
Alvaro tak lagi menghabiskan makanannya. Dia menghela napas panjang. Sepertinya jamu itu tidak bereaksi kepadanya. Mungkin, dia kebal dengan jamu-jamuan seperti itu.
"Kakak tak apa?" tanya Azlina setelah melihat Alvaro sedikit tenang. Lelaki itu hanya bergeming sembari menatap Azlina yang tampak cemas dengan kondisinya. Bibir gadis itu sedikit belepotan oleh bumbu ayam yang sedang dia makan. Bukan fokus dengan perkataan Azlina, Alvaro justru terpaku dengan bibir seksi itu. Dia menggeleng buru-buru, mengusir pikiran yang mulai mesum di kepalanya.
Alvaro beranjak dari duduknya, mengabaikan pertanyaan Azlina dan memilih mencuci tangan. Setelah selesai urusan makan malam, dia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di sisi berbeda kamarnya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya ke arah lain, yaitu membaca email-email dari customer dan relasi terkait urusan pekerjaan.
Azlina tampak mengemasi piring-piring bekas itu untuk di bawah ke dapur, tetapi Alvaro menghentikannya. "Biarkan saja. Nanti ada orang yang ke sini."
"Benarkah? Tapi aku bisa mencucinya sendiri. Emm, tunjukkan saja di mana aku bisa menemukan dapurnya."
__ADS_1
Alvaro mengangguk, lalu menurunkan kakinya yang sedari tadi dinaikkan ke atas sofa. Dia melanglah ringan ke arah Azlina, membantu gadis itu membawa piring dan peralatan makan kotor lainnya. Tepat ketika tangan mereka saling beradu memunguti piring-piring kotor itu, dengan sebuah sentuhan di kulit tangan, hatinya berdesir.
Lelaki itu meneguk ludah, merasakan sengatan aneh di kulit. Kembali dia menggeleng tatkala wajah Azlina tampak semakin menggemaskan dengan warna bibir merah sebab kepedasan. Sepertinya otaknya mulai kotor, hingga dia memilih untuk segera mengambil piring-piring itu sendiri tanpa bantuan Azlina.
"Biar aku saja. Tunggu saja di kamar!" ucap Alvaro kemudian.
Azlina ingin menolak, tetapi lelaki itu seolah tak ingin didebat keputusannya membuat Azlina memilih mengangguk menyetujui. Dia membiarkan Alvaro membereskan bekas makannya seorang diri dan menunggu di dalam kamar.
Alvaro yang baru saja selesai meletakkan piring kotor di dapur telah kembali ke kamarnya. Matanya langsung dihadapkan tubuh tengkurap Azlina yang mengenakan daster babydol selutut yang terangkat sedikit ke atas bagian belakangnya. Gadis itu tidur tengkurap di sisi kiri ranjang, menyisahkan sisi kanan ranjang untuk Alvaro. Dia tak memasukkan tubuhnya ke dalam selimut, hingga Alvaro hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Azlina.
__ADS_1
Alvaro ingin cepat tidur juga sebelum ada hal aneh yang dia rasakan lantaran minunan sialan itu. Lebih baik cepat tertidur daripada membiarkan pikirannya berfantasi, menginginkan hal yang disukai oleh pasangan pengantin baru.
Dia ikut naik ke atas ranjang yang sebelumnya mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur yang redup. Alvaro memasukkan tubuhnya ke dalam selimut, juga menyelimuti tubuh sang istri agar tidak kedinginan. Dia berusaha memejamkan mata cepat-cepat, berharap kantuk segera mendatanginya.
Namun, satu gerakan yang dilakukan Azlina tak sanggup membuatnya tidur. Gadis itu yang semula tidur tengkurap kini membalikkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka, hingga kini Azlina tidur berdekatan dengan Alvaro. Sampai aroma wangi rambut sedikit basah Azlina terendus oleh hidung Alvaro, membuat pria itu tak sanggup memejamkan mata.
Dia semakin gelisah tatkala Azlina tidur miring menghadapnya dengan tangan memeluk layaknya guling. Dia menahan napas, gadis di sampingnya ini benar-benar keterlaluan, menguji kesabaran Alvaro.
Alvaro menundukkan wajah, menangamati wajah Azlina yang sedang tertidur dalam buaian mimpi. Matanya terkatup rapat dengan bibir tampak sedikit terbuka. Sungguh Alvaro sangat merasa gelisah dengan posisi mereka saat ini.
__ADS_1
》Tinggalin jejak, ya Kak. ada beberapa bab lagi.