Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
141. Pergi


__ADS_3

Hampir seminggu telah berlalu dan seperti hari-hari sebelumnya, Alvaro mengajak Azlina berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah perempuan itu kunjungi. Setiap hari tak pernah luput dari kejutan demi kejutan Alvaro untuk Azlina, menjadikan perempuan itu benar-benar seorang wanita yang begitu spesial.


Alvaro benar-benar menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada Azlina, berharap hal yang ia lakukan bisa menghapus rasa sakit yang beberapa waktu lalu sempat perempuan itu rasai. Dia ingin menyenangkan Azlina, tak ingin memberikan air mata lagi untuk istrinya itu.


Dan kini, ketika hari terakhir lelaki itu menjejaki tanah Eropa, Azlina tak kuasa menahan tangis.


"Hai, jangan menangis! Kakak jadi enggak tega ninggalin kamu."


Azlina mengusap air matanya menggunakan punggung tangan, tetapi segera dicegah oleh Alvaro. Lelaki itu menyeka perlahan dengan ibu jarinya, membingkai wajah Azlina dengan kedua telapak tangan.


Dia menggeleng, menahan tangis sesenggukan. Meskipun Alvaro mengatakan akan segera kembali setelah menyelesaikan banyak hal, tetapi seminggu melakukan hal-hal indah bersama membuat Azlina enggan melepaskan lelaki itu pergi.


"Ehmm, maaf. Air matanya keluar sendiri."


Alvaro terkekeh ringan, disentuhkan hidungnya dengan ujung hidung Azlina. "Kakak akan segera kembali. Janji!"


Satu kecupan ringan dia labuhkan di bibir itu, hanya sedikit menekan, tetapi cukup lama dengan memejamkan mata.

__ADS_1


Bersamaan itu, Alvaro membawa perempuan itu ke dalam dekapannya, memeluk erat dan seolah-olah tak mampu untuk melepaskan lagi.


Rindu, hal itu pasti tak akan bisa terlepas dari kehidupan. Menyiksa batin dua anak manusia yang saling mencinta, tetapi terhalang jarak di antara mereka.


Azlina mengikuti langkah Alvaro begitu lelaki itu menyeret kopernya. Air mata berusaha ditahan, tetapi tetap saja masih berlinang. Ingin sekali dia kembali bersama lelaki itu, tetapi dia tak mungkin meninggalkan pendidikannya.


"Jangan tebar pesona di sana!"


Alvaro hanya mengangguk mendengar perkataan Azlina, senyumnya tak bisa teruraikan dari bibir yang tampak sensual dimiliki seorang pria. "Tidak. Kakak hanya tebar pesona sama kamu. Jangan nakal sama cowok di sini. Kakak akan mengutus oramg buat mantau kamu dari jauh! Siapa tahu nanti ada yang ganggu kamu, sementara Kakak enggak ada di sini."


Azlina menggeleng patuh. Tak ingin banyak mendebat, meskipun lengan lelaki itu sejak tadi tak kunjung dilepaskan olehnya.


Dengan terpaksa Azlina mengangguk, lalu melepaskan lengan Alvaro dari dekapannya dengan perasaan yang tidak rela.


"Cepat kembali! Kalau Kakak terlalu lama, aku enggak mau jawab telepon Kakak."


Perpisahan itu akhirnya terjadi setelah banyak drama panjang yang menguras perasaan. Siapa yang bisa berpisah ketika rasa nyaman dan cinta sedang menggebu-nggebunya dalam diri, sehingga keduanya memang sulit untuk melepaskan.

__ADS_1


Kini, Azlina hanya bisa menatap pesawat itu telah pergi, meninggalkan tanah Eropa dan juga dirinya. Dia mencoba tersenyum setelahnya, menguatkan diri agar tetap bersemangat menjalani hari selama Alvaro tiada di sisinya.


...***...


Waktu terus bergulir, setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik dilewati dengan berat. Kendatipun mereka masih bisa berhubungan via telepon dan video, tetapi tetap saja tak bisa menguraikan rasa rindu di hati.


Azlina memijit pangkal hidungnya yang sejak pagi tadi terasa berdenyut pusing. Dia merasa letih dan tak bersemangat menuju kampus pagi ini. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk pergi karena tidak mungkin membolos tanpa alasan.


Perempuan itu duduk di salah satu kursi panjang di depan ruangan kelasnya, menunggu teman-temannya datang agar bisa masuk bersama. Kelas baru dimulai dua puluh menit lagi karena Azlina datang terlalu pagi, sehingga dia memilih menunggu di luar.


Dua orang perempuan datang dengan saling berbincang, lalu tampak melambaikan tangan ke arah Azlina. Dia menanggapi dengan lambaian tangan yang sama sembari menyunggingkan senyum kepada mereka.


"Sudah lama menunggu?"


"Ehmm, baru saja datang." Azlina menggeleng, lalu beranjak dari duduknya untuk masuk ke kelas bersama dua orang temannya itu.


Namun, begitu dia beranjak, matanya tiba-tiba berkunang-kunang. Kepala yang terasa pusing semakin menjadi-jadi. Dalam sekejap semua berubah menjadi gelap. Perempuan itu roboh tak sadarkan diri bersamaan teriakan histeris kedua temannya itu.

__ADS_1


》Tadinya mau sampe tamat. Haduh, kesempatan ngetik terbatas. Yaudahlah, ke bawah lagi. 😁


__ADS_2