
Kamar Azlina tidak sebesar kamar Alvaro. Ukuran ranjangnya pun sebenarnya hanya bisa ditempati satu orang saja karens terlalu sempit dengan ukuran kasur 120 x 200 cm. Gadis itu tidur sembari memeluk sang Ibu yang sedang menepuk-nepuk punggungnya.
"Buk, bagaimana Ibuk dan Bapak bisa menikah?" Azlina mulai membuka obrolan.
"Kami dijodohkan."
"Benarkah? Bagaimana rasanya? Kan enggak enak menikah dengan orang yang tidak kita kenal?"
Bu Darmini mengusap rambut Azlina, menyelipkan anak-anakan rambut itu ke belakang telinga. "Tidak juga. Awal-awal memang aneh, tetapi semua berubah seiring waktu. Bapak dan Ibuk akhirnya bisa bahagia dengan saling melengkapi satu sama lain."
"Apakah Ibuk mencintai Bapak?"
"Tentu saja. Jika tidak ada cinta, mana mungkin ada kalian. Sampai ada empat lagi." Terlihat guratan tua di sudut mata Bu Darmini ketika tertawa menjawab pertanyaan anak bungsunya itu.
"Apakah Ibuk pernah berpikir bercerai saat menikah dengan Bapak?"
"Husst! Enggak boleh ngomong soal perceraian. Gak baik." Bu Darmini tampak tak menyukai pertanyaan Azlina. Dia menghela napasnya kemudian. "Perceraian itu memang diperbolehkan, tetapi sangat dibenci oleh Allah. Pernikahan bukanlah permainan yang bisa dengan mudah putus nyambung. Ada usaha dua pihak yang wajib untuk mempertahankan ikatan suci itu."
"Meskipun tidak ada cinta dalam pernikahan itu?" tanya Azlina lagi.
"Meskipun tidak ada cinta. Percayalah, cinta itu Allah yang memberi. Jika dua belah pihak sudah saling berkomitmen, cinta bisa hadir dengan sendirinya dengan saling menghormati dan menghargai kebaikan pasangan, menutup mata akan keindahan lain di luar sana dan hanya menatap keindahan pasangan. Apalagi setelah menikah sudah tidak ada batasan lagi, bukan? Boleh melakukan apa pun terhadap pasangan tanpa takut yang namanya dosa, karena sudah halal."
Azlina masih termangu mendengar penuturan Bu Darmini. Sudah halal? Bisa melakukan apa pun? Apakah itu termasuk membuka pakaian dan melihat seluruh tubuh pasangan? Azlina segera menggeleng ketika memikirkan hal itu.
"Saat Ibuk dijodohkan, apalakah Ibuk langsung menerima perjodohan itu?"
"Tentu saja Ibuk menolak keras. Tapi perkataan Nenek selanjutnya membuat Ibuk sadar jika itu semua sebenarnya sudah digariskan oleh Tuhan kepada kami."
"Maksud Ibuk?" Azlina terlihat antusias akan penjelasan sang Ibu.
"Nenek berkata bahwa Nabi Muhammad pun tak pernah memilih jodohnya sendiri. Ummu Khadijah yang seorang janda melamar Nabi Muhammad yang masih perjaka. Bahkan, Sayidah Aisyah juga dijodohkan kepada Nabi Muhammad oleh Ayahnya Syayyidina Abu Bakar. Jika Rosullullah saja jodohnya dipilihkan oleh orang lain, lantas apa hak kita memilih jodoh sendiri? Karena sesungguhnya kelahiran, jodoh, dan maut telah ditetapkan oleh Allah dengan dicatat di dalam lauh mahfudz. "
__ADS_1
"Termasuk Azlina dan Kak Alvaro?"
"Ya, termasuk kamu dan Alvaro. Orang bisa berkata bahwa pasangan mereka adalah karena usaha mereka mencari kenalan dan jodoh sendiri. Akan tetapi, jika Allah mengatakan itu bukan jodoh, sekeras apa pun mereka mencoba bersatu, maka Allah akan mempersulitnya. Jadi, yakinlah jika jodoh kita saat ini adalah yang terbaik yang dipilihkan Allah untuk menemani kita hingga di masa tua."
Azlina mengangguk-angguk, mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang dituturkan Bu Darmini kepadanya. Penjelasan dari sang Ibu membuatnya sedikit tenang. Akan tetapi, dia bingung harus bagaimana. Kesepakatan yang sempat dirinya dan Alvaro lakukan membuatnya berpikir, apakah pernikahan dan jodoh yang dimaksudkan sang Ibu sama dengan pernikahan yang kini sedang dirinya jalani?
...***...
Alvaro merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu. Seharunya dia telah terbiasa berada dalam ruangan itu, tetapi entah mengapa ranjang yang biasa dia tiduri kini terasa terlalu luas dan tidak menyenangkan. Dia berguling ke kanan dan ke kiri mencari posisi ternyaman, tetapi tetap saja tak bisa memejamkan mata.
Bagaimana bisa?
Apa yang terjadi dengannya?
Alvaro berguling di sisi kiri di mana biasa Azlina tertidur di sana. Dia tidur dalam posisi telungkup dengan membenamkan wajahnya di bantal. Aroma alami tubuh Azlina masih tertinggal di sana, membuat Alvaro semakin tak bisa memejamkan mata.
Alvaro memeluk guling di sampingnya, berusaha memejamkan mata dengan memeluk erat guling itu. Namun, percuma. Dia masih tak sanggup untuk masuk ke alam mimpi. Lagi dan lagi dia mencoba tetap saja dia masih terjaga, seolah-olah kantuk tak ingin datang menghampiri.
