
Alvaro berbalik setelah itu, memasuki kamar di mana Azlina masih terbaring di dalamnya. Dia menutup pintu itu, mengincinya dari dalam.
Pandangannya mengarah kepada Azlina yang juga tengah menatapnya. Pandangan gadis itu begitu sayu tak bertenaga. Bibirnya bergetar dan membiru menunjukkan jika dirinya sedang kedinginan lantaran mengenakan pakaian basah kuyup di ruangan ber-AC.
Alvaro mengambil bathrobe, menanggalkan pakaiannya yang juga basah kuyup, meletakkannya di tempat laundry. Dia kembali menghampiri Azlina dengan satu bathrobe lain di tangan.
Lelaki itu menegakkan tubuh Azlina menjadi posisi setengah duduk dengan menopang punggung gadis itu menggunakan lengannya. Perlahan dia turunkan cardigan yang dipakai Azlina, menyisakan dress tanpa lengan yang masih melekat di tubuh gadis itu.
Alvaro tampak meneguk ludah, memikirkan atas apa yang akan dia perbuat kepada Azlina. Dia berbisik kemudian di telinga gadis itu. "Maafkan aku. Aku harus melepaskan pakaianmu."
Tampak Azlina tak setuju dengan perkataan Alvaro. Gadis itu menggelengkan kepala dengan lemah, tetapi kalimat selanjutnya yang terucap dari bibir Alvaro membuat Azlina tak bisa menolak permintaan lelaki itu.
"Kau akan masuk angin jika tetap mengenakan pakaianmu yang ini. Lagi pula, aku adalah suamimu. Tidak ada yang lebih berhak mengganti pakaianmu selain aku."
__ADS_1
Tangan Alvaro mulai menurunkan ritsleting belakang gaun Azlina, mengekspose punggung mulus gadis itu juga bagian belakang **********. Azlina menutup mata, tak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah akan apa yang dilakukan Alvaro kepadanya.
Dia merasakan satu persatu pakaiannya dilepaskan, pun dengan dua benda kecil yang menutupi area pribadinya. Rasa malu yang luar biasa ketika orang lain dengan berbeda jenis kelamìn melihat secara jelas tubuh polosnya, tetapi dia tak sanggup melakukan apa-apa.
Alvaro menutupi tubuh Azlina dengan selimut, sementara dirinya memeras handuk yang lain di pemanas air yang ada di kamar mandi untuk menyeka tubuh Azlina. Tangannya terasa gemetar ketika menyapukan handuk itu ke setiap bagian tubuh istri kecilnya itu. Sungguh Alvaro tak menampik bahwa tubuh itu begitu menggoda, sangat terawat dengan berisi di bagian-bagian tertentu. Lelaki itu tampak menggeleng, mengusir pikiran liar karena pemandangan di depannya yang terlalu indah untuk dilewatkan.
Alvaro memakaiankan bathrobe berwarna sama dengan miliknya ke tubuh Azlina yang telah selesai diseka dengan air hangat. Tak lupa mengikatkan tali itu dengan benar menggunakan simpul kupu-kupu. Sedikit mengangkat tubuh Azlina, Alvaro menarik handuk basah yang digunakan sebagai alas tidur Azlina agar tidak membasahi kasur yang dia gunakan.
Tepat ketika Alvaro akan beranjak pergi, dia merasakan tangannya ditahan oleh Azlina, membuat Alvaro menoleh ke arah gadis itu. "Kak, bukankah kita ... suami istri. Kakak boleh tidur ... di sampingku. Aku ... tidak keberatan berbagi tempat ... denganmu." Azlina berucap begitu lirih, tetapi Alvaro masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Alvaro tampak meneguk ludah. Bukan masalah suami istri atau berbagi tempat tidur, tetapi semua ini perihal sanggup tidaknya dia menahan diri agar tak menerjang tubuh yang sudah terekam jelas setiap bagiannya di otak Alvaro. Dia menggeleng kemudian. "Tidurlah! Jangan mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja."
Ya, kedinginan lebih baik baginya daripada tak mampu menahan diri dari godaan seorang wanita. Akan tetapi, Azlina tak mengerti juga, sehingga gadis itu kembali menawarkan hal yang membuat Alvaro gemas sendiri mendengarnya.
__ADS_1
"Bukankah Kakak juga ... kedinginan. Tidur di atas sofa pasti ... sangat menyiksa. Aku tidak masalah jika harus berbagi selimut denganmu." Tatapan Azlina begitu tulus ketika mengatakannya.
Sungguh hal itu justru membuat Alvaro ingin menghabisinya malam ini. Seolah-olah Azlina menawarkan diri untuk dikuasai Alvaro dan mengharap akan pergùmulan dengannya.
"A-ku akan meminta selimut bagianku jika aku sudah merasa kedinginan. Tidurlah! Aku akan mematikan lampunya."
Tak ingin banyak berdebat, lelaki itu segera mematikan lampu, menyisahkan lampu tidur remang-remang. Dia segera merebahkan tubuhnya di atas sofa, menenangkan sesuatu di bawah sana yang sejak tadi sudah menegang tak terkendali agar segera kembali tertidur dan tak membuat kegaduhan.
》Bersambung ...
Terima kasih untuk Kakak-kakak yang masih setia membaca kisah Azlina dan Alvaro. Mohon maaf up lambat karena anak lagi sakit. Terima kasih juga kepada yang sudi memberikan dukungan berupa like, komentar, vote, ataupun hadiah. Apapun bentuk dukungan kalian, Author sangat berterima kasih dan mengapresiasinya.
Sekali lagi terima kasih dan selamat membaca. 🤗🤗
__ADS_1