Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
42. Cemburu


__ADS_3

Lulu menarik tangan Azlina yang terlihat enggan untuk ke sana. Dia masih kesal dengan Alvaro, tak ingin melihat lelaki itu, tetapi Lulu seakan tak mengerti. Dengan semangat gadis itu masih saja menarik tangan Azlina untuk mengikutinya menuju ke tempat Alvaro.


"Om, ceweknya, ya?" Lulu bertanya dengan sok akrab kepada Alvaro. Lelaki itu tampak kikuk menjawabnya.


"Bukan. Hanya teman," jawab Alvaro.


"Ah, enggak usah malu. Kita ganggu, ya, Om?"


"Tidak. Kalau mau gabung juga boleh."


"Bagus!" Lulu tampak bersemangat, tak memedulikan wajah kesal Azlina yang berdiri di sampingnya. "Kami mau makan siang, Om. Mending gabung sama kami. Iya, kan, Na?" Alasan Lulu agar mendapat makanan gratis.


"Enggak!" Azlina menyangkal. Kendati perutnya sudah lapar, tetapi tetap saja dia masih kesal dengan Alvaro. Dia ingin sekali menyingkir dari dua orang menyebalkan di depannya itu.


"Baiklah, kami akan gabung dengan kalian." Alvaro akhirnya mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Almeera. Perempuan itu tampak tak setuju, tetapi tiada yang bisa dia lakukan selain mengikuti mereka.


Azlina duduk di samping Lulu, sementara Alvaro duduk di samping Almeera, tetapi berhadapan dengan Azlina. Gadis itu tampak diam, menunduk ke bawah dan terkadang memalingkan muka, tak ingin menatap Alvaro. Mereka memilih makan di kedai chinesefood yang berada di dalam pusat perbelanjaan.


Lulu masih terus berbicara, sok mengakrabkan diri dengan Alvaro. Berbeda dengan Almeera dan Azlina yang tampak tak acuh dengan posisi mereka. Keduanya tampak sibuk dengan diri mereka sendiri. Azlina yang melihat ke arah lain, memperhatikan pengunjung yang datang, sementara Almeera telah sibuk dengan ponselnya. Hingga ketika pesanan telah datang, mereka langsung menyantap makanan itu tanpa saling bicara.


Ada nasi goreng seafood, bakmie goreng, sup asparagus, dan capcay seafood yang sudah terhidang di meja. Mereka segera mengambil menu pilihan masing-masing untuk dinikmati.


Meskipun Azlina menyantap makanan itu terlebih dulu, tetapi pada akhirnya Lulu lah yang menyelesaikan makannya pertama kali. Gadis itu mengusap bibirnya dengan tisu yang tersedia di meja, lalu menyeruput jus jeruk di depannya.


Tepat ketika Azlina menyendokkan nasi goreng ke mulutnya, Lulu menanyakan hal yang membuatnya terkejut.


"Oh, ya, Na. Siapa yang menggantikan pakaianmu semalam?"


Uhuk-uhuk.


Azlina tersedak makanan yang baru saja ditelannya ketika mendengar pertanyaan Lulu. Sungguh terlalu temannya itu, menanyakan hal memalukan itu.

__ADS_1


Dengan cepat Alvaro mengangsurkan minunan kepada Azlina, tetapi gadis itu menepisnya. Dia mengambil minumannya sendiri tanpa peduli dengan minuman di tangan Alvaro. Azlina menenggak jus jeruk itu hingga tandas. Semua karena pertanyaan Lulu yang memalukan.


"Pelan-pelan, dong, Na. Kamu makan kayak kuli aja, enggak ada elegan-elegannya." Lulu menasihati, terlupa jika dia sendiri makannya paling cepat sendiri dari yang lain.


Azlina tampak tersenyum kecut mendengar penuturan Lulu. Dia tersedak karena pertanyaan itu, tetapi Lulu malah memarahinya.


Alvaro masih memperhatikan sikap dingin Azlina kepadanya. Ada yang aneh dari gadis itu membuat Alvaro merasa terganggu.


Apakah Azlina marah karena dia pergi bersama Almeera?


