
"Tugas dikumpulkan minggu depan. Ingat! Tugas ini akan memengaruhi nilai raport kalian." Bu Melinda tampak memberikan ultimatum kepada semua siswa terutama yang biasa lalai dalam mengerjakan tugas.
Wanita bermata bulat itu menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot, menatap semua siswa tanpa ada satu pun yang terluput dari pengamatannya. Dan sebelum Bu Melinda menyelesaikan perkataannya, suara bel pulang berbunyi. Sontak semua siswa bersorak senang.
Bu Melinda tampak menghela napas kasar. Waktunya telah habis, hingga dia memilih merapikan buku-buku dan perlengkapan menulisnya untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Na, nanti malam jemput aku, ya? Please!" Lulu menunjukkan wajah sok imut dengan melebarkan mata, mencoba membujuk Azlina agar memberinya tumpangan.
Azlina memutar bola mata menanggapi. "Yaa, nanti aku bilang sama Kakak."
"Kakak? Maksudmu Bang Ahsan sama Bang Al?"
"Bukan, maksudku sama ...." Belum sempat Azlina menyelesaikan kalimatnya, tetapi Lulu segera menyelahnya.
"Om ganteng, kan? Ya ampun, bilang dong dari tadi. Aku, kan, jadi semangat buat dandan."
"Ish, norak kamu!"
Lulu menjulurkan lidah, tak peduli kata norak yang disematkan Azlina kepadanya.
"Pokoknya jangan terlambat buat jemput aku! Nanti aku mau PDKT sama Om tampan." Lulu tampak bersemangat ketika membahas Alvaro membuat Azlina semakin kesal saja.
"Jangan gila, deh, Lu. Dia udah punya gebetan!"
"Biarin. Baru gebetan, belum istri. Jadi masih aman."
"Ih, kamu dibilangin juga."
Entah mengapa Azlina sangat kesal jika ada cewek lain tertarik pada Alvaro. Padahal jelas dia tahu jika Alvaro saat ini sedang fokus mendekati Almeera, wanita dewasa yang cantik dan seksi itu. Seolah Azlina merasa ada saingan baru untuk mendapatkan perhatian Alvaro.
Ah, mungkin Azlina hanya takut jika Alvaro tak memperhatikannya lagi. Apalagi dia sekarang berada di rumah itu tak memiliki teman dan tidak dekat dengan anggota keluarga yang lain selain Alvaro. Hingga dia merasa takut tersaingi jika ada cewek lain yang mendekati Alvaro.
...***...
Alvaro sudah menunggu di tepi jalan sesuai permintaan Azlina ketika menjemput gadis itu. Dari balik kaca spion, dia bisa melihat gadis berponi denga rambut tergerai itu menuju ke arahnya. Alvaro masih menunggu dengan sabar kendati perutnya sudah mulai lapar. Ya, dia berencana makan siang bersama bocilnya sebelum mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya.
"Sudah lama, ya, Kak?" ucap Azlina setelah masuk ke dalam mobil sembari memasang seatbelt-nya dengan benar.
__ADS_1
"Ya, kamu kelamaan. Aku sudah sangat lapar. Kita makan siang dulu."
Alvaro segera melajukan kendaraannya, menjauh meninggalkan area sekolah Azlina. Dia mencari rumah makan terdekat di sekitar sana, tetapi gadis itu tampak meminta ke suatu tempat.
"Kak, gimama kita makan soto aja! Soto Pak Wahid sangat lezat, tak jauh dari sini."
"Enggak! Aku nyari resto."
"Tapi, kan, Kak. Aku pengen makan soto. Beli soto, ya, ya, ya?" Azlina memiringkan wajahnya, membujuk Alvaro agar makan soto saja. Dia tidak ingin waktunya terbuang percuma hanya untuk memutar-mutar mencari rumah makan di jam makan siang.
"Iya, ya. Kita makan soto." Akhirnya Alvaro memilih mengalah. Dia sudah sangat lapar dan sepertinya ide Azlina tak terlalu buruk juga.
"Yeay!" Azlina bertepuk tangan kecil dengan tersenyum senang.
"Dasar, Bocil!"
...***...
