Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
88. Mengajak Almeera


__ADS_3

Wajah Almeera jelas menunjukkan gurat kebahagiaan ketika Alvaro dengan tegas serta lantang mengatakan hal itu kepadanya. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu mengangguk, lalu izin mengambil tas sebentar di ruangannya.


Alvaro kembali menunggu meskipun dia sudah tak sabar untuk menyelesaikan masalahnya dengan Almeera. Dia ingin segera mencari dengan Azlina, membawa perempuan itu pulang ke rumahnya.


Lima menit berlalu, Almeera datang dengan tampilan wajah lebrih fresh dan memesona. Mungkin dia sempat memperbaiki riasannya ketika mengambil tas tadi. Dengan senyum mengembang dia menghampiri Alvaro.


"Berangkat sekarang?"


Alvaro mengangguk. "Tentu."


Keduanya berjalan beriringan dengan beberapa orang memperhatikan keduanya sembari berbisik pelan. Entah apa yang mereka perbincangkan, Alvaro tak peduli dengan semua itu. Yang dia ingin lakukan hanyalah menyelesaikan masalahnya dan segera menemukan dengan Azlina.


"Di kafe atau resto?"


Alvaro memberikan pilihan ketika mobil sedang melaju, mengingat belum masuk jam makan siang, sehingga lelaki itu menawarkan beberapa tempat kepada Almeera.


"Kafe saja. Aku belum lapar."


Akhirnya diputuskan untuk mencari kafe terdekat dengan lokasi yang nyaman untuk berbincang.


Almeera beberapa kali melirik ke arah Alvaro, wajahnya tampak bersemu merah ketika tanpa sengaja mata mereka saling bersipandang. Entah mengapa dia sudah mulai merasakan kenyamanan terhadap lelaki itu.

__ADS_1


"Kapan kamu pulang dari rumah sakit?"


Melirik sebentar ke arah Almeera melalui spion tengah, lelaki itu menjawab, "Tadi pagi. Aku kabur."


Almeera membuka mulutnya lebar, tak menyangka dengan jawaban yang diucapkan oleh lelaki itu. "Kamu kabur dari rumah sakit? Ya ampun, Al. Kau tidak perlu sampai kabur hanya untuk menemuiku. Aku ... akan datang menjengukmu tanpa kau harus berbuat seperti ini. Pasti Tante Rani sangat mencemaskanmu saat ini." Wajah Almeera berubah sedih, entah itu sungguhan atau hanya pura-pura demi citranya di depan Alvaro.


Namun, lelaki itu tak peduli. Dia tak menanggapi perkataan Almeera, tangan dan matanya hanya fokus menyetir agar segera sampai di tempat tujuan. Berbasa-basi dengan Almeera sama sekali tak menarik untuknya saat ini. Ya, Alvaro tak ingin kehilangan fokus pada tujuannya mencari Azlina.


"Kita ngobrol di sini saja, ya?" Alvaro membuka sabung pengaman begitu mobilnya selesai diparkirkan. "Ayo!" ucapnya kepada Almeera.


Almeera mengikuti ke mana Alvaro pergi, berjalan beriringan dengan lelaki itu. Matanya melirik ke arah tangan Alvaro yang ada di sampingnya. Aneh, lelaki itu tak menggandeng tangannya yang jelas-jelas sedang mengharapkan digenggam oleh lelaki itu.


Hingga Alvaro ingin melepaskan, tetapi tak tega dengan harga diri Almeera. Alvaro membiarkan begitu saja sampai keduanya memasuki kafe yang terkenal dengan latte-nya.


Tangan Almeera terlepas ketika mereka sudah berada di depan meja kosong. Keduanya duduk dengan saling berhadapan di tempat paling ujung yang ada di tempat itu. Seorang waiters datang dengan membawa menu di tangan, menyodorkannya kepada Almeera juga Alvaro untuk dipilih segera.


"Satu cappuccino dan ...." Almeera menatap Alvaro, menanyakan pesanan lelaki itu.


"Latte."


"Noted. Ditunggu pesanannya!" Waiters itu undur diri setelah mencatat pesanan dua orang pelanggan itu.

__ADS_1


Terdengar deheman dari Almeera setelah beberapa saat Alvaro hanya mendiamkannya.


"Al, ada apa? Kau sepertinya sedang marah?" Akhirnya Almeera bersuara. Sikap dingin Alvaro terasa mengganggunya. Dia tak pernah melihat Alvaro mendiamkannya seperti ini, bahkan ketika Azlina di dekat lelaki itu sekalipun.


Alvaro membuka mulutnya, ingin segera menjelaskan tujuan mengajak Almeera ke tempat itu, tetapi seorang pelayan dengan membawa baki yang berisi pesanan mereka datang menghampiri. Diletakkan dua cangkir coffe latte dan cappuccino di atas meja, lalu segera undur diri dengan mengucapkan sedikit basa-basi kepada dua pelanggannya itu.


"Minum dulu, Meera!" Alvaro menyesap latte itu dengan tenang sembari mengamati Almeera yang ikut menikmati cappuccino yang sudah dipesannya.


Lelaki itu memulai obrolan di kala keduanya sudah terlihat siap menanggapi hal-hal yang mungkin akan terjadi.


"Meera, aku ingin bertanya beberapa hal kepadamu. Aku harap kau mengatakannya dengan jujur."


Lelaki itu menekuk kedua tangannya, lalu disatukan dengan kedua siku menumpu di atas meja.


"Katakan! Aku akan menjawabnya." Senyuman itu tak luput dari wajah cantik Almeera. Dia selalu tampil anggun dan memesona, tetapi kali ini Alvaro sama sekali tak terpengaruh.


"Kau tahu Azlina diusir dari rumah?"


"A-apa?" Ya, dia tahu karena Mama Rani mengusir Azlina tepat di depan matanya. Namun, dia harus bersikap terkejut dan simpati. "Aku ... turut sedih mendengarnya, tapi ... mengapa? Mengapa harus diusir?"


》Kok ngeselin, ya.. lanjut, ya..

__ADS_1


__ADS_2