Bukankah mereka sudah sepakat dengan perjanjian bahwa keduanya akan saling mendukung untuk mendapatkan pasangan yang diimpikan?


Lantas, mengapa saat ini Azlina seolah sedang merajuk kepadanya?


Azlina melanjutkan makan, rasa lapar masih menghantui perutnya. Bersikap tak acuh kepada Alvaro, tetapi mulutnya masih menyantap makanan yang dibelikan oleh lelaki itu. Masa bodoh, bukankah Azlina tak meminta. Alvarolah yang dengan senang hati membayar tagihan mereka.


"Aku pengen nonton." Azlina berkata setelah menelan suapan terakhir nasi gorengnya. Dia ingin terbebas dari Alvaro dan Almeera sehingga dia beralasan ingin nonton film saat ini.


Glek


Azlina menelan minumannya dalam satu tegukan besar. Apa? Film horor? Kenapa kebetulan sekali? Dia takut film horor dan anti untuk menontonnya.


"Apakah ada film lain?"


Lulu seketika melihat ponselnya untuk memastikan jadwal pemutaran film hari ini. Dia tampak menggeleng. "Hanya ada film horor dan film anak-anak. Dahlah! Kita nonton itu aja. Jangan-jangan kamu takut?


"Enggak, mana mungkin aku takut. Jangan meremehkan, ya?"


Azlina menyembunyikan mimik muka ketakutannya. Jelas saja dia tidak boleh merasa lemah di hadapan Alvaro, apalagi di depan perempuan itu, Almeera.


Dia memang masih muda, tetapi bisa dipastikan jika dirinya adalah wanita tangguh, bukan wanita manja yang seperti kebanyakan gadis seusianya.

__ADS_1


"Bagaimana, Om? Om ikut juga, kan?" Lulu memberi sinyal lagi, mencari tontonan gratis dengan mengajak Alvaro bergabung bersama mereka.


Sebenarnya Alvaro enggan menonton adegan horor yang menurutnya lebay itu, tetapi dia masih penasaran dengan sikap Azlina yang tiba-tiba dingin kepadanya.


"Kita akan bergabung. Ya, kan, Meera?"


Almeera tak setuju. Dia menggeleng, lalu ingin beranjak cepat dari meja makan itu. "Aku pulang dulu saja. Aku masih ada urusan. Ren baru saja mengirim pesan."


Perkataan Almeera yang begitu jujur terkait Ren membuat Alvaro tak senang. Ren, Ren, Ren. Seolah nama itu tak bisa terlepas dari Almeera. Sampai kapan dia bisa bersaing dengan nama itu, hingga dia tak lagi merasakan sakit hati setiap saat.


"Kalian bersenang-senanglah. Aku pergi dulu." Tanpa menunggu persetujuan Alvaro, Almeera melangkah pergi. Akan tetapi, Alvaro tidak tinggal diam. Dia mengikuti Almeera, mencoba menghadangnya.


"Kau berbohong, kan?" tanya Alvaro setelah berhasil memaksa Almeera berhenti.


"Menyingkir, Al!"


"Katakan jika kau berbohong hanya untuk menghindariku."


Almeera tampak mendesah kasar. Dia menatap Alvaro dengan begitu tenang. "Apakah kau tidak menyadarinya, Al? Sebaiknya kau harus lebih peka lagi terhadap wanita."


Alvaro mengernyitkan dahi, tak mengerti akan maksud Almeera kepadanya. "Apa maksudmu? Apa yang tidak aku mengerti?"


"Ya, setiap laki-laki memang menyebalkan. Tidak peka dengan perasaan wanita." Almeera memajukan wajahnya mendekat ke arah Alvaro. Begitu dekat, hingga Alvaro merasakan embusan napas perempuan itu. "Istrimu cemburu," bisik Almeera ke telinga Alvaro. Almeera pergi setelah mengatakan hal itu, membiarkan lelaki itu mencerna kalimatnya.


Azlina yang melihat kejadian itu masih menatap tajam ke arah Alvaro yang kini juga tengah menatapnya.


Cemburu? Apakah benar?


》Bersambung ...


Terima kasih yang sudah memberikan jejak. Selamat membaca ...

__ADS_1


__ADS_2