
"Kau!" Azlina menunduk, wajahnya tampak pasi melihat Airin mengetahui pertengkaran antara dirinya dan Mama Rani.
Di sana, Papa Agus masih menenangkan perempuan itu dengan sabar. Emosi yang meledak-ledak ketika melihat Azlina yang menurutnya telah mencelakai dan mengkhianati putra kesayangannya membuat Mama Rani tak bisa berpikir jernih. Dia mendekat, menatap seseorang yang berada di belakang Azlina. Mengedikkan dagu, Mama Rani bertanya, "Kau teman sekolahnya dia?"
Airin mengangguk pasti tanpa menjawabnya dengan ucapan.
Mama Rani menghela napas panjang kemudian, lalu melanjutkan perkataannya. "Apakah benar dia berhubungan dengan pria di sekolah?"
Azlina menggeleng menatap Airin, mencoba memohon agar Airin tak mengatakan sejujurnya. Namun, bukan Airin jika tak menginginkan Azlina berada dalam masalah. Perempuan itu dengan senyum menyebalkannnya mengangguk dan menjawab secara lantang. "Ya, dia memiliki pacar ketua tim basket sekolah. Semua juga tahu bagaimana hubungan mereka sampai saat ini."
Azlina mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali, kemudian menggeleng. Sudah cukup, hubungannya dengan Alvaro tampaknya tak bisa diselamatkan lagi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hingga memilih menunduk, takut.
"Tuh, kan, Pa. Bukan hanya satu orang yang mengatakannya. Dia berselingkuh. Dia mengkhianati anak kita, Pa." Mama Rani merangsek maju, ingin memukul Azlina, tetapi kembali ditahan oleh Papa Agus.
"Dasar kamu!" Hidung wanita paruh baya itu tampak kembang kempis menahan marah, seolah-olah semua yang terjadi dengan Alvaro memang sepenuhnya adalah kesalahan Azlina.
__ADS_1
"Sudah, Ma!" Papa Agus melihat ke arah Azlina yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Pria itu hanya bisa menghela napas panjang. "Kamu pulang, ya! Biar diantar sopir. Biarkan Mama tenang dulu!"
Kepala Azlina mengangguk ringan, tak rela jika semuanya berakhir begitu saja. Dia masih memiliki impian untuk bersama, menjalani kehidupan bahagia bersama Alvaro, menanti lelaki itu sadar kembali. Namun, apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada. Azlina hanya bisa mendoakan semoga Tuhan memberi kesempatan atas hubungan mereka berdua.
Azlina melangkah dengan gontai untuk pergi dari sana, tetapi Airin mencegahnya. "Jadi, kau sudah menikah dan membohongi Elang?" Dia tersenyum miring, sengaja mengejek Azlina. "Aku akan beri tahu kepada semuanya jika wanita yang mereka anggap baik dan polos tak lebih dari seorang pembohong!" Airin berlalu kemudian setelah mengatakan hal itu. Azlina bisa melihat Airin pergi menuju ruangan lain yang berada satu lantai dengan kamar Alvaro.
Kini, dia hanya seorang diri berjalan lemas menuju lift yang terlihat tertutup rapat. Tepat ketika lift itu terbuka dengan beberapa orang keluar dari ruangan sempit itu, Azlina segera masuk ke dalamnya. Tubuh Azlina luruh dengan bersandar di dinding lift yang dingin itu setelah pintu lift tertutup kembali. Angka digital terlihat turun satu persatu dengan posisi lambat. Azlina menatap itu dengan tatapan kosong mengingat bagaimana perkataan Airin yang menyebut dirinya seorang pembohong.
Bukan dia membohongi semua orang, bukan. Sampai saat ini pun dia tak bisa menghubungi Elang. Setelah ujian sekolah usai, Azlina sudah tidak bertemu dengan kekasihnya itu, bahkan Elang sampai saat ini belum juga mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
Azlina tak mempermasalahkan itu. Dia mengerti akan kondisi Elang, sehingga dia tetap menunggu lelaki itu pulang dan mengungkapkan segalanya. Namun, mungkin kali ini akan semakin sulit karena Airin sudah mengetahui rahasianya sebelum dia mengatakan hal sesungguhnya kepada Elang.
Di luar sepengetahuan Azlina, di ruangan Alvaro terlihatlah dokter sedang memeriksa kondisi lelaki itu. Tubuhnya masih lemas tak bertenaga, tetapi selang oksigen di wajahnya sudah diganti dengan selang oksigen biasa. Alvaro sempat terbangun ketika merasakan tangan Azlina ditarik paksa oleh mamanya. Dia merasakan harus segera melindungi sang istri hingga dia tersadar, tetapi dalam kondisi lemah.
Alvaro sempat beranjak dari ranjang perawatannya, tetapi langsung terjatuh karena tubuhnya masih begitu lemah.
__ADS_1
Kini, lelaki itu memejamkan mata lagi setelah dokter menyuntikkan obat penenang kepadanya.
"Luar biasa. Kondisi pasien mengalami banyak kemajuan. Saya sudah menyuntikkan obat penenang agar pasien bisa beristirahat kembali. Saya perkirakan siang nanti pengaruh obatnya akan habis dan ada kemungkinan pasien bisa sadar kembali setelahnya. Besok kita lihat lagi perkembangannya."
Mama Rani yang sebelumnya terkejut serta panik melihat Alvaro terjatuh dari ranjang merasa begitu lega. Dia memeluk sang suami sembari menyunggingkan senyum penuh haru. "Alhamdulillah, Pa. Alvaro akan sembuh."
...***...
Hal berbeda terjadi dengan Azlina. Perempuan itu keluar dari rumah sakit dalam keadaan kacau dengan mata sembab, penuh dengan bekas air mata yang mengering. Perempuan itu telah ditunggu oleh sopir pribadi Papa Agus untuk mengantarkannya kembali ke rumah Lulu.
Azilna mengangguk dengan tersenyum ketika sopir baik hati itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Makasih, Pak."
Dia masuk kemudian, menyandarkan punggung serta kepalanya, lalu memejamkan mata. Bayangan Mama Rani menyuruhnya pergi menjauh dari kehidupan Alvaro dan keluarga mereka masih terpampang jelas di kepalanya. Apakah ini adalah akhir dari segalanya? Dia juga tidak mungkin bisa bertemu dengan Alvaro lagi. Semuanya akan semakin sulit setelahnya.
__ADS_1
》Lanjut, ya ...