
Udara siang menjelang sore itu tak terlalu panas. Matahari tampak malu-malu bersembunyi di balik gumpalan awan putih yang membentang menutupi langit, membuat para pemgendara yang sedang bergelut di atas jalanan beraspal dengan debu berterbangan bersamaan asap knalpot dan bunyi klakson dari kendaraan-kendaraan lain menjadi lebih terlindungi. Karena pada hari biasanya di bulan Juli sampai dengan September, yaitu ketika musim panas terjadi, matahari terasa begitu terik menyengat kulit.
Mungkin, Tuhan sedang berbaik hati kepada sepasang suami istri itu yang kini sedang berboncengan menggunakan motor impian para rider yang harganya tentu tidak main-main.
Pelukan itu kian mengerat ketika Alvaro mulai menaikkan kecepatan laju kendaraannya, berharap agar dia bisa mendapatkan momen terbaik untuk membawa Azlina ke tempat tujuannya.
Senyumnya mengembang di kala merasakan perempuan itu mendekap tubuhnya erat, seolah memasrahkan diri kepadanya. Tak ada sepatah kata pun terucap di antara mereka, hanya pelukan hangat yang diiringi embusan angin yang menerpa wajah keduanya karena tak menutup secara sempurna kaca helmnya.
Alvaro menghentikan motornya ketika mereka sampai di sebuah taman yang berada di tengah kota. Memarkirkan di tempat yang aman, lelaki itu mengulurkan tangan ke arah Azlina agar segera turin dari motornya.
"Ayo!"
Genggaman tangan itu mengerat, dengan Azlina mulai turun dari kendaran roda dua berukuran lebih besar dari ukuran motor pada umumnya. Mereka sedikit berlari-lari kecil untuk menuju taman yang menjadi tujuan Alvaro kali ini.
Parc des Buttes-Chaumont, sebuah taman terbesar kelima yang ada di kota Paris dengan arsitektur unik, memadupadankan beberapa ekosistem, seperti danau, jembatan, dan rimbunnya pepohonan membuat kawasan wisata itu kian tampak indah dan romantis.
__ADS_1
Alvaro membantu Azlina berjalan, melewati undakan-undakan kecil yang sengaja dibuat untuk bisa mendaki sampai ke puncak. Meski sedikit tertatih-tatih untuk melewatinya, keduanya berhasil sampai di puncak, menampilkan pemandangan yang luar biasa indahnya.
"Kakak!"
Azlina sedikit memekik begitu Alvaro menarik lengannya, lalu memeluknya dari belakang.
Semburat rona jingga di ufuk barat tampak memesona membias di wajah sepasang suami istri itu. Azlina bahkan tak sanggup untuk berkata-kata melihat apa yang disuguhkan di depan mata.
"Sykurlah, kita belum terlambat!"Alvaro mencium pipi kiri perempuan itu setelah mengatakannya.
"Sama-sama. Kakak senang jika kamu menyukainya."
Keduanya memejamkan mata, merasakan kehangatan sinar mentari yang hampir tenggelam itu, menikmati keindahan panorama kota Paris dari batas ketinggian dengan memeluk sang terkasih.
Dalam dekapan itu, Alvaro membalikkan tubuh sang istri sehingga kini mereka saling berhadap-hadapan.
__ADS_1
Di bawah sinar hangat mentari yang hampir tenggelam di batas cakrawala, lelaki itu menyentuhkan bibirnya di bibir sang istri, merengkuhnya dengan penuh kelembutan, menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya yang meluap-luap di dalam hati.
Sampai ketika perempuan itu tak mampu lagi menahan hujaman dari sikap Alvaro yang selalu memabukkan, hingga kakinya hampir melemas tak sanggup menopang berat tubuhnya jika saja lengan kekar itu tak menahannya, Alvaro berkata lembut kepadanya. "Bisakah kita tuntaskan di apartemen saja?"
Bola mata bulat berbingkai bulu mata lentik itu mengerjap, meraup kesadaran dalam dirinya yang sebelumnya sempat dibuat lelaki itu melayang. Dia menghela napas perlahan kemudian, bersamaan rona merah jambu yang sudah membias di wajah yang telah diterpa sinar jingga senja merona.
"Kakak ... mau apa?"
"Tentu saja mau kamu," ucap Alvaro tanpa ingin menutup-nutupi, membuat wajah Azlina semakin merah menahan malu.
...***...
__ADS_1
》Lanjut, gak? 🤭