Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
49. Aku Sedang Kesal


__ADS_3

Perjalanan pulang kali ini terasa sunyi. Alvaro masih belum bisa mengatur rasa kesal di hati. Azlina benar-benar sukses menjungkirbalikkan hatinya. Kendati Alvaro mengelak perasaan yang mulai tumbuh, tetapi sejatinya dia tak bisa menghindarinya.


Suasana tak biasa itu pun terjadi tatkala Alvaro mengajak Azlina makan siang. Tiada percakapan ringan dengan tawa canda seperti biasanya. Hanya suara piring dan sendok yang saling beradu dengan mata tak beralih dari makanan yang terhidang di atas meja. Semuanya terasa hambar dan memuakkan.


Azlina juga merasakan itu. Merasa jika Alvaro bersikap lebih dingin siang ini, sangat berbeda dengan pertemuan mereka terakhir kali pagi tadi, tepat ketika Alvaro mengantarnya ke sekolah.


Sejujurnya, Azlina merasa tak nyaman dengan sikap dingin Alvaro. Namun, gadis itu tak berani bertanya ataupun mencari tahu. Dalam benaknya, mungkin Alvaro sedang memiliki masalah di tempat kerja hingga terbawa sampai saat ini.


Alvaro dan Azlina menyelesaikan makan siang mereka lebih cepat daripada biasanya. Keduanya keluar dari rumah makan itu setelah Alvaro menyelesaikan pembayaran.


Kini Azlina tengah duduk di dalam mobil dengan suasana hening mendominasi. Tiada tegur sapa ataupun sekadar menyapa. Alvaro bahkan tak memandangnya sama sekali, bahkan Azlina merasa jika lelaki itu sengaja menghindari bersitatap dengannya. Pastinya itu sangat mengganggu Azlina.


Ada apa ini?


Apakah dirinya berbuat salah?


Rasa tak nyaman yang dirasakan Azlina tak kunjung berhenti mengganggu. Sebuah bayangan ketakutan akan kesepian yang melanda hidupnya kelak karena menikah dengan sosok dingin tak tersentuh mulai terbayang-bayang dalam benak gadis itu. Tentunya hal itu adalah sesuatu mengerikan yang sempat terlintas dalam pikiran Azlina, hingga gadis bermata bulat itu menggeleng tak ingin semua yang ada dalam pikirannya terjadi.


Alvaro bisa merasakan tubuhnya terentak ketika sebuah pelukan berlabuh kepadanya. Dia menunduk, melihat Azlina sedang memeluknya dengan mencondongkan tubuh mungil itu ke tubuhnya.


"Kak, apakah aku berbuat salah kepadamu?" Suara itu begitu lirih, tetapi terdengar merdu di telinga Alvaro. Pelukan yang dirasakan menghangatkan hatinya yang sempat membeku, hingga perasaannya mulai mencair seiring lamanya dekapan itu terjadi.


Alvaro tampak menundukkan wajah, mencium pucuk kepala gadis itu. Tangannya terulur kemudian, memeluk bocil kesayangannya.


"Jangan menggodaku. Pindah sana!"


Azlina menggeleng. Dia semakin mengeratkan pelukan itu dengan wajah dibenamkan ke dada Alvaro. Dibanding menjadi seorang istri, Azlina tampak seperti anak kecil yang takut ditinggalkan ibunya pergi ke suatu tempat.


Senyum tercetak jelas di bibir Alvaro, kendati lelaki itu berupaya merajuk akan sikap Azlina yang belum bisa menjaga diri dengan teman sebayanya, tetapi tak bisa dipungkiri jika usaha Azlina untuk membuatnya tersenyum telah berhasil.

__ADS_1


Bukan salah Azlina jika gadis itu masih jalan dengan teman laki-lakinya. Karena Alvaro sampai saat ini belum menjelaskan hubungan yang bagaimana yang kini sedang mereka jalani. Tentunya tawaran Alvaro agar Azlina mencari pria lain untuk masa depannya masih berlaku, karena lelaki itu sendiri belum bisa memberikan kepastian.


Alvaro menyayangi Azlina, tetapi dia masih mencintai Almeera. Dua orang wanita berbeda usia dengan memiliki tempat masing-masing di hati Alvaro. Dia masih belum mengerti perasaan sayang kepada Azlina itu seperti apa. Apakah semacam sayang antara seorang kakak kepada adiknya atau seorang lelaki dewasa kepada seorang wanita?


Jika memang Alvaro merasa Azlina adalah adiknya, bagaimana bisa dia selalu menginginkan lebih ketika bibir mereka saling beradu dan menyapu. Bahkan, Alvaro tampak menikmati dan menginginkannya setiap hari. Hanya sebuah ciuman, tetapi cukup bisa memabukkan dirinya.


