Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
116. Campur Tangan Sean


__ADS_3

Almeera melangkah dengan tegap, melewati area staf keuangan menuju ruangannya yaitu manager keuangan. Dia selalu bersikap percaya diri, baik dengan penampilannya maupun kemampuannya sehingga membuat semua orang yang memandangnya akan merasa takut sekaligus hormat.


Hingga ketika dirinya telah mencapai ambang pintu ruangannya dengan tangan sudah meraih kenop pintu, seseorang memanggilnya.


"Maaf, Bu. Presdir memanggil Ibu ke ruangannya."


Almeera sudah menduga bahwa ini akan terjadi, tetapi dia tak menyangka jika Sean Paderson bergerak secepat itu. Bahkan, dia baru sampai ke kantor dan belum sempat masuk ke ruangannya, lelaki itu sudah memulai rencana.


"Aku akan ke sana."


Seseorang yang memberi informasi tersebut mengangguk seraya undur diri setelahnya.


Kini, Almeera memilih memasuki ruangannya terlebih dulu guna menenangkan hati serta pikiran sebelum menemui seseorang yang tampaknya akan berbahaya dan menguras emosi. Dia menghirup udara dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan.


Jika terjadi sesuatu dengan kariernya, dia masih memiliki Mama Rani dan Alvaro. Bagaimanapun caranya, Alvaro harus mau menerimanya karena dia sudah terlalu jauh memperjuangkan dan mengorbankan apa yang telah menjadi miliknya.


Setelah beberapa saat duduk dengan memikirkan banyak hal sebagai pertimbangan, Almeera akhirnya beranjak dari kursi putarnya untuk kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu.


"Kita lihat, siapa pemenang dan pecundangnya kali ini," gumamnya disertai senyuman penuh arti.


...***...


Sebuah ketukan terdengar dari luar, mengalihkan perhatian dua orang yang sedang bersitegang di dalam ruangan itu. Mr. Richard yang merupakan pimpinan perusahaan mengangguk dan berteriak mengizinkan seseorang yang mengetuk pintu tersebut agar segera masuk.

__ADS_1


Terlihatlah di sana Almeera dengan anggun dan senyumnya yang mengagumkan berdiri di ambang pintu. Perempuan itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu.


Matanya langsung disuguhkan dengan wajah penuh ancaman seorang Sean Paderson yang berada di balik topeng wajah yang tersenyum itu. Tatapan lelaki itu begitu tajam, menusuk langsung ke kedalaman mata Almeera, membuat perempuan itu tanpa sadar memundurkan langkah lantaran sempat tersesat di lingkaran manik biru berkilauan itu.


Bola mata yang seharusnya indah jika dipandang, justru tampak mengerikan, membuat rasa percaya diri dan keberanian Almeera yang sebelumnya dikumpulkan dengan sekuat tenaga menjadi menyusut dengan sendirinya.


"Duduklah, Almeera!" Perintah Mr. Richard kepada Almeera.


Perempuan itu sempat tersentak karena melamun, terlampau terpaku dengan pandangan Sean Paderson yang begitu menakutkan. Dia menelan ludah kemudian, menetralisir rasa gugup serta mengumpulkan kembali keberanian yang sempat tercecer beberapa waktu yang lalu. Dia mengangguk setelahnya, mengambil posisi duduk di sofa panjang dekat pintu.


Kini, sunyi menyelimuti ruangan itu. Belun ada yang membuka percakapan karena kedua orang laki-laki di depan Almeera itu tampak sibuk dengan Personal Computer mereka. Sesekali Sean Paderson dan Mr. Richard terlibat perbincangan serius menggunakan bahasa mereka, yaitu Prancis. Kedua orang itu memang berkebangsaan Kanada dan bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa resmi negara tersebut.


Almeera merasa seperti tidak dipedulikan di ruangan itu, ingin pergi tidak berani, ingin menyela perbincangan dua orang berpengaruh di depannya itu juga tak mungkin. Nyali yang sempat dia banggakan sejak tadi lenyap sudah. Dia merasa kerdil di sini, apalagi dia tak mengerti apa yang sebenarnya kedua orang tersebut sedang perbincangkan.


Dan ketika Almeera hampir bosan karena telah lama menunggu, Mr. Richard memulai pembicaraan.


Perempuan itu segera mengalihkan perhatiannya kepada sang atasan, menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan kepadanya. "Iya, Pak!"


"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"


"Dua tahun, Pak. Ya, sekitar dua tahun." Almeera menjawab dengan yakin.


