
Dia juga laki-laki normal. Apalagi Azlina terlihat menggemaskan seolah-olah telah siap mendapatkan sentuhannya. Gadis itu tampak berserah diri kepadanya, menginginkan segera dijamah sesuka hati. Hingga tangan Alvaro tergerak tanpa sadar menyentuh pipi Azlina.
Lembut, benar-benar lembut.
Dia memberanikan diri menurunkan tangannya menyentuh dagu runcing itu, lalu mengusapanya. Ibu jarinya tak kuasa untuk tidak menyapukan ke permukaan bibir yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Bibir itu tampak terbuka dengan suara dengkuran halus yang keluar dari dalamnya, seolah bibir itu dengan sengaja memberikan akses bagi Alvaro untuk menjelajah bagian dalamnya.
Tanpa Alvaro sadari, wajahnya sudah mendekat ke depan wajah Azlina. Pikirannya tertarik dengan bibir ranum nan menggoda itu. Hingga bibirnya tak terasa sudah berlabuh di sana, menekan permukaan dengan sedikit membasahi bibir Azlina menggunakan lidahnya. Terdengar lenguhan ringan dari bibir gadis itu dengan kening mengernyit, merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Alvaro.
Dia menghentikan aksinya, takut jika gadis itu terbangun. Pasti Azlina akan marah dan menyebutnya pria mesum. Sebutan menjengkelkan itu sangat mengganggu Alvaro. Namun, kesadaran Alvaro tampaknya tak berlangsung lama. Dia mendekati Azlina lagi, seolah tubuhnya merasa tak nyaman jika berjauhan dengannya. Efek jamu itu benar-benar menggaggu nalarnya. Hingga ketika Azlina tidur miring memunggunginya, dia menyibakkan rambut gadis itu ke atas.
Alvaro memosisikan dirinya tidur di belakang Azlina, memeluk perut gadis itu, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
Dia tak bisa menahan rasa yang menggebu di dalam diri, hingga tanpa sadar sebuah kecupan-kecupan kecil mendarat di leher gadis itu, membuat tidur Azlina terusik. Gadis itu mengeliat, mengubah posisinya menjadi terlentang, sehingga Alvaro tak lagi berada di belakang Azlina, melainkan di atas tubuh gadis itu dengan sedikit menindih karena kedua tangan Alvaro menahan berat badannya dengan menumpu di samping kanan dan kiri tubuh Azlina. Dia tak bisa menampik jika bagian bawah sana sudah mengeras tak terkendali dengan posisi seperti ini.
Melihat Azlina masih memejamkan mata, dia mencoba mencium bibir itu lagi, tetapi apa yang terjadi kemudian membuat Alvaro menyesal telah melakukannya.
Tepat ketika wajahnya mendekat, mata Azlina terbuka sempurna. Keduanya terkesiap dengan bagaimana posisi mereka saat ini. Hingga tanpa sadar sebagai pertahanan diri, Azlina mendorong dada Alvaro lalu menendangkan kakinya.
"Aaaarghh! Masa depanku!" Alvaro terjerembab ke lantai dengan tangan menyentuh bagian yang ditendang Azlina.
__ADS_1
Azlina yang tersadar jika menendang Alvaro tampak panik. Dia terlupa jika saat ini tidur di kamar Alvaro, bukan kamarnya sendiri, sehingga ketika melihat ada seorang laki-laki berada satu ranjang denggannya, pikiran sadarnya segera bekerja untuk melindungi diri tanpa berpikir dua kali.
Dia segera turun dari ranjang, melihat kondisi Alvaro yang masih meringkuk di lantai menahan sakit.
"Kakak, kamu tak apa? Maaf, aku tidak sengaja."
Alvaro diam saja, tak menjawab perkataan Azlina. Rasa sakit terasa berdentum, menjalar ke sekujur tubuh. Dia bahkan tak sanggup untuk sekadar menjawab pertanyaan Azlina.