Akan tetapi, Alvaro tak bisa memungkiri jika Almeera masih terpaut di hatinya. Almeera yang selalu bersikap lembut, dewasa, dan tentunya bijaksana membuat Alvaro tak mampu berpaling dari wanita itu. Dan kini, dia dihadapkan dengan rasa dilema yang mulai melanda hatinya. Dia ingin mengekang Azlina untuk dimilikinya seorang, tetapi di sisi lain dia masih ingin berjuang mendapatkan Almeera.


Sebuah perkataan yang cukup polos keluar dari bibir Azlina berhasil membuyarkan lamunan Alvaro. Dengan tanpa berdosa gadis itu memberi penawaran menarik yang tentunya tak bisa ditolak oleh lelaki itu.


"Apakah Kakak ingin sebuah ciuman seperti tadi pagi?" Gadis itu berkata dengan mendongakkan wajah . Mata bulatnya mengerjap lucu memandang ekspresi Alvaro yang tampak terkejut.


"Eh, Apa?!"


Azlina melepas pelukannya dari tubuh Alvaro. Dia menegakkan tubuhnya, lalu menundukkan wajah.


"Aku ... pernah tanpa sengaja melihat Mbak Salwa menawarkan itu kepada suaminya ketika sedang merajuk." Wajah Azlina tampak bersemu ketika mengucapkannya. Entah gadis itu tersadar atau tidak akan apa yang dia bicarakan, tetapi hal itu telah cukup membuat Alvaro ingin tertawa.


"Kau mau melakukannya?"


Azlina terlihat mengangguk malu-malu. "Tapi, Kakak harus janji tidak boleh mengabaikanku. Aku ... tidak memiliki teman selain Kakak di rumah."


Alasan Azlina yang aneh itu berhasil membuat Alvaro tertawa. Gadis itu menawarkan ciuman hanya karena dirinya takut kesepian di rumah.


"Baiklah. Aku akan meminta itu malam nanti. Jangan pura-pura lupa, ya?" Alvaro menyalakan mesin mobilnya untuk segera pergi meninggalkan parkiran rumah makan.


...***...


Setiap Alvaro berada dalam lingkup area kerjanya, semua mata nakal para karyawan wanita selalu mengawasinya dengan tatapan memuja, tetapi mereka selalu kesal jika Azlina ikut berdiri di belalang lelaki itu. Bersamaan dengan wajah tak suka dari para karyawan, lelaki itu terus saja berjalan dengan menggenggam tangan Azlina yang berjalan di belakangnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah mereka. Azlina justru merasa segan kepada tatapan semua orang yang tampak mengarah kepadanya. Sesekali gadis itu mengangguk hanya untuk sekadar menyapa sopan kepada semua orang yang tentunya jauh lebih tua darinya.

__ADS_1


Kini Alvaro dan Azlina berada di ruang kerja manager. Gadis itu duduk di sofa panjang dengan langsung bersandar mencari posisi yang nyaman. Sementara Alvaro sudah berada di atas kursi putar dan bersiap menyalakan laptop yang berada di atas meja kerjanya.


Kening lelaki itu tampak berkerut. Wajah yang semula sedikit cerah kini berubah suram. Sepertinya apa yang tertera di layar itulah yang membuat suasana hati Alvaro berubah. Azlina bisa melihat hal itu, tetapi dia enggan menanyainya.


Azlina memilih diam, lalu mengeluarkan sketsa perhiasan yang akan dia kumpulkan ke meja design. Sebelum dia beranjak dari duduknya untuk mengumpulkan karya, Alvaro memanggilnya.


"Kemarilah!"


Lelaki itu menunjukkan mimik wajah kesal, tetapi masih berusaha bersikap sabar.


Azlina tampak ragu, tetapi tak urungnya dia mendekat juga.


"Apa, Kak?" Dia berdiri di depan meja Alvaro sembari membawa sketsa gambarnya.


"Duduk sini!" Alvaro menepuk pahanya, menyuruh Azlina duduk di sana.


"A-apa?"


"Cepat ke sini. Tidak perlu banyak bertanya." Wajah Alvaro terlihat begitu dingin, membuat Azlina takut kepadanya.


Namun, tampaknya Alvaro tak memberi waktu gadis itu berpikir lagi. Dari tatapan matanya tersirat bahwa dia tak ingin ditentang ataupun didebat.


Azlina meneguk ludah. Perlahan dia mendekat ke kursi putar Alvaro, lalu menduduki paha lelaki itu dengan memosisikan kedua kakinya di antara paha Alvaro. Kini Azlina sudah berada dalam pangkuan lelaki itu. Bahkan, embusan napas Alvaro saat menatap Azlina sudah menerpa wajahnya.


"Kak, aku ... merasa gugup."


Lelaki itu melingkarkan lengannya di pinggang Azlina, menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.


"Aku sedang kesal. Jadi, aku minta ciuman itu sekarang!"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2