
Sejak dinyatakan sehat oleh pihak rumah sakit, Alvaro langsung membujuk kedua orang tuanya agar segera menemui sang mertua. Dia tak ingin membuang waktu dengan lama-lama berbaring di rumah sementara rindu yang menggebu tak sanggup ditahan lagi.
Kenyataan jika Azlina telah mengganti nomor teleponnya membuat Alvaro semakin gelisah saja. Padahal dia tak bisa tidur sebelum mendengar suara sang istri mengucapkan selamat malam kepadanya yang diiringi kecupan jauh yang terasa menggelitik perasaannya. Konyol, memang begitulah kenyataannya. Alvaro merasa sudah tergila-gila dengan perempuan itu.
Menghilangnya Azlina yang tak tahu ada di mana membuatnya benar-benar kelimpungan, sehingga dirinya begitu dinyatakan sehat dan sudah boleh keluar dari rumah sakit, dia langsung mengajak kedua orang tuanya menuju kediaman Pak Samsul.
"Ayolah, Ma, Pa! Kalian tidak kasihan dengan anak sendiri." Alvaro seperti anak kecil yang sedang merajuk. Dia tak menunjukkan harga dirinya sebagai pria dewasa berusia kepala tiga.
"Al, umurmu sudah kepala tiga, bersikaplah sebagai dewasa! Malu Zizi punya suami modelan kayak kamu. Besok kita temui orang tua Zizi. Papa masih lelah sekarang!"
Tidak ada yang bisa dilakukan Alvaro selain menurut. Mana mungkin Azlina bisa malu memiliki suami sepertinya, perempuan itu kan cinta mati dengannya. Ya, Alvaro begitu percaya diri jika dirinya sosok yang sempurna untuk Azlina, tiada yang lain.
Alvaro mendengkus kesal, tetapi dia memilih menurut, menahan perasaan yang sudah membuncah ingin segera memeluk dan membawa pulang Azlina kembali.
Sabar, ya, Hati. Kita temui sang pujaan hati esok hari.
...***...
__ADS_1
"Ini, sarapan untukmu!" Azlina menyodorkan sepiring nasi goreng kepada Leon di atas meja. Dia juga meletakkan sepiring lain di sisi yang berseberangan dengan lelaki itu.
Hari ini adalah hari terakhir Leon menemani Azlina di negara tersebut, karena pekerjaan yang sesungguhnya telah menanti. Dia tak mungkin berlama-lama di negara tersebut, meskipun sebenarnya dia mulai betah bersama adik bungsu Salwa itu.
"Sepertinya enak. Emm, boleh aku tanya sesuatu?"
Azlina yang baru menyuapkan nasi goreng ke mulut tiba-tiba berhenti, menunggu Leon melanjutkan perkataannya. "Tanyakan!" ucap Azlina untuk kemudian melanjutkan makan.
Sembari mengunyah nasi goreng tersebut, Azlina memperhatikan Leon yang tampak ragu melanjutkan perkataannya. "Katakanlah! Kau mau tanya apa?"
Azlina tersenyum, tetapi kepalanya menggeleng. "Tidak. Kami hanya sedang memintal rindu. Siapa yang bisa menahan rindu, dia akan menang. Dan kali ini, aku yakin jika aku yang akan menang."
"Pasangan yang aneh!"
Meskipun begitu, Leon merasakan kehangatan bisa memakan masakan rumahan bersama seorang wanita. Dia yang sebelumnya telah patah hati dan belum menemukan sosok yang tepat sebagai penggantinya, membuatnya berpikir untuk membina rumah tangga juga. Bahkan, saudara angkat satunya yang menyebalkan kini telah memiliki empat orang anak. Berbeda dengan dirinya yang sampai saat ini masih betah menyendiri.
"Begitulah. Kami memang aneh, tetapi kami saling mencintai," ucap Azlina dengan senyum tipis di bibir. Ya, dia masih sangat berharap Alvaro bisa menyusulnya ke sini dengan membawa kabar baik kepadanya.
__ADS_1
Mereka akhirnya melanjutkan sarapan, tanpa banyak berkata-kata lagi.
...***...
Saat itu, Azlina masih berada di dalam bus umum yang mana akan membawanya ke halte terdekat dengan apartemennya. Setelah kepergian Leon yang menganggap Azlina sudah bisa menjaga diri dan hafal jalan pulang, perempuan itu kian berjaga-jaga jika ada orang yang tak dikenal mengganggunya.
Rintik hujan mulai membasahi bumi tatkala mendung tiba-tiba datang menutupi langit yang membentang. Bersamaan itu, halte yang dituju Azlina hampir sampai.
Harusnya sekarang memasuki musim panas, tetapi menurut Badan Klimatologi akhir-akhir ini cuaca tidak menentu sehingga setiap pagi penduduk diwajibkan mengecek aplikasi perkiaraan cuaca di gadget masing-masing. Sayangnya, lantaran terlalu terburu-buru, Azlina tak sempat memeriksanya. Dia lupa membawa payung. Pakaiannya pun bukanlah pakian yang tebal, melainkan pakaian yang sedikit tipis, yaitu blouse lengan panjang.
Bus itu berhenti tepat di halte yang Azlina tuju. Pintunya terbuka otomatis, dan dengan segera perempuan itu turun seraya menaungi kepalanya dengan kedua telapak tangan. Entah mengapa, dia merasa ada seseorang yang tengah memayungi dirinya sehingga tak ada air menetes lagi menerpa wajahnya.
Dia menengadahkan wajah, mendapati sebuah jaket yang bertopang pada lengan kekar menaungi dirinya dari rintik hujan. Tak sempat Azlina memperhatikan wajah yang berdiri di belakangnya karena kakinya terus berjalan cepat hingga sampai di trotoar. Mereka berteduh di halte bus dengan lelaki bertopi itu mengibaskan jaketnya untuk mengurangi kadar air di dalamnya.
Azlina ingin berterima kasih, tetapi belum sempat dia mengatakannya, pria itu menoleh ke arahnya. Begitu cepat hal itu terjadi, tanpa aba-aba sebelumnya, lelaki itu menunduk, mencuri satu kecupan di bibir Azlina, membuat perempuan itu membeliakkan matanya terkejut.
》Siapa hayooo yg main sosor aja.... 🤭🤭
__ADS_1