
Senyuman miring ditunjukkan Alvaro kepada perempuan itu. Tak menyangka dalam hal ini Almeera bisa memanipulasi ekspresi.
"Mama menuduhnya berselingkuh. Aku heran, siapa yang memberitahu Mama tentang hubungan istriku dan Elang? Seharusnya orang itu juga mengatakan tentang ketidaksetiaanku kepada Azlina, bukan? Bahwa aku juga berselingkuh selama ini."
Alvaro menjeda kalimatnya, mencoba menarik Almeera dalam pembahasannya. "Tapi ternyata tidak, dia tak memberi tahu Mama tentang aku yang mendekatimu. Jadi, Mama sama sekali tak menyalahkanku. Mama hanya menyalahkan Azlina. Setidaknya aku merasa selamat. Aku ingin berterima kasih kepada orang itu."
Almeera terkekeh ringan, menyesap cappuccino yang tinggal separuh itu. "Ayolah, Al! Siapa lagi yang bisa melakukan itu?"
"Maksudmu?" Alvaro mengernyit, seolah begitu penasaran dengan kalimat selanjutnya yang terucap dari bibir Almeera.
"Yeaah, tentu saja aku yang memberi tahu semuanya. Sejak awal aku tidak suka dengannya. Apalagi kau terlihat semakin perhatian kepadanya. Rasanya ingin sekali aku mengusirnya dari kehidupanmu segera. Aku ... tidak menyukainya, Al. Aku ... cemburu."
Pandangan Alvaro meredup ketika mendengar perkataan Almeera. Ternyata perempuan ini sudah mulai menyukainya, tetapi dia sudah tak menginginkannya lagi. Apakah itu terdengar sangat jahat?
Memilih tak menanggapi, Alvaro mengulurkan tangannya meraih tangan Almeera.
__ADS_1
"Lalu, cincin ini?" Alvaro menyentuh tangan Almeera, menunjuk cincin yang sejak tadi menjadi perhatiannya.
Terlihat senyum Almeera mengembang. Ada rona malu-malu di pipi serta merambat ke hidung. "Maaf, aku terlalu suka dengan desainnya. Aku mengenakannya sebelum kau memberikannya kepadaku."
"Tidak apa, hanya saja aku sempat mencarinya. Aku pikir hilang padahal sangat sulit memesannya."
Almeera menggeleng, lalu melepaskan cincin itu dari jemarinya. "Tidak, tentu saja tidak hilang. Aku menemukannya ketika kau terjatuh setelah memakan siomay itu. Dan aku yakin jika itu adalah cincin yang akan kau berikan ... kepadaku, sehingga aku menyimpannya. Aku tahu itu cincin berharga, bukannya kau sudah menyiapkan waktu untuk mengajakku bicara empat mata saat itu. Aku ... tidak menyangka jika kau akan melamarku dengan mempersiapkan cincin ini."
Alvaro mengambil alih cincin tersebut dari tangan Almeera, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya. "Maaf, ya. Aku harus memberikan cincin ini kepada pemilik sesungguhnya."
Alvaro tersenyum kemudian, menanggapi dengan santai sikap terkejut Almeera. "Maafkan aku, Meera. Aku pernah mengatakan kepadamu, bahwa aku akan menyelesaikan permainan yang telah kubuat sendiri, bukan?"
Almeera mengangguk, "Kau sudah menyelesaikan pernikahanmu dengan gadis itu?"
"Tidak, aku mengakhirinya dengan menerima Azlina sebagai istriku. Aku mencintainya, Almeera. Aku mencintai istriku. Dan cincin ini ... bukan untukmu, melainkan untuk istriku, Zizi. Ini adalah kado ulang tahun untuknya yang belum selesai dikerjakan, sehingga aku meminta bantuanmu untuk mencari kado yang lain. Bukan karena aku melupakan ulang tahun istriku, bukan. Karena hadiahku yang sesungguhnya adalah cinta yang sudah aku utarakan kepadanya malam itu. Dan ini ...." Alvaro menunjuk cincin yang ada di dalam saku kemejanya, "... hanya sebagai formalitas bukti cintaku kepadanya."
__ADS_1
Almeera ternganga dengan tangan terkepal mendengar penuturan panjang lebar Alvaro yang sangat di luar dugaannya. Mana mungkin gadis polos yang minim pengalaman itu bisa mengalahkan dirinya. Azlina jelas jauh di bawah standart-nya. Almeera merasa tak terima jika Azlina bisa terlihat lebih unggul dirinya.
"Tidak mungkin! Kau berbohong, bukan? Kau mencintaiku." Dia berkata sedikit menekan sambil menunjuk dirinya. Sorot matanya tak bisa menahan rasa kesal serta kecewa.
"Ya, aku mencintaimu. Tapi dulu, ketika kau tidak menatapku sama sekali. Aku sampai mengabaikan sosok luar biasa yang seharusnya aku perhatikan karena terlalu terlena dengan pesonamu. Beruntung aku menyadarinya sebelun terlambat. Aku mencintai Azlina dan akan menjadikannya istri yang sesungguhnya. Terima kasih kau telah menunjukkan watak aslimu kepadaku, Meera, sehingga aku merasa keputusan untuk memilih Azlina sebagai pendamping hidupku adalah benar."
"Kau ...." Almeera ingin membalas perkataan Alvaro, tetapi urung dia lakukan. Dia masih memiliki rasa malu melihat banyak orang yang sedang memperhatikan dirinya dan Alvaro.
"Almeera, maafkan aku. Aku harap kau bisa menemukan pria yang pantas untuk mendampingi hidupmu. Aku sudah beristri dan akan membawa istriku kembali bagaimanapun caranya."
Alvaro menaikkan tangannya, memanggil pelayan untuk menyerahkan tagihan pesanannya. Dia menyerahkan dua lembar ratusam ribu tanpa meminta kembaliannya lagi yang tentu saja ditanggapi dengan senyum merekah pelayan itu.
"Aku akan mencari Azlina. Aku sudah memesankanmu taksi. Terima kasih atas waktunya dan ... sudah menemukan cincin ini. Aku permisi," ucap Alvaro kemudian seraya melangkah pergi meninggalkan Almeera seorang diri.
Perempuan itu menahan gejolak amarahnya di dada. Hidungnya kembang kempis tak beraturan, dia ingin marah, tetapi berusaha menahannya. Tangannya terkepal, menunjukkan sorot murka yang nyata.
__ADS_1
"Azlinaa, wanita tidak tahu diri!"