Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
93. Hanya Kamu


__ADS_3

"Tapi, ... bukannya Kakak sakit?" Azlina bertanya dengan nada penuh kecemasan.


Wajah lelaki itu masih lebam di sana-sini, pasti rasanya tak akan nyaman, bukan? Namun, dengan entengnya Alvaro menjawab, "Sudah sembuh."


"Apa? Tidak mungkin ...."


Tak ingin membuang waktu, Alvaro membawa Azlina memasuki kamar. Entah kamar siapa yang dia masuki, yang jelas lelaki itu hanya ingin melepaskan rindu yang begitu besar saat ini.


Tubuh Azlina dibaringkan dengan perlahan, meletakkan kepala perempuan itu di atas bantal. Sementara lelaki itu ikut berbaring miring di sampingnya.


Tangan Azlina mengusap wajah Alvaro, menimbulkan sensasi perih serta nyeri yang membuat lelaki itu mendesis kesakitan. "Kak, apa kau yakin baik-baik saja? Aku merasa kau butuh banyak istirahat. Aku ... ambilkan obat pereda nyeri, ya?"


Alvaro segera menggeleng tak menyetujui ide Azlina. "Tidak, aku akan tertidur nanti. Aku tidak mau melewatkan sedetik pun waktu bersamamu."


Wajah Azlina membias merona, sedikit menunduk dia menyunggingkan senyum. Tangannya mengusap permukaan dada lelaki itu yang berbalut kemeja.


"Tidak akan terlewatkan, karena aku akan menunggumu."


Tangan itu segera digenggam oleh Alvaro, membawanya untuk dicium penuh rindu. "Aku merindukanmu. Jangan pergi lagi, ya? Aku tidak bisa tidur nyenyak jika tak memelukmu."


"Bohong!"


"Serius. Aku kabur dari rumah sakit untuk mencarimu."


"Apa?"

__ADS_1


"Hemm, aku kabur setelah mendengar kau pergi dari rumah."


Azlina menatap Alvaro penuh haru. Batinnya menggebu merasakan gemuruh di dada, matanya mulai berembun nyaris meloloskan cairan bening di sudut mata. "Maaf, aku tidak memiliki pilihan lain. Aku bingung saat itu. Aku ... merasa sendiri, bahkan ketika mengetahui jika kau menyiapkan hadiah untuk melamar Kak Meera. Aku ... merasa sudah tidak dibutuhkan lagi."


"Hei, siapa yang mau melamar Almeera. Dia hanya masa lalu. Masa depanku adalah kamu. Aku sudah mengatakan sebelumnya bukan, jika ingin hidup bersamamu, menua bersamamu?" Alvaro merogoh sesuatu di saku celananya, lalu meraih tangan kiri Azlina.


Dia menunjukkan cincin bertahtahkan berlian merah jambu di atasnya yang berhasil dia ambil dari tangan Almeera. "Lihat ini! Ada huruf A di dalamnya."


Azlina hanya mengangguk, dia sudah tahu karena Almeera pernah menunjukkan hal itu kepadanya. "Dan Kak Meera mengatakan jika itu adalah namanya."


Alvaro menggelengkan kepala, tak setuju dengan apa yang diucapkan Azlina. "Tidak, itu bukanlah nama Almeera, bukan juga namamu." Perkataan Alvaro membuat wajah Azlina semakin masam. Jika bukan nama Almeera dan bukan juga namanya, lantas nama siapa yang terukir di dalam cincin itu? "Ayo, lihat baik-baik. Huruf A-nya memang digores dengan besar, tetapi ada huruf kecil yang menyertainya jika kita melihat lebih jeli lagi."


Dengan malas Azlina menatap dengan melebarkan mata, mencoba menerka tulisan yang tertera di dalam cincin itu. "Entahlah, aku tidak bisa melihatnya."


"Aku ... tidak cemburu."


"Benarkah?" Alvaro menunjukkannya sekali lagi goresan yang tertulis di dalam cincin itu, lalu berkata, "Itu adalah namaku, namaku yang tertulis di sana." Dan sebuah cincin lain dia keluarkan dari saku celananya. Itu adalah pasangan dari cincin tersebut yang pengerjaannya lebih dulu selesai karena tak membutuhkan berlian di atasnya. "Sekarang lihatlah di dalam cincin ini! Nama siapa yang tertulis di dalamnya?"


Alvaro meletakkan cincin desain laki-laki itu di telapak tangan Azlina, karena cincin tersebut lebih lebar sehingga tulisan yang tertera di dalamnya lebih jelas terlihat. Wajah Azlina kembali bersemu ketika melihat dengan jelas nama siapa yang tertera di dalam cincin laki-laki itu. Ya, ada namanya di sana, bukan nama Almeera atau perempuan lain.


