Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
25. Minuman Laknat


__ADS_3

Malam itu, suasana sudah lebih tenang dari sebelumnya. Mobil yang membawa Azlina dan Alvaro telah memasuki pelataran rumah keluarga Agus Cahyono. Rumah besar dan megah, sangat berbeda dengan rumah milik orang tua Azlina. Pagar tembok yang menjulang tinggi dan kokoh tampak mengelilingi pekarangan rumah besar itu. Terdapat tanaman rambat yang sepertinya sengaja dibiarkan tumbuh subur menutupi permukaan pagar tembok yang atasnya telah dipasang dengan kawat berduri.


Jarak antara pagar utama dengan pintu depan rumah masih beberapa meter lagi. Jalan itu dikelilingi oleh taman luas dan indah yang tertata cantik dengan beberapa bolham lampu hias yang berpendar remang-remang di setiap dua meternya.


Tampaknya Nyonya Rani begitu menyukai bunga. Sangat sesuai dengan Azlina yang sering bereksperimen untuk menumbuhkan jenis bunga baru untuk dibudidaya.


Mobil mereka terhenti tepat di depan pintu utama. Sopir dengan siaga membukakan pintu yang berada di samping Alvaro. Alvaro turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk menyambut sang istri kecilnya itu. Keduanya tampak bergandengan tangan memasuki rumah besar keluarga Agus Cahyono.


"Kalian pasti lelah, beristirahatlah!" ucap Mama Rani yang sudah berada di depan pintu. Ternyata Papa Agus dan Mama Rani sudah lebih dulu sampai di rumah sebelum mobil mempelai.


"Iya, Tante. Terima kasih."


"Eh, apa? Panggil Mama, Sayang. Kamu di sini sudah jadi anak Mama."


"Ehmm, iya, Ma." Azlina tersenyum tulus melihat kehangatan Mama Rani. Beruntung dia memiliki mertua yang sangat baik itu. Dan sebelum mereka melanjutkan naik ke atas dengan kaki hampir menapaki anak tangga pertama, Mama Rani mengingatkan sesuatu.


"Jangan lupa meminum minuman yang Mama siapkan di meja. Itu akan membuat kalian segar keesokan harinya."


Ada senyum yang disembunyikan oleh Mama Rani yang tertangkap oleh Alvaro. Akan tetapi, Azlina yang terlampau polos hanya mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.


"Iya, Ma. Terima kasih. Nanti akan kami minum, ya, kan, Kak!"


"Ayo, cepat naik! Jangan pedulikan Mama." Alvaro buru-buru mengajak Azlina ke kamar, dia sudah lelah sebenarnya, ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. Namun, sikap Alvaro yang seperti itu justru di mata Mama Rani seperti tak sabar ingin segera melakukan malam pertama dengan Azlina.


"Jangan buru-buru, Al. Kasihan istrimu." Mama Rani tampak terkikik geli, tetapi segera dihentikan oleh Papa Agus.


"Sudah, ih, Ma. Jangan godain mereka terus."


"Biarlah, Pa. Kapan lagi kita lihat anak dan menantu malu-malu kayak gitu." Mama Rani tanpa menghentikan tawanya berlalu meninggalkan Papa Agus menuju dapur.


Sementara di kamar pengantin yang sudah dihias sedemikian rupa, yaitu kelopak mawar bertabur di atas sprei berwarna putih dengan pendaran lampu tidur yang redup, serta lilin-lilin kecil menghiasi di setiap sudut ruangan, tak lupa juga dengan aroma vanila yang diyakini sebagai aroma pembangkit gàirah telah terendus di indra penciuman kedua mempelai.

__ADS_1


Sekali lagi Alvaro harus menelan ludahnya. Sejak kapan kamarnya berubah seperti ini? Bahkan, ketika dia akan berangkat ke rumah Azlina untuk melakukan acara ijab kabul, kamarnya masih sama seperti biasa. Namun, setelah dia pulang kembali, kamar ity sudah berubah menjadi kamar pengantin yang membuatnya harus menekan hasrat sekuat tenaga.


Bagaimana tidak, dia malam ini akan tidur satu ranjang dengan seorang wanita. Bukan hanya malam ini, sepertinya akan berlanjut dengan malam-malam yang lain. Apakah dia akan sanggup menahan diri untuk tidak menyentuh Azlina sesuai perjanjiannya dulu?


Sayangnya dia terlupa dan tidak memikirkan masak-masak ketika memberi ide kepada Azlina saat itu, hingga saat ini dia merasa menyesal telah melakukan sebuah kekonyolan akan hal yang pasti menyulitkan dirinya sendiri.


"Kak!"


"Mandilah dulu. Aku akan mandi setelah engkau selesai membersihkan diri." Wajah Alvaro berubah dingin, sangat berbeda ketika lelaki itu berada di luar kamar tadi.


Azlina tampak mengernyitkan dahi, bingung dengan sikap yang ditunjukkan Alvaro kepadanya. Memilih abai, Azlina segera masuk ke kamar mandi.


Alvaro menghela napas panjang, merebahkan tubuhnya di kasur bertabur kelopak bunga. Tatapannya mengarah ke arah langit-langit kamar. Bagaimanapun dia harus bisa bersikap tegas kepada Azlina, sedikit lembek bisa membuatnya khilaf menerjang gadis itu.