"Dan selama dua tahun, kau hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk mencapai posisi ini?"

__ADS_1


Pertanyaan Mr. Richard sukses membuat Almeera terkejut. Posisinya memang begitu mudah dia raih setelah perjuangan tiga bulan menjadi seorang staf keuangan saat itu. Akan tetapi, selama ini tak pernah sekali pun seseorang membahas masalah itu di hadapannya. Seolah-olah hal yang sedang menimpanya memang benar-benar atas dasar kualitas serta kemampuannya yang luar biasa. Dia pantas mendapatkan itu semua tanpa ada yang berani mendebat atau pun meragukannya.


Namun, setelah dirinya bertahta selama dua tahun ini, baru kali ini hal itu dipertanyakan membuat jiwa Almeera terusik seketika.


"Ya, Pak. Saya diangkat setelah tiga bulan menjadi staf keuangan karrna dinilai pantas dan mampu mengemban tugas ini setelah manager keuangan lama dipecat dari perusahaan."


Lelaki berbadan jangkung itu mengangguk, mengalihkan pandangannya ke arah Sean Paderson. Dan secara bersamaan Almeera merasa akan ada badai yang menghantam kariernya yang cemerlang itu.


Melihat senyum penuh misteri dan peringatan yang terlihat sekelebat di bibir lelaki itu sudah membuktikan jika dia dan kariernya sedang terancam.


"Nona Almeera, ini adalah perusahaan besar. Seorang Manager di sini wajib memiliki kualifikasi tinggi, paling tidak lulusan strata dua Bisnis dan Manageman Keuangan dari Universitas luar negeri. Melihat dari ijazah strata satumu dengan IPK yang tidak terlalu tinggi, akan menjadi sebuah kejanggalan tersendiri bisa menempati posisi manager keuangan dengan rentan jangka waktu secepat itu."


Almeera tak terima, dia segera menjawab apa yang menjadi keraguan pimpinannya itu. "Saya diangkat karena dinilai mampu. Ijazah hanya sebuah tulisan, tak menentukan kemampuan tersembunyi dari pemiliknya. Bukankah selama saya menjabat, tak ada satu hal pun yang bermasalah? Semua karena memang saya bisa diandalkan dalam mengemban jabatan ini."


Mr. Richard tak membantah kalimat yang diutarakan Almeera. Benar sekali jika tak ada hal yang bermasalah selama Almeera menjabat, hingga semua teman-teman staf keuangan merasa Almeera memang mampu dan pantas menduduki posisi tersebut. Namun, hal itu justru menarik perhatian Sean Paderson.


Semalaman Sean Paderson mengamati dan meneliti sepak terjang Almeera di perusahaan itu. Meretas akses database perusahaan dan semua berkas digital yang tersimpan di dalam server diteliti oleh lelaki itu. Dan apa yang dia temukan membuatnya semakin yakin jika ada sabotase, penipuan, serta drama yang dilakukan dua orang penting perusahaan atas naiknya jabatan Almeera yang dinilai tidak wajar.


Mr. Richard mengambil berkas yang sepertinya sudah disiapkan oleh Sean Paderson di depannya. Lelaki itu membaca sejenak yang memang sebelumnya sudah dia pelajari sesaat setelah Sean datang ke ruangannya. Pria bermata biru cerah itu mengarahkan tatapannya ke arah Almeera, menjulurkan berkas tersebut ke depan. "Lihat ini! Apakah kau terlibat di dalamnya?"


Almeera bergeming sesaat. Ada rasa waswas di dalam diri. Sedikit ragu dia mulai beranjak, lalu melangkah perlahan menuju meja Mr. Richard.


Tangannya sudah menyentuh berkas yang tersusun di dalan map biru tua tersebut. Dibukanya dengan hati-hati, dan begitu map itu terbuka, dia disuguhkan sesuatu hal yang membuatnya tak percaya.

__ADS_1


Matanya membeliak, dipenuhi keterkejutan yang nyata, tak menyangka hal yang selama ini tertutup rapat telah dengan mudah dikorek dan ditemukan oleh lelaki di depannya itu. Tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi mati kutu. Dia terpaku dalam rentetan tulisan serta gambar yang sudah terbuka lebar di depannya, sehingga membuatnya gemetar dan kesulitan hanya untuk menelan ludahnya sendiri.


"Tidak mungkin. Ini semua tidak mungkin!" ucapnya dengan keringat yang mulai membanjiri kening serta pelipisnya.


__ADS_2