Alvaro meraih tangan kiri Azlina, memasangkan cincin itu ke jari manisnya, lalu mencium punggung tangan Azlina dengan lembut. "Cincin ini sebenarnya ingin kuberikan di hari ulang tahunmu, tetapi pengerjaannya belum selesai saat itu, sehingga aku meminta bantuan Almeera untuk mencarikan kado pengganti untukmu. Ya, saat itu aku tidak bisa keluar karena meeting yang tak kunjung selesai. Maafkan aku, karena hal tersebut malah menjadi sebuah kesalahpahaman. Aku tidak pernah melupakan hari ulang tahunmu, Zi. Aku justru menantikannya karena ingin mengutarakan perasaanku di hari itu. Aku ... mencintaimu. Jangan pernah berpikir pergi dariku, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun."


Azlina tak bisa mengucapkan sepatah kata pun ketika mendengar seluruh pengakuan Alvaro. Dia bahagia juga terharu, merasakan rindu dan cinta yang selama ini dipendam olehnya telah terbalaskan dan disambut dengan rasa yang sama. Dia memasangkan cincin pria yang masih dalam genggamannya ke jari manis Alvaro. Kini keduanya sama-sama mengenakan cincin seperti sepasang suami istri pada umumnya.


"Jadi, apakah kita bisa melakukan 'itu' sekarang?"

__ADS_1


Dengan malu-malu Azlina mengangguk, tak mampu memandang wajah Alvaro yang sedang tersenyum senang. "Aku berjanji akan perlahan melakukannya. Jangan takut, ya?"


Tak ada tanggapan dari Azlina, karena dia begitu malu untuk sekadar merespons perkataan Alvaro.


Perlahan lelaki itu menurunkan ritsleteting di belakang pinggung Azlina, lalu menyelusupkan tangannya di sana, melucuti pakaian itu yang membuat si pemiliknya membulatkan mata.


Alvaro hanya tertawa kecil melihat reaksi Azlina. Dia sudah sering melakukannya, tetapi selalu dalam keadaan Azlina tak sadar. Dan kini dia melepas pakaian itu di saat Azlina benar-benar dalam kondisi sadar.


"Jangan menatapku begitu! Aku sudah hafal bentuk tubuhmu."


"Kakak!" Azlina memprotes perkataan Alvaro, tangannya menyilang di dada, menutupi tubuhnya yang hanya berbalut pakàian dalam.


Kini, lelaki itu tak banyak berbicara. Dia sudah menunggu hal itu cukup lama dan tak ingin kesempatan untuk menjamah tubuh sang istri tertunda lagi.


Dengan sabar dan hati-hati, Alvaro menuntun Azlina untuk pertama kalinya, memperkenalkan kepada gadis itu bagaimana hubungan suami istri sesungguhnya.


Erangan dan dèsahan yang terdengar di setiap sudut ruangan yang tak terlalu besar itu merupakan saksi bisu akan penyatuan cinta mereka. Azlina bahkan tak tahu apa yang kini sedang dia rasakan, Alvaro ternyata bisa membuatnya tak bisa menguasai dan mengenali tubuhnya sendiri.


Setiap sapuan dan sentuhan yang Azlina terima di tubuh serta bagian-bagian lain memberikan sensasi berbeda yang pastinya tak pernah dirinya rasakan sebelumnya. Dia merasa melayang, tetapi juga meradang. Entah, apa lagi yang dia rasai karena semuanya telah melebur menjadi satu dalam peluh dan juga kenikmatan yang tak bisa diungkapkan hanya dengan sebuah narasi serta diksi erotika sekalipun.


Jemari Alvaro emngapit di sela-sela jemari Azlina, memberikan kekuatan dan rasa nyaman bagi perempuan itu ketika semuanya telah disatukan. Satu kali mengentak membuat Azlina menjerit, tetapi Alvaro berusaha menenangkannya. Ya, dia cukup sabar menghadapi sang istri yang memang belum memiliki pengalaman di sana. Hingga semuanya terasa semakin mengapit, mendesak, dan menuntut untuk segera dituntaskan, lelaki itu telah melesakkan semuanya di sana bersamaan teriakan serta lenguhan dari dirinya juga Azlina.


Air mata membanjiri sudut mata perempuan itu, merasakan sakit yang teramat sangat di bagian sana. Dia bahkan tak mampu menggerakkan tubuhnya kali ini, sampai Alvaro menyelimuti tubuh mereka dengan selimut yang sama, mendekap tubuh sang istri untuk menyamankannya setelah kepuasan yang dia terima.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Aku mencintaimu, hanya kamu, tiada yang lain." Alvaro berbisik lembut seraya mencium kening sang istri, lalu memeluknya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


__ADS_2