Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
78. Bangunlah, Kak!


__ADS_3

Sudah lima hari lamanya Avaro tak sadarkan diri, sementara Azlina masih main kucing-kucingan jika ingin menemui lelaki itu. Dia selalu menghubungi Papa Agus jika akan berangkat dan sopir pribadi keluarga Alvarolah yang akan menjemputnya.


Dengan kerja sama yang baik membuat Azlina bisa menemui Alvaro tanpa diketahui oleh Mama Rani. Papa Agus sudah berulang kali mencoba membantunya untuk membuat sang istri tak terlalu membenci Azlina.


Kebenaran tentang perselingkuhan itu belum sepenuhnya terbukti. Bahkan, melihat bagaimana kesungguhan Azlina berusaha merawat Alvaro dan menemui lelaki itu meski harus datang malam hari membuat seorang Agus Cahyono iba. Tak pernah sehari pun Azlina melewatkan hari untuk tidak berkunjung menjenguk suaminya dan setiap hari apa yang dia lakukan di samping Alvaro hanya menangis dan meminta maaf.


Siapa saja yang melihat hal itu pasti hatinya akan trenyuh dan teraharu. Sepasang suami istri yang saling mencintai telah dipaksa untuk berpisah karena suatu hal yang belum jelas kebenarannya.


Hingga ketika di suatu malam, Azlina mendapat informasi jika malam ini Mama Rani tak menemani Alvaro tidur di rumah sakit karena merasa sedikit tidak enak badan.


Azlina tersenyum senang, sungguh menantu yang durhaka. Bukannya merasa bersedih mendengar mertua sakit, dia malah tersenyum senang.


Bukan karena apa, tentu saja Azlina merasa kasihan dengan Mama Rani yang mungkin terlalu lelah menjaga anaknya yang tak kunjung sadar dari pembaringan, tetapi dengan kondisi seperti itu Azlina merasa dirinya lebih bebas menjenguk Alvaro dan bisa berlama-lama berdua dengan sang suami.


"Maaf, Ma, atas rasa senangku mendengar Mama sedang sakit. Semoga aku tidak dikategorikan menantu durhaka." Azlina memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Di luar sudah menunggu sopir pribadi keluarga Alvaro yang juga sangat menyayangkan angkat kakinya Azlina dari kediaman Agus Cahyono. Nona mudanya itu begitu rendah hati dan menghormati semua karyawan bekerja di rumah itu, sehingga mereka merasa sedih ketika mendapatkan informasi jika Azlina telah diusir oleh Nyonya Besar.


Azlina berpamitan kepada Lulu dan mengatakan akan menginap di rumah sakit. Dia juga meminta maaf karena selama ini telah menyusahkan sahabatnya itu. Persahabatan mereka memang terjalin sejak lama, sehingga keduanya menjadi semakin akrab dan saling membutuhkan.

__ADS_1


Dengan senyum merekah, Azlina keluar dari rumah Lulu dan disambut oleh sopir pribadi Tuan Agus.


"Mari, Non!"


Azlina mengagguk kemudian, lalu memasukkan tubuhnya ke kabin penumpang dan langsung bersandar di sana. Entah mengapa detak jantungnya kembali berpacu lebih cepat karena menyadari jika nanti akan bersama Alvaro berdua saja. Seolah-olah kesempatan langka itu bisa mengubah segalanya. Entahlah, Azlina tak berani berharap banyak, bisa berlama-lama bersama sang suami saja dia sudah merasa bahagia.


Mobil berhenti tepat di depan lobby hotel. Dia mengucapkan terima kasih kepada Pak Sopir dengan tulus, lalu keluar dari mobil itu tanpa menunggu dibukakan.


Dia berlari-lari kecil seolah tak sabar untuk bertemu Alvaro. Dalam benaknya waktu seperti ini sangatlah langka. Dia mungkin tak memiliki kesempatan lain agar bisa bertemu dengan suami sebebas ini.


Detak jantungnya berpacu lebih cepat ketika sudah mulai menaiki lift dan menekan tombol angka yang akan membawanya ke lantai di mana Alvaro berada. Jam malam seperti itu lift selalu dalam kondisi kosong sehingga Azlina terkadang merasa horor sendiri.