Dia memijit pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu terduduk kemudian. Pandangannya mengarah kepada tumpukan koper dan kardus yang merupakan barang bawaan Azlina.


Kening Alvaro mengernyit sesaat, pandangannya menatap aneh ke arah tumpukan kardus itu. Memangnya apa yang dibawa oleh Azlina hingga membutuhkan banyak kardus seperti itu? Penasaran terasa menggelitik keingintahuannya, ingin segera membongkar tumpukan kardus itu. Namun, sebelum dia sempat melakukannya suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat jantungnya berdebar.


Alvaro kembali meneguk ludah. Rasanya mulai panas di sini, hingga dia memilih berpaling dari gadis itu.


"Kak, apakah ini milikku?" Azlina berjalan mendekati tumpukan barang-barang itu. Dia membungkuk, membuka salah satu koper yang menyimpan pakaiannya. Sayangnya, apa yang Azlina lakukan mengusik pikiran Alvaro. Lelaki itu kembali tergoda untuk menatap Azlina yang kini sedang memunggunginya. Bagian belakang bathrobe itu sedikit terangkat lantaran posisi Azlina yang membungkuk, sibuk mencari pakaian.


Ah, sepertinya dia akan semakin kepanasan jika begini terus. Alvaro memilih segera masuk ke kamar mandi, membersihkan diri sekaligus membersihkan pikirannya yang sudah berfantasi liar melihat tubuh segar sang istri.


Lima menit berlalu, Alvaro tak membutuhkan banyak waktu untuk membersihkan diri. Lelaki itu keluar dengan mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang, mengekspose dada bidang yang digandrungi banyak wanita. Dia melangkah menuju lemari pakaian tanpa menoleh ke arah Azlina yang ternyata sudah selesai berpakaian.


"Kak, aku lapar. Aku menunggumu makan."


"Iya, sebentar!"


Alvaro mengenakan celana pendeknya tanpa melepas handuk, lalu mengenakan kaus polos putih yang tampak pas di badan. Dia membiarkan rambutnya berantakan tanpa berniat merapikannya.

__ADS_1


Alvaro segera menyusul Azlina duduk di depan meja yang sudah tersedia makan malam mereka. Tanpa banyak bicara, keduanya mulai menikmati makan malam dengab lahap.


"Ini minuman apa, ya? Kenapa Mama menyuruh kita meminumnya?" Azlina bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, melihat cairan berwarna sedikit keruh yang tampak tidak enak itu.


"Jangan diminum! Buang saja!" Alvaro segera mengambil gelas yang dibawa Azlina, lalu mengiramkan air yang ada di gelas itu ke tanaman hias yang ada di kamarnya.


"Kenapa dibuang, Kak? Nanti Mama marah."


Jelas saja Alvaro membuangnya. Dia bukan lelaki bodoh. Itu adalah minuman penambah gairàh untuk pasangan pengantin baru. Mama Rani sudah menyiapkan dua gelas untuk mereka berdua. Jika Alvaro sempat meminumnya, entah bagaimana cara dia bisa menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Azlina.


"Sudah, itu tidak enak rasanya. Kau tidak akan suka. Yang penting, jika Mama tanya, jawab saja jika kita sudah meminumnya. Okey!"


Azlina mengangguk menyetujui. Memilih melanjutkan makan tanpa menanyakan hal lain kepada Alvaro. Akan tetapi, ada satu hal yang sangat ingin Azlina tanyakan lagi, membuatnya tak sanggup menahan mulutnya itu agar tetap diam.


"Kak, apakah kita nanti akan melakukan ... malam pertama."


"Uhuk-uhukk." Alvaro terbatuk-batuk, tersedak makanan lantaran terkejut dengan apa yang baru saja dipertanyakan oleh Azlina.


Gadis itu menepuk-nepuk punggung Alvaro, lalu menyodorkan satu gelas minuman kepada lelaki itu. Alvaro segera meminumnya hingga tandas, tak menyisakan sedikit pun minuman dari gelas itu. Dia menghela napas lega, karena dadanya tak lagi merasa sakit sebab tersedak makanan. Namun, dia merasa ada yang tidak beres.


Alvaro menatap gelas yang telah kosong di tangannya, lalu menoleh ke arah Azlina. "Minuman apa yang kau berikan kepadaku?"


Azlina seketika terkesiap. Dia tak menyadari telah memberikan minuman yang disediakan oleh Mama Rani untuknya kepada Alvaro. Alvaro sudah membuang satu gelas dan masih ada satu gelas lagi yang kini sudah habis terminum oleh lelaki itu.


"Ah, aku ... lupa. Apakah rasanya pahit? Kenapa Kakak tidak muntah?" Azlina mengusap-usap pipi Alvaro, merasa takut jika minuman itu rasanya sangat pahit dan tidak enak seperti apa yang Alvaro katakan sebelumnya.


"Jadi, aku telah meminumnya? Meminum jamu itu?"


Alvaro menepuk dahinya keras. Oh, tidak, apa yang harus dia lakukan saat ini? Sementara di depan mata gadis itu semakin terlihat menggoda saja.


》Bagaimana nasib Alvaro, ya...

__ADS_1


tinggalin jejaknya, Kakak. ☺☺


__ADS_2