Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
43. Virus Lulu


__ADS_3

Ruangan itu tampak gelap. Hanya cahaya lampu sorot dari arah belakang menuju layar putih di depan kursi-kursi penonton, merefleksikan adegan film yang sebentar lagi akan dimulai. Azlina duduk di antara Alvaro dan Lulu, sementara Almeera berada di samping Alvaro.


Almeera tidak jadi pergi setelah melakukan sebuah kesepakatan dengan Alvaro. Entah apa yang mereka perbincangkan kala itu hingga membuat Almeera setuju untuk ikut menonton film horor rekomendasi dari Lulu, teman Azlina.


Musik opening yang menyeramkan sudah mulai diputar, meremangkan bulu halus siapa saja yang tengah menontonnya. Azlina yang masih nggondok dengan seseorang di sampingnya sama sekali tak menikmati aura seram film horor itu. Dia tak sekalipun menatap ke depan. Tangannya sibuk memakan popcorn yang dibeli di stan depan tadi dengan sesekali menyesap Cola dingin.


Bayangan Almeera begitu dekat dengan Alvaro sebelumnya membuat Azlina semakin kesal. Sebenarnya apa yang dilakukan Almeera saat itu? Apakah dia sedang mencium pipi Alvaro? Ih, menyebalkan! Dia benar-benar ingin sekali menyingkir dari dua orang itu, tetapi apa yang terjadi sekarang, Azlina malah duduk di samping lelaki itu.


Bola matanya melirik ke samping, memandang sosok dewasa yang sudah membuat hatinya suram. Lelaki itu tampak fokus ke depan, menatap layar pantulan dari film horor yang pastinya sangat menyeramkan.


Dalam cahaya remang-remang dari pantulan film itu diputar, Azlina bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah lelaki itu dan hal itu membuatnya semakin merasa sebal. Mengapa Alvaro makin tua tampak makin tampan?


Azlina sempat menyentuh rahang yang sedikit bertumbuh bulu itu semalam, bahkan dia mengusapnya dalam waktu lama. Mengapa dia menjadi tidak rela ketika melihat Alvaro pergi dengan Almeera tanpa meminta izin darinya?


Dia mendengkus kesal. Apalagi jika mengingat bahwa Almeera merupakan sosok cantik dan rupawan. Ah, betapa serasi mereka.


Azlina kembali menyesap minuman bersoda itu, lalu menatap ke arah depan di mana sosok hantu menyeramkan baru saja muncul manampilkan wajahnya. Sontak Azlina terkejut dan berteriak, takut.


Namun, sebuah genggaman yang menelusup di sela-sela jemarinya menenangkannya. Tangan kekar itu menggenggam tangannya yang terbebas dari makanan. Azlina masih bergeming menatap tangannya yang sudah terpaut dengan tangan lelaki itu. Dia menoleh kemudian, memperhatikan wajah Alvaro kembali. Lelaki itu tampak tersenyum ke arah depan tanpa menatapnya.


Hanya sentuhan di tangan saja sanggup mengahangatkan dan mencairkan hati Azlina. Dia menyukai genggaman tangan itu, merasa ada seseorang yang melindunginya, memperhatikannya. Bahkan Azlina terlupa jika tangan itu sebelumnya menggenggam tangan perempuan lain.


Azlina tampak tak fokus dengan film yang ada di depannya itu. Dia menguap beberapa kali, seolah-olah tak sanggup lagi menahan kantuk yang menyerang dirinya. Azlina mulai memejamkan mata dan berakhir tertidur dengan kepala bersandar di bahu Alvaro.


...***...

__ADS_1


"Na, Na! Bangun!"


Suara Lulu terdengar begitu jauh, tetapi bisa menembus ke alam bawah sadar Azlina. Gadis itu mengerjapkan kelopak mata, mengurai kesadaran setelah terbuai dalam tidur lelapnya, tersilau akan pendaran lambu bioskop yang menyala setelah sebelumnya dalam keadaan gulita.


Ruangan besar itu sudah sepi dengan satu per satu pengunjung yang telah keluar dari sana. Azlina menegakkan kepala, lalu menoleh ke samping. Wajahnya memerah menyadari jika sejak tadi kepalanya bertumpu pada lengan Alvaro.


"Keterlaluan kamu, Na. Lihatlah! Tangan Om Ganteng jadi kram gara-gara kamu tidur sembarangan."


