Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
77. Dukungan dari Mertua


__ADS_3

Berdiri terlalu lama tak membuatnya menyadari jika ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.


Azlina hanya bisa menatap Alvaro dari balik kaca jendela yang tertutup tirai yang terbuka sedikit itu penuh kerinduan. Kenyataan jika setiap malam lelaki itu selalu memeluknya saat tidur membuat Azlina tak bisa menghentikan tangisnya. Dia sangat merindukan lelaki itu, sangat.


Air mata Azlina tak bisa ditahan lagi. Dia masih menangis, menangis dalam diam, tanpa suara, hanya ada aliran air mata yang sejak tadi sudah membasahi pipi. Bahkan, perempuan itu tak berniat menyekanya karena terlalu sibuk dengan pikirannya.


Hingga sebuah tangan menepuk bahunya, membuat Azlina menoleh kemudian. "Papa!"


Lelaki yang rambutnya sudah memutih sebagian itu tampak mengulas senyum, lalu menurunkan tangannya.


"Kamu mau masuk ke dalam?"


Azlina sempat menjadi gadis bodoh yang lambat mencerna kalimat Papa Agus yang menawarinya masuk ke ruang perawatan Alvaro. Azlina masih diam tak bersuara, masih tak percaya dengan tawaran itu. Lalu, sejurus kemudian dia mulai tersadar.


"Apakah boleh? Saya ... ingin bertemu dengannya, tapi ...."


"Mama sedang tidur. Papa bisa berjaga untukmu. Masuklah! Temui suamimu! Dia pasti merindukanmu juga."


Azlina tak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dan menangis. Dia segera mengusap air mata yang sejak tadi tak berhenti mengalir dari sudut matanya. Lalu, bersikap penurut, Azlina mengikuti Papa Agus untuk masuk ke dalam ruang perawatan Alvaro.


Di sana, lampu utama memang dimatikan, menyisakan lampu tidur yang terletak di bawah tombol emergency.

__ADS_1


Azlina melangkah perlahan, hatinya bergemuruh antara sedih dan rindu. Sedih melihat Alvaro yang tak kunjung membuka mata, rindu karena tak bisa memeluk lelaki itu seperti biasanya.


Saat ini, Azlina menyadari jika waktu yang mereka lalui bersama sangatlah berharga. Tuhan bisa saja tanpa peringatan mengambil waktu bersama mereka, sehingga Azlina hanya bisa bersyukur sempat melewati hal-hal manis bersama Alvaro.


Azlina menyeret kursi untuk didekatkan di sisi ranjang Alvaro untuk kemudian dia duduki. Tangannya meraih tangan Alvaro yang terbebas jarum infus, lalu menggenggamnya. Dia membuka telapak tangan Alvaro, menciumnya beberapa kali. Bibirnya mengucapkan maaf berkali-kali, tetapi tak mengeluarkan suara. Azlina takut jika sedikit suara bisa membangunkan Mama Rani dan membuatnya tak diizinkan menjenguk Alvaro.


Tangan Azlina terulur mengusap rambut Alvaro yang terasa lembut di tangan. Rambut yang selalu menguarkan harum sampo favoritnya, yang sering membuatnya tak sadar mengendusnya tanpa sepengetahuan Alvaro, meskipun pada akhirnya lelaki itu menyindirnya dengan candaan.


Azlina merindukan suara itu, suara yang membuatnya kesal dan tertawa secara bersamaan, merindukan pelukan itu yang selalu diterimanya tanpa kenal waktu dan tempat. Ia membenamkan wajahnya di telapak tangan Alvaro sembari menangis tanpa suara. Tubuhnya terguncang seiring tangis itu kian tak sanggup dihentikan.


"Bangunlah, Kak! Aku merindukanmu." Azlina hanya mampu mengucapkan di bibir dengan setengah berbisik.


Dia benar-benar rapuh melihat Alvaro tak kunjung membuka matanya. Padahal Azlina tahu jika lelaki itu adalah pria kuat, tangan kekarnya selalu membuat dirinya terlindungi di mana pun dia berada. Namun, semuanya terasa berubah di saat Alvaro terbaring lemah tak berdaya hanya karena udang. Ya, Azlina menyesal mencampurkan udang ke dalam makanan Alvaro.


"Maafkan aku, Kak. Aku tak bisa menjadi istri yang baik untukmu."


