Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
45. Gerakan yang Mengusik


__ADS_3

Dekapan tangan itu begitu erat, membengkam kuat, menyalurkan kehangatan juga kerinduan yang tak sempat terucap. Azlina sedikit mengeliatkan tubuh di dalam rengkuhan lelaki itu.


Alvaro yang semula tertidur, sedikit merasa terganggu akan pergerakan Azlina. Tubuh gadis itu terasa menggesek bagian tubuhnya, hingga lelaki itu merasakan hal aneh yang belum pernah dia rasakan. Tubuhnya menegang seketika, merespon pergerakan Azlina di bawah sana. Dia membuka mata, memperhatikan gadis itu yang masih terpejam setelah sempat mengganggu tidurnya.


Kini, lelaki itu tak lagi sanggup memejamkan mata. Dia dalam dilema. Di bawah sana seolah bereaksi secara berlebihan dengan pergerakan Azlina yang hanya beberapa detik saja. Rasa gelisah kian melanda tatkala Azlina ikut memeluk tubuhnya erat dengan wajah yang ditenggelamkan di dada Alvaro.


Sial, benar-benar sial. Alvaro bahkan tak berani sekadar bernapas dengan posisinya saat ini. Entah keputusan tidur berdua di tempat sesempit ini benar atau salah. Dia merasa tak sanggup menahannya lagi.


Azlina mengenakan babydol pendek di atas lutut, hingga ketika tangan dan kakinya memeluk tubuh Alvaro, kainnya terangkat.


Di bawah cahaya temaram lampu tidur, Alvaro bisa melihat paha itu terbuka, menunjukkan dengan sempurna sesuatu yang tengah tersibak itu. Alvaro menghirup udara dalam-dalam, mencoba menahan diri agar tak melakukan hal yang membuatnya menyesal. Mencoba mengalihkan perhatian, Alvaro memilih membangunkan gadis itu dengan menepuk pipinya.


Azlina mengernyitkan dahi, merasa tidurnya terusik. Dia memicingkan mata karena terlampau berat saat membukanya. Lamat-lamat pandangan Azlina tampak tak fokus melihat siapa yang sedang berada di depannya. Mungkin alam bawah sadar masih bersemayam di kepalanya, hingga dia tak menyadari jika Alvarolah yang kini tidur dengannya.


"Kak?" Suara itu terdengar serak khas orang bangun tidur di telinga Alvaro, sukses membuat tubuh lelaki itu semakin menegang.


Entah disadari atau tidak, Azlina menengadahkan wajahnya, menatap wajah Alvaro yang kini tengah menunduk memandangnya. Tatapan Azlina tampak sayu, seolah-olah belum sepenuhnya sadar dari tidur lelapnya. Gadis itu tersenyum kemudian, mengulurkan jemarinya menyentuh rahang Alvaro.


"Kau menyebalkan."


Setelah kata itu terucap, gadis itu dengan polosnya menyentuhkan bibirnya ke bibir Alvaro. Hanya sebuah sentuhan di bibir dengan sedikit menekan, tiada lumàtan ataupun belaian lidah.


Alvaro membelalakkan mata, begitu terkejut akan apa yang dilakukan oleh Azlina. Kendati gadis itu hanya menempelkan bibirnya beberapa saat, lalu melepasnya, cukup membuat Alvaro tak bisa menidurkan yang di bawah sana.


Gadis itu tampak tertidur kembali, seolah-olah tak terjadi apa-apa di antara mereka. Terdengar desàhan dari bibir Alvaro. Azlina benar-benar keterlaluan, menguji dirinya sebagai laki-laki normal yang sangat tertarik pada tubuh seorang wanita.


Tiada cara lain yang bisa membantu Alvaro. Dia tak mungkin menerjang Azlina saat ini, meskipun dalam agama bukanlah sesuatu yang berdosa. Akan tetapi, dia masih mengingat jika Azlina belum menerima dirinya sebagai suami.

__ADS_1


Gadis itu mencintai pria lain. Jika Alvaro nekat melakukannya, pastilah Azlina akan sangat membencinya. Lagi pula, Azlina juga masih bersekolah. Dia tak mungkin menghamili anak orang yang masih bersekolah, bukan?


Hingga Alvaro akhirnya membangunkan Azlina, membuat gadis itu benar-benar tersadar dari tidurnya, bukan setengah sadar seperti sebelum-sebelumnya.


Tangannys terulur menepuk pipi Azlina lagi, kali ini tepukannya lebih runtun agar gadis itu benar-benar terbangun. Usaha Alvaro tampak berhasil. Gadis itu mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali, meraih kesadaran dalam tidur lelapnya.


