
Pukul sepuluh malam, tepat ketika Alvaro hendak mengambil minum di dapur. Terdengar sayup-sayup suara sang Mama dan papanya mengobrol di luar area belakang rumah.
Lelaki itu melangkah dalam senyap, takut jika pergerakan kakinya mengganggu perbincangan kedua orang tuanya. Dia memasang telinga lebar-lebar, mencuri pendengaran percakapan mama dan papanya.
"Jadi, Mama ke rumah Zizi tadi siang?" Suara Papa Agus melembut, tak terdengar menyalahkan atau memarahi istrinya.
Mama Rani mengangguk mengiakan, lalu berkata, "Mama bingung, Pa." Perempuan itu menengadahkan kepalanya, menatap langit dengan semburat bintang yang bertabur di angkasa. "Mama ingin Alvaro bahagia, tetapi Mama juga ingin Almeera yang menjadi menantu Mama."
"Kenapa Mama tiba-tiba tidak menyukai Zizi? Bukannya Mama dulu sangat menyayanginya? Ingatlah, Ma. Ketika kita merayu keluarga Zizi agar mau menyerahkan anaknya untuk putra kita? Di mana perasaan kita sebagai seorang mertua yang memperlakukan anak gadis orang dengan semena-mena?"
Mama Rani tampak berkaca-kaca, dia mengingat bagaimana dulu begitu gigih menikahkan Alvaro dengan Azlina, meskipun kedua orang tua Azlina menolak karena anak gadisnya masih sekolah. Akan tetapi, dia masih saja enggan untuk menyadari keegoisannya.
__ADS_1
"Tapi, Pa ... Mama masih kesal dengan keluarga mereka." Menatap sang suami penuh pengharapan agar apa yang dia ucapkan bisa meluluhkan hati lelaki itu.
"Sean Paderson menyuruh atasan Almeera memecat Almeera dari jabatannya hanya karena masalah pribadi. Apa Papa tahu bagaimana piciknya mereka? Mama merasa bersalah dengan Almeera, Pa. Karena Mama yang membujuknya untuk menikah dengan Alvaro, tetapi karena hal itu justru membuatnya dipecat dari pekerjaan. Pa, masukkan Almeera ke kantor Papa, ya? Siapa tahu dengan begitu dia menjadi lebih dekat dengan putra kita."
"Cukup, Ma! Papa sudah tahu semuanya. Almeera dipecat bukan karena Alvaro, tetapi dia terlibat korupsi. Jadi, jangan menganggap semua itu adalah kesalahan keluarga menantu kita. Dia tidak bersalah apa-apa. Kitalah yang bersalah kepadanya."
Perempuan itu menggeleng, tak memercayai ucapan suaminya. Dia merasa suaminya telah dipengaruhi oleh Sean Paderson. Melihat bagaimana menyeramkannya lelaki berdarah Kanada yang pengaruhnya hampir absolute, pasti membuat suaminya takut tak berkutik.
"Tidak, Mama memercayai Almeera tidak bersalah. Smeua hanya akal-akalan Sean Paderson agar Almeera terpuruk dan tidak mengganggu Alvaro lagi. Dia ke rumah, menangis karena merasa diperlakukan tidak adil. Pa, kita harus membantunya. Mama ingin sekali dia menjadi menantu Mama."
...***...
__ADS_1
Di Bandara, sudah menunggu Sean dan Salwa akan kedatangan Azlina. Hari ini adalah jadwal keberangkatan perempuan itu untuk mengenyam pendidikannya di luar negeri seperti cita-citanya sejak awal.
Tak selang beberapa lama, Azlina datang bersama kedua kakak laki-lakinya untuk ikut mengantar kepergiannya. Dua buah koper diseret oleh Ahsan dan Alfatih, sementara Azlina hanya membawa tas ransel dan tas slempang kecil yang menjuntai di pinggang.
Salwa mengangguk dan tersenyum, menghampiri adik bungsunya itu. Mereka berpelukan dengan berderai air mata melepas kepergian Azlina.
"Mbak akan merindukanmu. Mbak yakin kamu bisa melewati ini semua. Tunjukkan kepada semua orang bahwa kamu bisa menjadi wanita yang luar biasa."
Azlina mengangguk dalam pelukan Salwa. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dua minggu sejak kejadian di rumahnya, tak ada kejelasan dari Alvaro. Lelaki itu selalu menghubunginya setiap hari, menanyakan kabarnya, dan kehamilannya yang belum juga ada tanda-tanda. Akan tetapi, dia tak pernah membahas tentang mamanya. Apakah ada kemajuan dalam mengambil hati Mama Rani atau tidak? Mungkin memang belum ada kemajuan yang berarti, sehingga Alvaro memutuskan tak memberi tahu Azlina agar istrinya itu tak bersedih.
Pelukan itu terurai, dengan mata sudah penuh sesak akan air mata.
__ADS_1
Azlina meminta izin sebentar untuk menghubungi seseorang. Dia menepi setelahnya, mencari ketenangan untuk menghubungi satu nama. "Alvaro".
...***...