
"Kak!"
Suara Azlina terdengar sendu di ujung sana. Alvaro memiringkan tubuhnya yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Iya, kamu belum tidur?"
Azlina hanya tersenyum mendengar pertanyaan Alvaro. Dia memang tak memberi tahu lelaki itu jika dirinya akan pergi malam ini. Usulan dari Salwa, membiarkan Alvaro sungguh-sungguh berjuang memenangkan hati mamanya dengan menghukum lelaki itu akan sebuah perpisahan. Meskipun berat, Azlina menyetujuinya karena dia juga akan lebih fokus dengan pendidikannya.
"Kakak juga," sahut Azlina. Matanya sudah memerah menahan tangis. Dia menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara sesenggukan dan membuat Alvaro curiga.
"Kakak kangen sama kamu, Zi."
Perkataan itu menyayat hati Azlina. Dia juga rindu, tetapi harus bagaimana lagi. Keadaan tak membiarkan rindu mereka bersatu, hingga sebuah rasa yang tertahan dan berusaha sekuat tenaga untuk memendam rindu itu sampai waktu yang tak bisa ditentukan.
"Ehmm, Kakak jaga diri baik-baik, ya? Jangan telat makan! Apalagi salah makan."
Alvaro mengangguk, tersenyum mendengar perkataan Azlina. Rasa rindu itu kian membuncah ketika perhatian sang istri dipertunjukkan dengan penuh ketulusan.
"Kamu sabar, ya!" Begitu pasrah terdengar di telinga Azlina, membuat perempuan itu semakin pedih. Apakah penantiannya benar-benar akan berakhir?
__ADS_1
"Kak, apakah Kakak sungguh-sungguh berjuang untukku? Apakah Kakak akan mencariku ke mana pun aku pergi? Apakah Kakak akan menyerah jika ...."
Belum sempat Azlina melanjutkan kalimatnya, Alvaro segera menyela. "Ssstt, Kakak tidak akan menyerah. Mama memang keras kepala, tetapi sebenarnya hatinya lembut. Kakak yakin dia akan menerimamu kembali. Semua butuh waktu." Alvaro mengernyit, merasakan kepalanya semakin pusing. Dalam beberapa hari ini dia memang mogok makan, hanya minum saja yang dia lakukan, berharap penderitaannya ini membuat mamanya iba.
Bukan lagi pura-pura, tetapi benar-benar melakukannya. Jika mamanya masih keras kepala, mungkin akan kehilangan dirinya sebagai anak satu-satunya.
Beberapa bukti digital yang menunjukkan betapa bobroknya Almeera telah ditukas begitu saja oleh Mama Rani. Sepertinya Almeera lebih cerdas dari dugaannya. Perempuan itu telah menghasut Mama Rani dan berhasil membuatnya percaya, bahwa semua bukti tentang dirinya adalah rekayasa belaka.
Tiada pilihan lain selain menyiksa diri, mengharap perempuan yang telah melahirkannya itu luluh setelah melihat kondisinya.
"Aku akan menunggumu. Jaga dirimu baik-baik, Kak."
Panggilan itu berakhir. Ada rasa yang tidak biasa dan tak rela ketika sambungan telepon tersebut dihentikan. Seolah-olah itu adalah panggilan terakhir dirinya dengan Azlina.
Alvaro memejamkan mata, merasakan tubuhnya lemah tak bertenaga. "Kakak akan berjuang, Zi. Demi kamu dan kita."
...***...
"Al, Alvaro!"
__ADS_1
Suara Mama Rani terdengar samar-samar, memanggil Alvaro dari alam bawah sadarnya. Kelopak mata itu mengerjap beberapa kali begitu pendaran lampu mengusik dan menyakiti kornea matanya.
Pandangan pertama tertuju pada langit-langit ruangan itu. Ruangan serba putih dengan bau karbol bercampur desinfektan menguar di indra penciumannya. Dia baru menyadari jika saat ini dirinya sedang terbaring di rumah sakit.
Dia menatap ke depan, di mana Mama Rani dan Papa Agus tampak cemas dari gurat wajahnya.
Perempuan itu menangis di sampingnya, merasa bersalah dengan apa yang dialami Alvaro saat ini. Ada perasaan lega ketika mata itu terbuka dan tersenyum lemah ke arahnya. Dia segera menggenggam tangan Alvaro yang terbebas dari jarum infus.
"Kenapa harus seperti ini, Nak?"
Senyum itu terbit di bibir Alvaro, begitu tipis dan lemah. "Varo mencintai Zizi, Ma. Apakah mencintai seorang istri adalah kesalahan? Jika memang itu salah, biarlah Varo merasakan kesakitan karena tidak bisa melepas kesalahan itu dari hati ini."
Perkataan Alvaro terdengar begitu pedih dan menyakitkan, membuat Mama Rani tak bisa menahan tangisnya.
"Maafkan Mama, Nak. Mama telah egois kepadamu. Maafkan Mama."
》Eh, nambah 1 bab. Mumpung lg rajin 😁
Semoga betah bacanya.
__ADS_1