Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
81. Tuntas


__ADS_3

"Maaf, Non. Apa tidak sebaiknya makan dulu. Tuan Besar memerintahkan saya untuk mengajak Nona sarapan sebelum kembali ke rumah Nona Lulu."


Suara Pak Sopir membuyarkan lamunan Azlina. Dia bahkan terlupa jika belum memakan apa pun sejak semalam. Anggukan dilakukannya untuk merespons perkataan sopir itu. Meskipun dia tak merasa lapar, tetapi dia harus tetap mengisi perutnya untuk bertahan hidup, demi memperjuangkan cintanya, demi Alvaro.


Melihat Azlina mengangguk dari kaca spion tengah, sopir itu melajukan mobil menuju sebuah rumah makan terdekat yang sudah dalam posisi buka, karena tidak semua rumah makan buka di jam makan pagi.


Azlina turun dari mobil yang kemudian melangkah masuk ke dalam rumah makan itu. Dia memilih duduk di sisi terdekat dengan pintu masuk, yaitu di dekat dinding kaca yang bisa melihat pemandangan di luar ruangan.


Seorang Waiters mendatangi Azlina untuk memberikan menu masakan kepadanya. Dia berpikr sejenak untuk memilih dan memilah menu makanan apa yang sedang ingin dia makan, lalu terlintas di kepalanya untuk membawa pulang saja beberapa makanan yang nantinya akan dimakan bersama Lulu. Sungguh saat ini dia sama sekali tak berselera makan.


Azlina mengembalikan daftar menu itu kepada pelayan setelah memesan dua porsi makanan untuk dirinya dan Lulu. Dia menyangga kepalanya dengan kedua tangan yang ditekuk dalam posisi menunduk. Kepala Azlina terasa sangat pusing saat ini, memikirkan nasib kehidupan dia selanjutnya.


Menyembunyikan mata sembab, Azlina mengeluarkan kacamata dari dalam tas yang sebelumnya telah dia siapkan, lalu mengenakannya sembari menguncir rambutnya dengan kuncir kuda. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja menunggu pesanannya datang. Pandangannya tampak kosong setengah melamun, tetapi pandangan kosong itu berubah tatkala melihat seseorang yang barus saja melintas di depan matanya.


Seorang pria yang begitu dia kenal sedang bergandengan mesra dengan wanita seusianya. Azlina mengucek matanya, mencoba menghalau perasangka buruk yang ada dalam pikirannya. Namun, semakin dirinya menajamkan pengelihatannya dari mata yang sembab itu, semakin jelaslah sosok itu.

__ADS_1


"Elang?"


Dari balik meja yang diduduki Azlina, Elang dan wanita itu terlihat sangat akrab dengan sesekali tawa menyelingi obrolan mereka. Lelaki itu terlihat mengusap pipi perempuan itu dan menatapnya penuh sayang, mengingatkan Azlina akan kencan mereka tempo hari. Elang juga memperlakukan Azlina dengan sama hangatnya, membuat dirinya percaya dan terperdaya akan kesungguhan lelaki itu.


Merasa tidak tahan lagi, Azlina beranjak dari duduknya, menghampiri meja Elang. Ada yang perlu diluruskan di sini. Sejak lelaki itu mengatakan ada turnamen basket di luar kota, Azlina sama sekali tak bisa menghubunginya. Hingga pagi ini, di depannya lelaki itu justru sedang bermesraan dengan wanita lain dan tidak mengabari dirinya jika sudah kembali dari turnamen yang lelaki itu ikuti.


Azlina benar-benar geram, sehingga tanpa berpikir panjang dia menggebrak meja Elang yang membuat kedua sejoli itu terperanjat dari duduknya.


"Na!" Elang tampak gelagapan ketika melihat Azlina di depannya.


Azlina pikir Elang akan meminta maaf karena telah membohonginya, tetapi ternyata salah. Setelah menunduk, pria itu menengadahkan wajahnya menatap Azlina seraya tersenyum menjengkelkan.


"Karena kau sudah tahu, sebaiknya aku memperkenalkanmu dengannya. Dia Aiden, putri seorang pejabat negara. Kami hari ini resmi berpacaran."


Azlina cukup terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin Elang dengan tak memiliki rasa belas kasihan mengatakan itu di depannya secara langsung tanpa perlu meminta maaf.

__ADS_1


"Apa? Lalu, ...."


"Hubungan kita?" Elang sedikit terkekeh yang terdengar begitu menjengkelkan di telinga Azlina. "Ayolah, Na. Aku memasang fotomu di media sosialku hanya sebagai pencitraan. Orang akan berpikir jika Elang Atmadja sang kapten basket sekolah dan memiliki orang tua kaya raya, pemilik banyak hotel berbintang mau menjalin hubungan dengan seorang gadis polos sederhana seperti dirimu."


"Apa?" Azlina masih tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan Elang kepadanya. Cowok itu ternyata begitu picik pikirannya.


"Tapi, jika kamu masih ingin menjadi wanita favorit Elang Atmadja, aku sama sekali tidak keberatan menjalani hubungan pura-pura itu bersamamu."


"Heh!" Azlina menggeleng dengan tersenyum mengejek. Ternyata beginilah seorang Elang yang sejak dulu dikaguminya. Hanya sesosok pria sombong dan tak memiliki hati serta perasaan. Beruntung ketika mereka hendak berciuman, Alvaro menariknya dari sana sehingga bibirnya tidak sampai terjamah oleh lelaki busuk di depannya itu. "Kau tidak perlu repot-repot melakukan itu. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu di sini, karena sudah sejak lama aku ingin segera menyelesaikan hubungan ini. Ya, kau Elang Atmadja yang terhormat tidak pantas menjadi pasanganku."


Azlina ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi seorang pelayan menghampirinya dengan membawa bill dan pesanan makanannya.


Azlina mengalihkan perhatiannya kepada pelayan itu, mengambil alih kantung kertas yang berisi pesanan juga bill tagihan yang harus dibayarnya. Senyuman dia tunjukan kemudian, begitu Elegan tanpa emosi, lalu meletakkan bill itu tepat di depan Elang dengan sedikit menggebrak meja. "Tagihannya jadikan satu dengan miliknya!" ucap Azlina kemudian tak melepaskan senyuman itu kepada Elang yang masih mematung di tempat.


Azlina segera beranjak, melangkah pergi tanpa menoleh lagi kepada dua orang munafik yang tertinggal di sana.

__ADS_1


Ya, ternyata Tuhan telah menuntunnya dengan jalan yang tepat, menyelamatkannya dari hati yang terluka akan seorang pria yang ternyata sedang memanfaatkan kondisinya demi sebuah popularitas semata.


__ADS_2