Seperti apa yang diminta Azlina, Alvaro memarkirkan mobilnya terlebih dulu, mencari tempat yang pas untuk meletakkan mobilnya itu lantaran mereka akan makan di warung pinggir jalan.
Ada beberapa meja dan kursi kayu yang diletakkan berderet memanjang, tak lupa tempat sendok, garpu juga kotak tisu yang beberapa di antaranya tampak sudah habis. Di bagian lantai sudah penuh dengan tisu bekas pakai yang berserakan, memberi kesan jorok serta kotor. Akan tetapi, tampaknya para pengunjung seakam tak peduli. Mereka terlihat abai dengan apa yang ada di sekitaran dan lebih memilih menyantap hidangan itu dengan lahapnya.
Azlina menarik-narik lengan Alvaro, menunjukkan tempat duduk beralas terpal dengan meja kecil berjajar di sana setelah memesan dua mangkuk soto dan dua gelas es teh manis.
"Jangan! Kotor."
"Ih, enggak, Kak. Aku biasa di sana."
Azlina masih menarik lengan Alvaro, tak mau melepaskan lengan itu sampai Alvaro menuruti kemauannya. Tak bisa menolak lagi, lelaki itu hanya menurut saja ketika lengannya ditarik oleh Azlina.
Dia melepaskan sepatu, pun dengan Azlina melakukan hal yang sama, menyisakan kaos kaki saja, lalu duduk bersila dengan saling menghadap.
Azlina menumpu dagu dengan kedua tangan yang terpaut satu sama lain, menoleh ke arah penjual yang sedang sibuk menyiapkan pesanannya.
Meja itu cukup kecil, kendati posisi mereka saling berseberangan, tetapi berjarak sangat dekat. Hingga ketika Azlina beralih menatap ke depan, matanya terpaku dengan seseorang di depannya.
Alvaro juga sedang memandangnya, membuat keduanya saling beradu tatap. Azlina teringat akan perkataan Lulu yang menyebut Alvaro sebagai Om-om tampan. Apakah itu benar?
__ADS_1
Hingga gadis itu tanpa terasa menikmati wajah dewasa di depannya itu. Mereka tak berkedip dalam beberapa saat, sampai suara pelayan yang membawa pesanan mereka mengejutkan keduanya.
"Permisi!"
Azlina dan Alvaro segera memalingkan muka. Wajah Azlina tampak bersemu, mengalihkan perhatiaannya ke arah lain. Bisa-bisanya dia larut dalam tatapan Alvaro.
Dua mangkuk soto dengan dua gelas es teh telah terhidang di atas meja kecil itu. Kepulan asapnya telah berpesta pora memenuhi ronggo hidung bersamaan dengan bunyi perut mereka yang mulai keroncongan.
Tak mau membuang waktu, Azlina terlebih dulu mengambil sendok dan garpu, menambahkan sambal dan sedikit kecap, tak lupa dengan sedikit perasan jeruk limau yang tersedia di piring kecil yang telah disediakan pemilik warung. Sebelum mencicipi hidangan lezat itu, Azlina menyempatkan membaca doa terlebih dulu.
Alvaro memperhatikan bagaimana gadis itu makan dengan lahap, mengabaikan dirinya yang masih termenung tak berkedip melihat bagaimana Azlina menyantap makanan itu. Gadis itu bahkan tak sempat melihat ke depan, hanya menunduk terfokus kepada mangkuk soto itu. Hingga ketika dia tanpa sengaja menelan sambal banyak, gadis itu tersedak.
Azlina terbatuk-batuk. Alvaro menepuk-nepuk punggung Azlina sembari menyerahkan gelas es teh manis di depannya. "Pelan-pelan! Tidak ada yang aka merebut makananmu," ucap Alvaro menasihati.
Es teh itu telah mampu menghilangkan rasa panas dan pedas di tenggorokan Azlina akibat tersedak. Azlina berterima kasih setelahnya. Dia melihat mangkuk soto milik Alvaro masih utuh tak tersentuh. Azlina tampak mengerutkan keningnya, menatap penuh tanya ke arah Alvaro.
"Kenapa Kakak enggak makan?"
Terlihat pria itu terkekeh, dia mulai mengambil sendok dan garpu. "Aku hampir kenyang gara-gara melihat caramu makan."
》 next, ya ...
__ADS_1