Apalagi Alvaro dirawat di lantai tertinggi rumah sakit ini membuat lift itu terkesan berjalan lambat dan tak sampai-sampai. Beruntung di kala rasa horor itu melanda lebih dalam, lift berdenting dengan tombol angka menyala sesuai dengan lantai yang Azlina tuju.


Azlina melangkah menggunakan jalan cepat agar segera sampai di ruangan Alvaro. Sebelum memasuki ruangan itu dan membuka pintu ruang perawatan, Azlina menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Tak lupa pula dia merapalkan doa kemudian.


Begitu pintu terbuka, Azlina disuguhkan dengan pemandangan yang menyesakkan dada. Alvaro masih sama, tidur dengan saturasi naik turun cenderung cepat dan tak stabil. Suara napasnya terdengar berat, menandakan lelaki itu masih kesulitan untuk bernapas dengan normal.


Dia mendekati Alvaro dengan menarik kursi untuk dirapatkan ke sisi ranjang. Dia duduk kemudian, meraih tangan Alvaro untuk digenggamnya.

__ADS_1


Sudut matanya mulai berair, sedangkan suaranya tiba-tiba menghilang tak mampu untuk dikeluarkan. Hingga Azlina memilih untuk berdehem sejenak, sebelum pada akhirya mengajak Alvaro berbicara.


"Kak, ini aku, Zizi. Engkau mengenal suaraku, 'kan?"


Tangan Alvaro semakin digenggamnya, dia tak mampu melepaskan tangan itu hingga membuatnya berbuat seperti seorang primitif yang tak ingin kehilangan sesuatu berharga miliknya, menggenggamnya tanpa ingin melepaskan lagi.


"Kenapa Kakak tak juga sadar? Apakah Kakak tak merindukanku? Bukannya Kakak berjanji akan melindungiku, menjagaku, dan membuatku bahagia? Bangunlah, Kak. Aku menagih janjimu itu."


Tangis Azlina mulai pecah, tak bisa menyembunyikan rasa sedih, takut, dan mulai putus asa. Sampai kapan dirinya harus kucing-kucingan seperti ini? Dia bisa datang dengan leluasa ini pun karena malam ini tiada yang menjaga Alvaro, tetapi belum tentu malam-malam berikutnya Azlina bisa melakukannnya.


"Kau tahu, aku sekarang tinggal di rumah Lulu. Kami belajar memasak bersama. Masakanku sudah lebih lezat. Aku sudah yakin bisa mengalahkan masakan Kak Meera. Kalau Kak Meera datang lagi ke rumah, aku akan dengan percaya diri menunjukkan hasil masakanku kepadanya. Bangunlah, Kak! Apakah Kakak tidak ingin mencoba masakanku juga?"


Azlina masih menatap Alvaro dengan tersenyum, meski air matanya sudah banjir sejak tadi. Rasanya begitu sakit melihat lelaki yang dicintainya berbaring tak berdaya di atas ranjang perawatan, tak mengenalinya, dan tak mampu menjawab perkataannya.


Namun, dia masih bisa mengendalikan diri, tak ingin histeris di depan Alvaro. Dia ingin Alvaro merasa senang karena ditemani olehnya. Tak membuat lelaki itu terganggu dengan kesedihannya yang sejak lama telah membelenggu hati serta pikirannya.


"Kak, bukankah Kakak ingin ... melakukan itu? Aku ... aku sudah siap melakukannya. Bangunlah, Kak! Kita bisa melakukannya jika Kakak menginginkannya. Aku ... tidak akan menangis, aku tidak akan takut lagi. Jadi, kumohon! Bangunlah!"


Tangan Azlina masih menggenggam tangan Alvaro, mencium pungung tangan itu beberapa kali, seolah-olah kerinduan tak pernah cukup hanya dengan melakukan hal itu. Hingga gadis itu kelelahan menangis dan tertidur dengan meletakkan kepalanya di atas ranjang tepat di sisi tubuh Alvaro.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Azlina, ada air mata yang menetes di sudut mata Alvaro serta jemari yang ikut menggenggam tangannya dengan lemah.


>>Bersambung ...


__ADS_2