Azlina tak menanggapi perkataan Lulu. Dia mengusap sudut bibirnya yang tampak basah. Ish, apakah dia sempat ngiler tadi? Sungguh memalukan jika dia ngiler di depan Alvaro, bahkan Almeera.


"Kalian naik apa ke sini tadi?" tanya Alvaro dengan menggerak-gerakkan tangannya yang kebas lantaran terlalu lama menyangga kepala Azlina.


"Naik motor, Om."


"Oh, kalau begitu hati-hati, ya, di jalan. Jangan ngebut!" Alvaro melirik ke arah Azlina ketika mengatakan itu. Lagi-lagi Azlina memalingkan muka, enggan bersua tatap dengan Alvaro.


"Baik banget, ya, Om Ganteng. Beruntung kamu, Na. Eh, tapi enggak beruntung juga sih. Kamu kan sepupunya, jd enggak mungkin bisa nikah sama dia." Lulu terkikik ketika mengucapkannya.


"Apaan, sih!" Azlina mencebik mendengar omongan Lulu.


"Tapi, ya, Na. Aku rasa teman wanitanya itu bukan teman wanita biasa. Pasti dia gebetan Om Ganteng. Sayang sekali, padahal aku mau tebar pesona, tetapi sepertinya akan kalah saingan. Itu perempuan cantik benget. Makanya Om Ganteng kayak kelepek-kelepek gitu. Tadi aja pas mau pergi dibujuk-bujuk biar ikutan nonton bareng kita. Ya, kan?"


Begini amat punya teman. Sama sekali tidak peka dengan perasaan sahabat sendiri. Azlina hanya bisa menghela napas panjang-panjang meraih kesabaran. Dalam benak Azlina pun demikian. Almeera begitu cantik. Postur tubuh tinggi, langsing, dan pasti memiliki karier cemerlang. Sangat berkebalikan dengan dirinya yang masih berstatus siswa SMA. Bagaimana dia bisa bersaing dengan Almeera yang selalu bersikap manis dan menggemaskan itu?


Apa, bersaing? Tunggu! Bukannya hati Azlina sudah ada Elang? Kenapa sekarang malah ingin bersaing dengan Almeera untuk menarik perhatian Alvaro? Ini pasti karena virus Lulu yang selalu menjejali pikiran Azlina akan pesona Alvaro, sehingga membuat gadis itu selalu memikirkan Alvaro setelah teringat setiap perkataan Lulu.

__ADS_1


...***...


Hampir pukul tujuh malam Azlina sampai di depan rumahnya. Lulu hanya mengantar sampai depan pagar karena ingin langsung pulang. Azlina memasukkan tubuhnya ke dalam pintu pagar yang terbuka sedikit, hanya bisa dimasuki satu badan orang dewasa.


Melangkah ringan dengan sedikit bersenandung, Azlina berhenti tepat di ambang pintu.


"Assalamu'alaikum."


Pintu ruang tamu terbuka, bisa dilihat ada Pak Samsul dan Bu Darmini duduk-duduk di sofa ruang tamu. Keduanya menatap ke arah Azlina, lalu menjawab salam hampir bersamaan.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


Azlina dengan senyum mengembang memasuki rumah itu, mencium kedua tangan orang tuanya.


"Kamu sendiri? Mana Alvaro?" Pak Samsul bertanya seraya melongok ke luar, mencari keberadaan Alvaro.


"Tadi siang nganter, Pak. Tapi di rumah enggak ada orang, jadi saya suruh pulang. Ini tadi baru jalan-jalan sama Lulu."


"Kok disuruh pulang? Kenapa enggak nginep di sini?" Bu Darmini bertanya penuh selidik. Insting seorang ibu pasti bekerja dengan baik ketika melihat gelagat mencurigakan seorang anak.


"Azlina mau tidur sama Ibuk. Boleh, kan, Buk?"


Sesungguhnya ada hal yang ingin dibicarakan dan ditanyakan lagi oleh Bu Darmini, tetapi urung dilakukan wanita itu setelah melihat wajah Azlina yang tampak kalut. Bu Darmini mengangguk dengan menyunggingkan senyum. "Dasar anak manja. Baru tiga hari keluar dari rumah, sekarang pengen tidur sama ibunya."


Senyum Bu Darmini menular kepada Azlina. Gadis itu tersenyum malu-malu. "Azlina kangen tidur sama Ibuk. Pengen tidur di kamar seperti dulu."

__ADS_1


...***...


Masih ada satu lagi. Tinggalin jejak dulu, ya. 😊😊


__ADS_2