Azlina semakin panik, merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya. Dia sudah tak memikirkan apa yang baru saja dilakukan Alvaro di atasnya. Mungkin dia hanya salah paham, mana mungkin Alvaro berbuat mesum kepadanya. Bukankah mereka sudah berjanji untuk tidak saling menyentuh hingga keduanya memang benar-benar menginginkannya?
Azlina beranjak berdiri, lalu melangkahkan kaki untuk menyalakan sakelar lampu. Di sana dia bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi Alvaro saat ini.
"Kak, ayo bangun! Aku bantu."
Dengan susah payah Azlina membantu Alvaro bangkit. Lelaki itu akhirnya bisa berdiri dengan benar setelah beberapa kali terhuyung hampir limbung. Namun, setelah Alvaro bisa menegakkan tubuhnya, lelaki itu menepis kasar tangan Azlina yang sudah membantunya.
"Tidak perlu membantuku. Aku bisa sendiri." Alvaro berucap dingin dengan meninggikan suara, begitu menyakitkan terdengar di telinga Azlina.
Gadis itu tersinggung dengan perkataan sekaligus perlakuan Alvaro kepadanya. Dia memang salah menendang Alvaro hingga terjatuh dari atas kasur, tetapi dia tak sengaja melakukannya. Lagi pula, Alvaro terjatuh di atas karpet berbulu, seharusnya tidak terlalu sakit, kan? Namun, sikap Alvaro sangat berlebihan dengan membentaknya seolah-olah kesalahan yang dilakukan Azlina sangat fatal dan tidak bisa dimaafkan.
__ADS_1
Hingga ketika lelaki itu melangkah hendak pergi menuju kamar mandi, Azlina berlari mengikuti lelaki itu, lalu menghadang Alvaro dengan merentangkan kedua tangannya.
"Minggir!" bentak Alvaro. Dia sudah tidak tahan, ingin segera menghindar dari Azlina. Namun, di luar dugaannya, Azlina bukannya menyingkir memberi jalan seperti perintahnya, tetapi berhambur memeluk Alvaro erat.
Berbahaya, sangat berbahaya. Tubuh Alvaro seketika menegang tatkala gadis itu memeluknya erat dengan membenamkan wajahnya di dada Alvaro yang berbalut kaos putih polos tipis. Dia memang kesakitan, tetapi rasa ingin menerjang gadis itu masih sangat besar, hingga dia tak berani menggerakkan tubuhnya ketika Azlina sedang memeluknya.
Alvaro mencoba membuka tangan Azlina yang memeluk tubuhnya, tetapi semakin Alvaro mencoba, tangan itu semakin erat memeluknya membuat Alvato merasa frustrasi sendiri.
"Jangan marah, Kak. Aku tak sengaja. Aku hanya terkejut. Jika Kakak marah, bagaimana denganku. Aku tidak memiliki teman di sini."
Sungguh polos perkataan Azlina. Dia benar-benar menggap Alvaro sebagai seorang Kakak, hingga membuat Alvaro merasa bersalah. Dia sempat mencium bibir serta leher gadis itu ketika Azlina sedang lengah. Bahkan Alvaro sempat menyentuh hal yang tidak sepatutnya dia sentuh. Dia merasa seperti predator cabul yang memanfaatkan kepolosan mangsanya yang telah memercayainya dengan sepenuh hati.
"Aku tidak marah. Aku hanya ingin mandi."
Seketika gadis itu menengadahkan wajahnya, menatap Alvaro dengan bingung. Tatapan mata bulatnya begitu mengganggu Alvaro. Azlina tampak begitu menggemaskan ketika memandangnya seperti itu, membuatnya ingin segera menggendong gadis itu untuk dibawanya ke atas ranjang.
"Mandi? Malam-malam begini? Bukankah Kakak sebelum tidur kemarin sudah mandi?"
》
__ADS_1