Azlina mencium kening Alvaro, mengusap lembut rambut lelaki itu. Dia cukup bahagia bisa menyentuh sang suami lagi meski dengan cara sembunyi-sembunyi.


Papa Agus yang menjaga Mama Rani agar tak sampai terbangun sesekali melirik ke arah Azlina. Dia masih belum percaya benar dengan perselingkuhan yang dilakukan oleh Azlina yang sempat diinformasikan Mama Rani sebelumnya.


Melihat bagaimana Azlina malam-malam seorang diri berdiri di depan ruang perwatan Alvaro sambil menangis tanpa berani masuk, padahal dari luar hanya tampak sedikit saja karena tertutup tirai, tetapi perempuan itu bisa betah berlama-lama menangis di sana. Pasti ada kesalahpahaman di sini, sehingga membuat lelaki itu memutuskan untuk menunggu penjelasan dari Alvaro terkait masalah rumah tanga mereka.

__ADS_1


Azlina sudah berdiri dari duduknya setelah berpamitan kepada Alvaro, membisiki sesuatu kepada lelaki itu. Dia mengangguk kepada Papa Agus meminta izin untuk segera pulang. Sebenarnya dia ingin tinggal, tetapi keadaan yang membuatnya tak bisa melakukan itu.


Lelaki yang memiliki wajah mirip sekali dengan Alvaro dalam versi tua itu mengantar Azlina keluar dari kamar Alvaro. Bagaiamanpun juga, Azlina masih menantunya. Dia yang meminta gadis itu untuk tinggal di rumahnya, menawarkan kehangatan keluarga agar bisa betah tinggal di rumahnya karena usia yang masih sangat belia, tetapi harus berakhir terusir seperti itu.


"Bagaimana kondisi orang tuamu? Apakah kamu sudah memberi tahu mereka?" Papa Agus menanyai Azlina ketika mereka berada di luar ruangan Alvaro.


Azlina menggelengkan kepala. "Saya tidak pulang ke rumah orang tua, Pa. Saya takut memberi tahu mereka." Dia menunduk, menyembunyikan mata yang mulai berembun lagi.


"Kamu tinggal di mana sekarang? Papa akan menyewakan apartemen untuk tempatmu tinggal untuk sementara. Jangan beri tahu orang tuamu tentang apa yang terjadi. Maafkan Mama, ya! Mama terkadang tidak bisa mengontrol emosi jika terkait Alvaro. Dia terlalu meyangi anak itu."


"Saya tahu, Pa. Saya sama sekali tidak marah sama Mama. Saya hanya mencemaskan Kakak, karena dia terbaring di sana sebab kecerobohan saya."


Papa Agus menggeleng. "Kamu bukan ceroboh, tetapi hanya belum tahu. Papa tidak mengerti perkembangan hubungan kalian selama ini. Yang Papa tahu adalah Alvaro banyak berubah setelah menikah. Dia lebih rajin bekerja dan mau menggunakan otaknya yang sebenarnya cerdas untuk berpikir. Padahal sebelumnya dia mau masuk ke dalam perusahaan Papa hanya karena paksaan Papa karena dia penerus satu-satunya, tetapi setelah kamu masuk dalam kehidupannya, dia menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Terima kasih, Papa yakin jika kamulah pasangan yang tepat untuk Alvaro."


Azlina mengusap air matanya, tak menyangka jika Papa Agus masih berada di pihaknya setelah apa yang beliau dengar dan apa yang sudah terjadi dengan Alvaro.


"Makasih, Pa. Untuk sementara saya tinggal di rumah teman. Saya belum berani pulang karena pasti Ibuk menanyakan Kakak jika tidak datang bersama."


"Baiklah, sekarang kamu segera pulang! Sopir Papa akan mengantarkanmu. Papa tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak Papa jika pulang malam-malam sendirian. Mengerti!"


Azlina mengangguk, terpaksa menuruti perintah Papa Agus. Setidaknya masih ada yang mau mendukungnya untuk tetap bersama Alvaro. Azlina pamit undur diri setelah mencium punggung tangan Papa Agus, lalu mengucapkan salam.

__ADS_1


>>Next, masih diketik ...


Terima Kasih yang sudah meninggalkan jejak untuk memberikan dukungan.


__ADS_2