virtual di rumah. Alvaro pun sama, melakukan pekerjaan secara daring, menemani Azlina di unit apartemennya.


"Masih mual?"


Alvaro melangkah mendekat ke arah wastafel, ingin membantu Azlina dengan memijat tengkuk perempuan itu. Namun, kedatangan Alvaro justru membuat perempuan itu tak nyaman.


"Kakak, pergilah! Kamu bau."


Dia mendorong Alvaro agar menjauh, membuat lelaki itu semakin kebingungan. "Tapi, Kakak baru mandi, Sayang!"


"Enggak. Kakak bau. Kakak pakai parfum apa? Baunya bikin mau muntah." Azlina kembali memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Alvaro semakin cemas melihat kondisi perempuan kesayangannya itu.


"Ini kan parfum yang kamu pilihkan! Kamu bilang ini harum, enak, bikin kamu betah deket-deket Kakak. Kenapa sekarang bilang begitu?" Alvaro mendadak bingung dengan sikap Azlina yang aneh. Suatu saat dia bilang suka, terkadang mengatakan tidak suka, membuat lelaki itu harus menambah stok kesabarannya.


Pernah dia mengadu kepada kedua orang tuanya akan sikap aneh Azlina. Papa Agus dan Mama Rani hanya bisa mentertawakannya. "Mungkin anakmu laki-laki. Sama menyebalkannya sepertimu." Kedua orang tuanya bukannya membela, justru membuat Alvaro bertambah kesal saja. "Akhirnya yang Papa alami dulu kejadian sama kamu." Gelak tawa sang papa membuat Alvaro semakin sebal. Sejak saat itu Alvaro tak lagi mengadu, adanya dia yang semakin ditertawakan.

__ADS_1


Dan malam tadi pun terjadi hal yang demikian. Azlina merengek minta bubur ayam. Lelaki itu jelas bingung mencari bubur ayam sekitar pukul sepuluh malam. Dia juga tidak tahu apakah di Paris ada penjual bubur ayam atau tidak.


Alvaro akhirnya mulai mencari resep bubur ayam rumahan. Dia sudah nekat untuk membuat bubur ayam itu sendiri. Seharian perempuan itu tidak bisa memasukkan satu sendok makanan pun ke mulutnya. Dia tak mengerti harus bagaimana. Namun, begitu Azlina mengatakan ingin makan bubur ayam, ada angin segar bagi Alvaro agar membuat sang istri bisa memakan sesuatu. Meskipun dia pasti akan kesulitan mendapatkannya.


Benar saja, ternyata langkah demi langkah membuat bubur ayam tidaklah mudah. Selain memasak buburnya yang harus super lembut dan memakan waktu cukup lama, lelaki itu juga harus menyiapkan toping serta kaldu ayam yang membuat bubur itu menjadi lezat dimakan.


Kalau sudah begini, dia merasa perjuangan penjual bubur ayam pastilah sangat berat. Mungkin lain kali dia akan sungkem dulu kepada Mamang penjual bubur ayam di negaranya


Berjam-jam lelaki itu berkutat di dapur dengan apron yang sudah lecek dan tak berbentuk, kotor sana sini, penuh dengan cipratan kuah maupun bubur. Pantri dapur yang semula rapi kini berubah seperti kapal pecah. Peralatan serta perlengkapan dapur sangat berantakan dan tidak berada di tempat yang seharusnya.


Lelaki itu dengan wajah lelah, tetapi masih menunjukkan senyum menawannya, membawa baki berisi bubur ayam hangat yang masih mengepul uap air di atasnya. Dengan penuh percaya diri, lelaki itu duduk di samping Azlina setelah meletakkan bubur itu di atas meja.


"Sayang, bangunlah! Ini Kakak masakin bubur buat kamu. Kakak masak sendiri, loh!"


Wajah pucat itu menatap Alvaro dengan tak percaya, tetapi bubur yang tampak lezat itu sudah menjadi bukti bagaimana kesulitan sang suami sampai bisa menyajikannya.


"Kakak masak bubur? Memang bisa?" Bibir mungil itu berkedut, masih belum memercayai apa yang sudah tersaji di depan mata.

__ADS_1


"Tentu saja. Kakak bisa melakukan apa pun untuk kamu dan anak kita. Ayo, Kakak suapin, ya?"


Kembali kelopak mata itu mengerjap, tetapi akhirnya mengangguk juga. Dia mengubah posisinya menjadi duduk dengan bersandar di punggung ranjang dengan bantal sebagai tumpuan.


Akhirnya satu suapan berhasil masuk ke mukut Azlina. Dia tiba-tiba merasa ingin muntah, tetapi segera ditahan.


"Bagaimana? Enak?" Tentu saja Alvaro mengharap pujian yang keluar dari bibir Azlina.


Perempuan itu hanya mengangguk dengan meringis. Jempolnya terulur menegak menunjukkan jika masakan Alvaro sangat lezat. Akan tetapi, baru saja memasukkan empat suapan, Azlina sudah mendorong sendok yang berisi bubur itu menjauh.


"Cukup, Kak. Aku sudah kenyang. Rasanya pengen muntah lagi."


"Ya ampun, Zi." Dia menghela napas panjang. "Untung sayang."


...***...


》Ke bawah lagi. Tinggalin jejak, buat kenang-kenangan. 😁😁

__ADS_1


__ADS_2