
Pagi-pagi sekali perias dari Aurora Event Organizer telah menyiapkan Azlina. Hanya riasan natural dengan rambut yang disanggul rapi, membiatkan beberapa menjuntai di depan. Azlina tampak cantik dengan balutan kebaya modern yang sangat pas di badan. Dia tersenyum puas melihat hasil karya sang perias yang begitu piawai mempercantik tampilan dirinya.
Kebaya biru nude menjadi pilihan dipadukan dengan jarik berwarna coklat tua dengan corak khas Indonesia. Bibirnya diberi sentuhan warna soft cherry yang terlihat segar dan tidak terlalu mencolok, sangat cocok dengan usianya yang masih begitu muda.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, Sayang." Perias itu merapikan perlatan makeup-nya, lalu pamit undur diri. Ahsan dan Alfatih sudah menunggu adiknya itu untuk segera keluar, mereka memang terbiasa mengantar Azlina sekaligus berangkat bekerja.
Azlina menuruni anak tangga itu perlahan, sangat hati-hati lantaran sepatu berhak yang dia kenakan. Meski tak terlalu tinggi, dia tak biasa menggunakannya.
"Kamu yakin pakai sendal begitu?" Bukannya memuji penampilan adiknya, Alfatih justru menanyakan tentang sepatu yang Azlina kenakan. Menyebalkan memiliki dua orang kakak laki-laki yang masih jomlo, tidak mengerti cara memuji seorang wanita.
"Ini heels namanya. Ya memang pasangannya, Bang."
"Iya tahu. Tapi lihat, hak segitu aja kamu kesulitan, mending pake sendal jepit aja biar nyaman." Ahsan terkekeh kecil mendengar perkataan Alfatih. Adiknya itu memang suka sekali menggoda Azlina.
Menjadi penengah, Ahsan segera menyela Azlina yang tampak ingin membalas perkataan Alfatih.
"Sudah. Kalian jangan bertengkar! Ayo, berangkat!"
...***...
Suasana di sekolah sudah cukup ramai. Mobil-mobil sudah terparkir di sana, beberapa orang tua terlihat membenarkan riasan putri mereka. Azlina berjalan perlahan, menuju ke arah aula yang menjadi tempat utama acara pelepasan siswa hari ini.
Setiap dia melangkah, banyak siswa-siswa lain yang memperhatikannya. Mereka terlihat saling berbisik, tetapi bisikan itu sengaja sedikit dikeraskan.
Azlina bisa mendengar bisikan mereka yang memang dirasa membicarakannya. Namun, perempuan itu tak peduli. Dia tetap melangkahkan kakinya untuk menuju ke aula.
__ADS_1
Di saat Azlina melewati koridor sekolah, pandangannya disuguhkan dengan banyak siswa dan siswi yang tengah berkumpul, berebut penglihatan sebuah pengumuman yang ditempel di mading sekolah.
Hati Azlina tergelitik untuk juga melihat apa yang menarik perhatian semua siswa. Begitu Azlina ikut berbaur dengan anak-anak itu, mereka segera menghindar memberi jalan. Azlina bisa merasakan tatapan aneh semua orang terhadapnya. Namun, dia belum menyadari akan apa yang terjadi.
Perempuan itu masih merangsek dari kerumunan untuk melihat apa yang tertempel di sana. Matanya membeliak dipenuhi keterkejutan melihat apa yang terpampang nyata di depan mata.
"Azlina, janda yang mengaku sebagai gadis. Janda yang telah ditelantarkan om-om tua yang sedang sekarat di rumah sakit."
Kalimat itu tertulis dengan huruf kapital dan ditempel di mading dengan ukuran kertas yang berbeda-beda. Azlina dengan wajah berang melepas satu per satu tulisan-tulisan itu. Semua orang menatapnya dengan berbagai macam perasangka. Tepat ketika Azlina melepas kertas yang terakhir, sebuah tepukan tangan terdengar dari belakang.
Perempuan itu segera menoleh, melihat siapa yang sedang mengganggu itu.
"Airin!"
Ya, Azlina sudah menyangka jika Airin pelakunya. Dia sempat mencemaskan hal ini sebelumnya, tetapi tak menyangka jika Airin melakukannya di hari wisuda kelulusan sekolah.
"Janda baru, masih punya keberanian masuk sekolah?"
Penampilan Airin memang terlihat memesona, bahkan begitu cantik dengan rambut yang tergerai indah. Perempuan itu mengroll rambutnya dibuat bergelombang di bagian bawah dan sedikit mewarnainya dengan warna brunette sebagian. Namun, wajah cantik itu sepertinya tak berguna melihat hatinya yang ternyata begitu picik.
