
"Kak Meera?" Azlina menatap secara bergantian antara Alvaro dan Almeera dengan perasaan curiga, tetapi pergerakan Alvaro mengambil alih piring berisi ikan bakar menghitam itu dengan tangan yang lain menggenggam tangannya cukup memberikan ketenangan batin bagi Azlina.
"Ayo, bergabunglah!"
Alvaro melepaskan tangan Azlina, lalu berpindah ke bahu. Kejadian itu tak luput dari pengamatan Almeera. Mengapa mereka menjadi sedekat itu?
Azlina mengangguk, dengan raut muka canggung, perempuan itu melangkah mengikuti Alvaro untuk duduk bergabung bersama Almeera. Meskipun terlihat raut tidak suka Almeera kepadanya, tetapi Azlina masih menampilkan senyum terbaiknya.
Bukannya memang sejak awal Almeera tidak pernah menyukai Azlina, jadi tidak ada bedanya dulu dan juga sekarang.
Alvaro meletakkan masakan Azlina di atas meja, menggeser koran yang sebelumnya dibaca. "Hanya ini atau masih ada lagi?"
"Masih ada yang lain. Aku masak beberapa menu hari ini. Kebetulan ada Kak Meera, jadi kita bisa makan bersama"
Almeera ingin menolak, melihat ikan bakar yang menghitam itu saja dia merasa tak berselera makan, pasti rasa masakan yang lain juga tidak kalah buruknya dengan tampilan ikan bakar di depannya.
"Aku bantu ambil! Meera, tunggu sebentar, ya. Kebetulan kau ke sini ketika jam makan siang. Jadi, sebaiknya kita makan siang dulu. Mumpung masih hangat."
"Aku ...." Sebelum Almeera menyelesaikan kalimatnya, Azlina menyela perkataannya.
__ADS_1
"Sudah, Kak Meera. Kakak tak perlu sungkan, anggap aja rumah sendiri." Azlina mencoba bersikap ramah, tetapi sikap ramah itu justru semakin memuat Almeera kesal.
Tidak mungkin bukan, jika Alvaro perpaling darinya karena cewek SMA yang tidak bisa apa-apa?
Perempuan itu butuh banyak belajar agar bisa seperti dirinya. Apalagi melihat masakan yang tak layak makan itu membuat jiwa percaya diri Almeera menjadi-jadi. Tentu saja Azlina bukan saingannya, Alvaro hanya memganggap perempuan itu sebagai adik saja, tidak lebih.
Dari jauh Almeera menatap kedatangan Alvaro dengan mendorong meja beroda dengan di atasnya lengkap akan peralatan makan dan juga menu masakan.
Sementara Azlina berjalan di sampingnya sambil tertawa, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Almeera menunggu dengan tenang, tak ingin terganggu dengan kedekatan Alvaro dan Azlina. Lagipula Alvaro mengatakan akan menyelesaikan pernikahan mereka segera. Jadi, tidak perlu mencemaskan hal yang tidak perlu. Cinta Alvaro masih sama, tidak ada yang berubah.
"Lama, ya?" Alvaro berkata sembari memindahkan hidangan itu di atas meja. Sementara Azlina hanya duduk di kursi tanpa berniat membantu.
"Enggak, kok. Santai saja." Almeera tersenyum dengan anggun, ekor matanya menatap ke arah Azlina dan dia mendapati perempuan itu mengenakan kalung yang dia beli kemarin. Senyumnya kian melebar menyadari jika Alvaro tak menganggap Azlina penting. Buktinya untuk kado saja lelaki itu tak sempat membeli atau memesannya khusus. Alvaro justru memilih meminta bantuan dirinya dengan memberi waktu yang sangat mepet.
"Seharusnya istri yang melayani, Al. Bukan suami yang melayani istri. Kalau istri enggak bisa ngelayani suami, apa gunanya punya istri."
Jelas saja jika sindiran itu ditujukan kepada Azlina. Alvaro hanya tersenyum menanggapi, lalu berkata, "Tidak apa. Dia terlalu lelah karena memasak sebanyak ini. Aku hanya membantu sedikit."
__ADS_1
Azlina yang hampir emosi mendengar ocehan Almeera seketika tersenyum setelah mendengar jawaban Alvaro. Sementara Almeera hanya menghela napas kasar melihat Alvaro masih saja membela perempuan itu. Jika mereka sudah menikah nanti, Alvaro pasti akan dia larang untuk berhubungan lagi dengan Azlina.
"Ayo kita makan!" Alvaro ikut duduk mengitari meja bulat yang ada di taman itu, mempersilakan kedua wanita di depannya untuk menyantap hidangan.
Azlina ingin mengambil nasi untuk Alvaro, tetapi segera diserobot oleh Almeera. Situasi seperti itu membuat Alvaro menghela napas kasar. Memilih bersabar karena dia belum mengatakan apa pun kepada Almeera, Alvaro menjadi penengah dengan mengambil alih centong nasi di tangan Almeera.
Alvaro akan mengatakan sejujurnya kepada Almeera, tetapi hanya berdua. Dia yang mengejar-ngejar perempuan itu hingga membuatnya nyaman. Tidak mungkin melukai hati Almeera dengan mengatakan langsung di depan Azlina jika mereka telah memutuskan bersama. Alvaro akan mengatakan itu setelah makan siang, meminta izin sang istri untuk berbicara empat mata dengan Almeera.
"Biar aku saja yang melayani kalian." Tangan kanan Alvaro mulai menyendokkan nasi ke piring Almeera, membuat wanita itu tersenyum penuh kemenangan karena Alvaro lebih mengutamakannya. Sementara tangan kiri Alvaro yang tak terlihat sedang diletakkan di bawah dengan menggenggam erat jemari sang istri agar tidak cemburu kepada Almeera.
"Cukup! