Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
69. Perasaan yang Terlalu Tinggi


__ADS_3

Di kamar itu, tampaklah dua anak manusia masih betah berlama-lama dalam selimut yang sama. Malam panjang yang dilewati semalam cukup membuat keduanya mengantuk di pagi harinya. Beruntung hari ini adalah hari Minggu sehingga keduanya tak perlu takut terlambat ke sekolah ataupun berangkat ke kantor.


Lengan Alvaro tak sekalipun terlepas dari tubuh sang istri, bahkan lelaki itu memeluknya layaknya guling yang menghangatkan dan membuat nyaman. Setiap Azlina bergerak, semakin erat pula lengan itu memeluknya, seolah-olah rasa takut kehilangan sang istri begitu besar.


Sementara yang dipeluk tampaknya tak merasa terganggu dengan sikap Alvaro. Azlina hanya mengulum senyum ketika lelaki itu menyelusupkan wajah di rambutnya, memeluknya dengan erat dan tak mau melepaskannya. Dia merasa saat itulah cinta dan kasih sayang sedang tercurahkan.


Hingga mentari sudah menyingsing ke atas, membuat cahayanya masuk ke sela-sela tirai yang menembus panel-panel kaca kamar Alvaro.


Azlina mengerjabkan mata dengan sedikit memicing, mencoba mengais kesadaran setelah tidur nyenyak yang menyenangkan semalam. Ekor matanya melirik ke arah jam dinding dan mendapati waktu sudah cukup siang. Tangannya mengusap pipi Alvaro, menepuknya perlahan untuk membangunkan pria itu. Namun, tampaknya yang dibangunkan tak kunjung membuka mata.


"Kak, lepaskan! Aku mau buang air kecil." Azlina kembali membangunkan Alvaro, tetapi lelaki itu sama sekali tak berniat melepas pelukannya di tubuh sang istri.


"Kak, buruan! Sudah tidak tahan."


Alvaro tersenyum setelah mendengar ucapan Azlina. Mata lelaki itu terbuka, lalu menghadiahi kecupan singkat di bibir Azlina. "Selamat pagi."


"Bukan pagi ini, tapi sudah siang." Azlina menjawab dengan sedikit kesal karena Alvaro tak kunjung melepaskan pelukan itu. "Buruan lepas, Kak! Aku mau ke kamar mandi."


Seketika Alvaro melepaskan pelukan itu, lalu menegakkan tubuhnya menjadi posisi duduk. Dia bergerak lebih cepat dari Azlina dengan berdiri, kemudian membungkuk. Sebelum sempat Azlina beranjak dari ranjang, Alvaro sudah mengangkat tubuhnya.


"Aaaah!" Azlina berteriak terkejut begitu merasa tubuhnya melayang dan secara implusif kedua tanganya melingkar di leher Alvaro sebagai pertahanannya agar tidak terjatuh.


"Aku bisa sendiri!"


"Sudahlah, tidak apa. Aku ingin mengantarmu sekaligus mengecek apakah datang bulanmu sudah selesai atau belum." Tanpa tahu malu Alvaro mengatakannya membuat wajah Azlina mendadak berubah semerah tomat.

__ADS_1


"Apa? Tidak-tidak!"


"Sudah, jangan bawel!" Alvaro tersenyum dengan melangkah perlahan memasuki kamar mandi dan menutupnya menggunakan kaki. Sayup-sayup terdengar penolakan dari Azlina, tetapi lelaki hanya menanggapinya dengan tertawa. Ya, hidup Alvaro terasa lebih manis setelah mengungkapkan perasaannya kepada perempuan itu, tiada beban yang sejak lama dia tahan karena sekarang dia tahu ke mana mencurahkan kasih sayang itu dengan benar.


...***...


Ketika sinar mentari sudah mencapai hampir di tengah-tengah, membuat siapa saja akan merasakan terik yang menyengat tubuh. Alvaro menikmati secangkir teh hijau buatan Azlina, menyesapnya dengan pandangan mata tak terlepas dari deretan kalimat yang tertera di koran itu. Meskipun dunia sudah beralih ke digital, tetapi keluarga Alvaro masih berlangganan koran untuk membaca berita harian.


Alvaro masih fokus dengan bacaannya dengan sesekali mata itu mengernyit, bereaksi akan apa yang dia baca di media cetak tersebut. Hingga dirinya dikejutkan dengan suara seseorang yang sangat dikenalnya, dia menurunkan koran yang menutupi wajahnya.


"Tuan, maaf baru bisa mengantar pesanan Anda."


Alvaro menyunggingkan senyum begitu matanya menangkap sebuah benda yang sejak semalam ditunggu-tunggu. Lelaki itu mengangguk sembari mengatakan, "Tidak apa-apa."


Tangan Alvaro meraih benda itu yang berbentuk hati dengan warna merah maron dan satu lapisan emas di bagian ujungnya. Alvaro membuka benda itu dan terlihatlah sebuah cincin indah bertahtahkan berlian yang berkilau di atasnya.


Sebelumnya Alvaro ingin membantu Azlina di dapur karena merasa kasihan jika sang istri harus kelelahan memasak menu makan siang sendiri. Pelayan yang biasa ditugaskan untuk mempersiapkan makanan telah sakit dan beberapa yang lain kebetulan izin karena ada sanak saudaranya yang menikah. Bukannya membantu pekerjaan Azlina, Alvaro justru terus saja menggodanya dengan memeluk tubuh sang istri ketika sedang memasak.


Pertama mungkin terasa romantis, tetapi kecupan bertubi-tubi yang dilakukan Alvaro sambil tak melepas pelukannya dari belakang membuat Azlina kesulitan untuk melanjutkan masaknya. Perempuan itu akhirnya dengan tegas mengusir Alvaro dari area dapur, menyuruhnya untuk menunggu di taman.


Mengingat hal itu, membuat Alvaro tersenyum sendiri. Kedua tangannya menekuk dengan siku sebagai tumpuan di atas meja. Pandangannya mengarah ke depan, tetapi tak mengisyaratkan sebuah pengelihatan yang sempurna. Alvaro hanya melamun dan senyum-senyum sendiri.


Sampailah ketika seseorang tiba-tiba datang menghampiri, berdiri di hadapan Alvaro sembari memanggil nama lelaki itu. "Al!"


Suara itu mengejutkan Alvaro, dia sempat tergemap karena melamun, lalu memaksa matanya fokus ke depan di mana si pemilik suara sedang menegurnya.

__ADS_1


"Almeera."


Perempuan itu tersenyum dengan menyipitkan mata, terlihat cantik den memesona. Sangat sesuai dengan pakaian yang kini sedang dikenakannya. Mungkin dulu Alvaro akan menatap perempuan itu dengan penuh kekaguman dan cinta, tetapi tatapan yang seperti itu sudah tiada.


Melihat penampilan Almeera yang begitu angun dan memesona, justru mengajarkan Alvaro agar mengajak Azlina berbelanja pakaian baru. Ya, dia menyadari belum pernah sekalipun mengajak sang istri untuk bsenang-senang dan ... berbulan madu. Bibir Alvaro seketika menyunggingkan senyum bahagia ketika membayangkan rencana baru yang akan dia lakukan bersama Azlina. Namun, senyuman itu tertangkap lain oleh Almeera.


"Apakah aku boleh duduk?"


Lagi, Alvaro merasa terhenyak karena lamunannya disadarkan oleh Almeera. "Tentu, silakan!"


Perempuan itu segera duduk dengan begitu anggun. Mungkin Almeera telah lulus dengan predikat terbaik di sekolah kepribadian, sehingga perempuan itu selalu tampil anggun luar biasa.


"Aku menghubungimu beberapa kali, tetapi ponselmu tidak aktif."


"Benarkah?" Melebarkan senyum, Alvaro menanggapi perkataan Almeera. "Aku lupa mengisi ulang dayanya. Mau minum apa? Biar aku ambilkan."


"Air putih saja." Sebelum Alvaro merespons perkataan Almeera, tiba-tiba Azlina datang dengan tergopoh-gopoh.


"Kak, ikannya gosong."


Azlina datang dengan berlari kecil ke arah Alvaro sembari membawa hasil karyanya ikan bakar yang menghitam bagian luarnya. Tak terlalu fokus dengan langkahnya, Azlina hampir terjungkal jika saja Alvaro tak segera menahannya. "Hati-hati."


Sikap Alvaro yang begitu lembut membuat Almeera tak suka. Apalagi sekarang dengan mata kepala sendiri lelaki itu mengusap pucuk kepala Azlina penuh sayang. Mungkin dua orang itu memiliki hubungan layaknya kakak beradik, bukannya Alvaro memang hanya menganggap Azlina sebagai adiknya daripada sebagai istri.


"Ehem!" Almeera berdehem kemudian, membuat pasangan itu menoleh secara bersamaan.

__ADS_1


"Kak Meera?" Azlina terkejut melihat siapa yang berada di depannya yang mungkin sejak tadi duduk berduaan dengan Alvaro.


》Next, yaa ...


__ADS_2