Azlina mengepalkan tangan mendengar penuturuan temannya itu. Lulu kebetulan meminta izin hadir terlambat karena menunggu kedatangan orang tuanya yang sengaja pulang dari pekerjaannya di luar negeri untuk menemani sang anak yang sedang diwisuda. Sehingga, Azlina hanya seorang diri menghadapi tatapan menghina serta mencela teman-temannya.
"Siapa yang janda? Jangan memfitanh orang jika kau tidak tahu kebenarannya!"
Azlina menaikkan intonasi suaranya, dia tak bisa membiarkan Airin mengolok-olok statusnya yang tidak benar itu.
"Aku punya bukti rekaman suara. Mertuamu menyuruh om-om tua itu menceraikanmu. Ayolah, Na! Ternyata kau penyuka Om-om, ya? Apa kau butuh begitu banyak uang hingga mau nikah siri sama Om-om. Jangan-jangan kau jadi istri kedua atau mungkin ketiga dan keempat?" Airin terkekeh setelah mengucapkannya ditanggapi gelak tawa teman-temannya.
__ADS_1
Terdengar bisik-bisik dari seluruh siswa, membuat telinga Azlina memanas. Dia hampir menangis dalam kondisi seperti itu. Tiada seseorang yang membelanya, tetapi dia masih bertahan dan mencoba menghadapi sikap licik Airin.
"Apa maumu, Ay? Aku tidak pernah mengganggumu. Jika kau menginginkan Elang, ambil saja! Aku sama sekali tak menginginkannya." Azlina berucap dengan lantang, meskipun terdengar sedikit serak karena emosi yang tertahan.
"Pantaslah kau sudah tidak mau dengan Elang. Karena Elang sudah mencampakkanmu, bukan?" Gelak tawa itu terdengar lagi, menciptakan rasa kesal dan marah pada diri Azlina.
Perempuan itu maju, mengabaikan tatapan semua orang kepadanya, menghadap Airin yang merasa telah berada di atas angin.
"Kau hanya iri, 'kan? Kau cantik, tetapi tak kunjung laku. Semantara aku yang hanya gadis biasa bisa mendapatkan Elang dengan mudah. Munafik!"
Azlina merasakan pipinya memanas setelah bunyi tamparan itu menggema di udara. Tentu saaja Airin yang melakukannya dan disaksikan oleh banyak orang di sana.
Jelas saja Azlina tak terima dengan tamparan itu. Airin sudah keterlaluan dengan mencampuri kehidupan pribadinya. Hingga ketika dia ingin membalas tamparan itu, sebuah tangan menghalanginya. Rasa sakit bercampur kecewa kini telah mendera Azlina. Bagaimana tidak, sosok yang sedang menghalangi serta menghadang tangannya tak lain adalah tangan Elang Atmadja.
Lelaki itu dengan sikap dingin menggenggam tangan Azlina, menatap tajam ke arah perempuan itu.
"Aku sempat merasa bersalah kepadamu, menelantarkan gadis polos sepertimu, tetapi aku tidak menyangka jika gadis sepertimu tak ubahnya hanya seorang gadis murahan. Beruntung semuanya terungkap tepat waktu, sehingga aku tak salah memilih seseorang."
Azlina menarik tangannya dari cengkeraman Elang, tetapi dia kesulitan melakukannya. Matanya mulai berembun, bibirnya kelu untuk menjawab semua tuduhan. Tatapan semua orang yang melihatnya dengan sorot mata jijik dan gunjingan yang memang disengaja dikeraskan membuat hati Azlina sakit.
Dia berharap Lulu datang membantu, tetapi gadis itu belum juga hadir. Tangannya yang terbebas memukul-mukul tangan Elang, berupaya melepas cengkeraman tangan itu. Sementara Airin hanya tersenyum mengejek, merasa rencananya mempermalukan Azlina di depan umum telah berhasil dilakukan.
Kini, Azlina merasa sendiri. Para guru juga tak terlihat batang hidungnya. Mereka semua tengah sibuk di aula, menyiapkan segala hal bersama anggota OSIS yang menjadi panitia. Tatapan menghunjam orang-orang serta bisik-bisik yang terdengar tidak mengenakkan membuat Azlina kian malu. Meskipun apa yang mereka semua ucapkan tidaah benar, tetap saja ada rasa terhina dan risi dalam hatinya.
Hingga seseorang datang dengan langkah terburu-buru, langsung merangsek ke kerumunan massa, membentak Elang Atmadja. "Singkirkan tangan kotormu dari tangan istriku!"
》Lanjutannya nanti, ya. Mau tidur dulu. 😁
__ADS_1