Dan pandangan pertama langsung mengarah ke kain piyama Alvaro. Dia mengernyit kemudian, merasa aneh dengan apa yang kini ada di depan mata. Dia tidur di kamarnya sendiri, tetapi mengapa bau tubuh Alvaro yang terendus di indra penciumannya?


Hingga dia menengadahkan wajahnya yang langsung bersitatap dengan mata Alvaro. Azlina terkesiap menyadari siapa yang saat ini sedang dipeluk dan memeluknya. Tidak mungkin, bagaimana bisa Alvaro tidur bersamanya?


"Kak, ... kau ... di sini?"


Alvaro menyunggingkan senyum. Dia menumpu kepalanya dengan lengan yang ditekuk. "Tidak, aku di rumah."


"Apa?" Azlina tampak bingung, perkataan Alvaro yang asal malah membuatnya berpikir keras. Mungkin sepertinya Azlina belum sepenuhnya tersadar dari alam mimpi.


Dia mengedarkan pandangan, melihat dengan saksama bahwa ruangan yang kini sedang dia tempati adalah kamarnya. Lalu, bagaimana bisa Alvaro selarang berada bersamanya?


Alvaro tak tinggal diam. Dia kembali merapatkan tubuhnya, memeluk Azlina dari belakang. Entah mengapa dia tak bisa menjauh dari tubuh itu. Dia merasa nyaman dan tenang ketika Azlina berada dalam dekapannya. "Siapa yang bercanda?"


"Ish, jangan peluk-peluk!" Azlina mengangkat tangan Alvaro yang memeluk perutnya. Dia masih kesal dengan lelaki itu.


"Kalau tidak meluk kamu, aku meluk siapa?"


"Enggak tahu. Pikir saja sendiri." Azlina merajuk.


Alvaro tersenyum geli. Dia lebih suka Azlina yang seperti ini daripada Azlina yang mendiamkannya seharian tadi. Dia mengusap rambut panjang yang menjuntai di atas sprei itu, memainkannya dengan jemari kokohnya.

__ADS_1


"Apa itu pertanda kau cemburu?"


Perkataan Alvaro cukup membuat Alina tercengang. Tubuh Azlina yang sedari tadi memunggungi Alvaro kini menghadap lelaki itu. Alvaro sedikit memundurkan tubuhnya, memberi ruang untuk Azlina bergerak.


"A-apa? Tidak mungkin. Kakak jangan ngarang, ya? Buat apa aku cemburu?" Azlina mendorong dada lelaki itu dengan kesal.


"Benarkah? Mengapa tidak mungkin? Bukankah kau merasa jika aku sangat tampan. Kau pasti tidak rela jika aku dimiliki wanita lain?"


"Si-apa yang bilang Kakak tampan? A-ku tidak pernah mengatakan itu?" Azlina menggeleng ketika mengatakannya. Alvaro benar-benar membuatnya kesal.


"Jadi, kau tidak keberatan jika aku dimiliki wanita lain?" Alvaro menatap lekat manik bulat berkilauan itu, mengunci pandangan Azlina dengan sorot matanya yang tajam. Azlina terdiam, terhanyut oleh tatapan Alvaro yang terasa menusuk, menikam hingga ke sanubari.


"Kak!"


"Hemm ...."


Azlina tampak berpikir sejenak. Perkataan Bu Darmini masih terngiang di kepalanya, mengingatkan akan arti penting sebuah pernikahan.


"Kak, aku ... aku ... hanya kesal." Azlina menundukkan wajahnya, memainkan jemarinya di dada lelaki itu. "Kau menyebalkan."


Alvaro mengulas senyum lagi. Tidak menyangka Azlina begitu menggemaskan. Jemarinya terulur menyentuh dagu gadis itu, membuat wajah Azlina terangkat ke atas. "Apa yang membuatmu kesal? Katakan kepadaku!" tanya Alvaro, tak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari wajah Azlina.


Gadis itu tampak gugup. Ada semburat rona malu di wajahnya. Tak menyangka jika dia akan mengatakan hal itu.


"Karena Kakak telah melihat ... tubuhku. Seharusnya Kakak tidak boleh melakukan itu. Aku saja tidak pernah melakukannya kepada Kakak. Itu ... tidak adil." Azlina menjawabnya dengan gugup, tetapi jawaban Alvaro selanjutnya membuat gadis itu tercengang.


"Jadi, apakah kau ingin melihat tubuhku dan menyentuhnya agar semua terlihat adil? Jika itu maumu, aku sama sekali tidak keberatan melakukannya," ucap Alvaro dengan tidak tahu malu.

__ADS_1


"A-apa?"


...***...


__ADS_2