Padahal seharian tadi selepas nonton bersama, Alvaro masih mengantar Almeera berbelanja. Perempuan itu mau menemani menonton film horor setelah mendapat tawaran dari Alvaro untuk dibelikan sepasang sepatu branded. Harusnya seharian menghabiskan waktu bersama Almeera membuat hatinya senang, bukan?
Harusnya Alvaro bisa tidur nyenyak malam ini karena rasa bahagia melingkupi hatinya telah menghabiskan waktunya dengan yang terkasih, menyambut mimpi-mipi yang akan hadir menemani tidur lelapnya.
Sayangnya hal itu tak terjadi. Alvaro justru merasa gelisah dan tidak nyaman setelah Azlina tak berada di sisinya. Aneh, sangat aneh, seolah ada yang hilang ketika tangannya meraba di sisi kiri ranjang tak mendapati gadis itu.
Hingga sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya membuat Alvaro segera meraih benda tipis itu yang dia letakkan di atas nakas. Wajah lesunya berubah berbinar setelah mendapatkan pesan singkat itu. Itu adalah pesan singkat dari ibu mertuanya yang menyuruhnya datang ke sana karena ada hal yang ingin disampaikan. Tanpa mengganti piyamanya, lelaki itu segera menuruni ranjang, memakai jaket hitam, lalu melangkah keluar untuk segera pergi ke rumah mertuanya.
...***...
"Dia sudah tidur di kamarnya." Bu Darmini menjelaskan setelah meletakkan teh hangat di atas meja tepat di depan Alvaro.
Lelaki itu mengangguk seraya menunduk dalam. Entah mengapa Alvaro merasa akan ada ceramah panjang kali ini.
__ADS_1
Bu Darmini tampak duduk di samping Pak Samsul dengan sikap tenang, tetapi sarat akan permintaan penjelasan dari sorot matanya.
"Apakah kalian ada masalah?" Pak Samsul mulai bertanya setelah keheningan beberapa saat yang lalu sempat tercipta.
Alvaro menggeleng, "Tidak ada, Pak. Semuanya baik-baik saja."
"Kau yakin?" Pak Samsul tampak menghela napas panjang. Dia sedikit memijat pelipisnya ringan. "Bukannya Bapak tidak mengizinkan Azlina tidur di rumah ini, tetapi tidak baik rasanya jika pengantin baru malah tidur terpisah dengan pulang ke rumah orang tua masing-masing."
Alvaro mengangguk tanpa menjawab. Benar apa yang dikatakan Bapak mertua. Tidak baik rasanya pengantin baru tidur terpisah, buktinya dia sedari tadi tak sanggup memejamkan mata sebab Azlina tidak tidur di sisinya.
"Dia tidur di kamar atas. Jika kau ingin melihatnya," ucap Bu Darmini kemudian yang ditanggapi dengan wajah sumringah Alvaro. Lelaki itu seketika mengangguk, lalu pamit undur diri.
"Saya lihat Azlina dulu, Pak, Buk."
Tak ingin membuang waktu, lelaki itu setengah berlari ketika menaiki tangga menuju lantai dua. Tidak sulit menemukan kamar Azlina, karena hanya kamar itu yang pintunya terdapat pajangan bunga dengan bertuliskan nama pemiliknya.
Perlahan Alvaro membuka pintu kamar itu dan mendapati sang istri tertidur dengan tubuh meringkuk di bawah selimut. Dia melangkah masuk lebih dalam dan terhenti di sisi kiri ranjang Azlina. Pandangannya tak beralih sedikit pun dari wajah lelap itu.
Sekali lagi dia mengamini perkataan mertuanya bahwa tak baik sepasang pengantin baru tidur terpisah. Buktinya saat ini, setelah perasaan gelisah yang sejak tadi mendera berubah menjadi tenang dan nyaman.
Alvaro tak menampik hal itu karena saat melihat wajah istri kecilnya itu terbuai dalam tidur, membuat hatinya kian tenang dan tentram. Entah itu semacam ikatan batin yang tiba-tiba terjalin antara sepasang suami istri atau memang pada dasarnya rasa nyaman itu mulai tumbuh di antara keduanya, Alvaro tak mengerti apa alasannya.
Dia mulai menaiki ranjang, ikut berbaring dengan posisi miring menghadap Azlina. Dibawanya kepala gadis itu dalam rengkuhannya, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat, seolah telah lama tak bertemu karena suatu halangan yang berliku.
Azlina mengernyit sesaat, merasa tidurnya terganggu. Namun, sedetik kemudian bibirnya tersenyum simpul dengan mata masih terkatup rapat, seolah-olah mimpi kembali menjemputnya dengan hal-hal indah di depan mata.
Sejenak Alvaro memandang kembali wajah damai Azlina, mengecup kening gadis itu perlahan. Dan kini dia menyadari, bahwa obat tidurnya telah ditemukan, karena pada saat ini Alvaro mulai ingin memejamkan mata, sebab kantuk tiba-tiba datang menyerang. Dengkuran halus yang keluar dari bibir Azlina terasa bagaikan nyanyian pengantar tidur, hingga kantuk itu menular kepada Alvaro. Lelaki itu akhirnya tertidur sambil memeluk tubuh sang istri erat, tak membiarkan tubuh itu menjauh sedikit pun dari dekapannya.
...""...
》Bersambung ...
__ADS_1
Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak. 😊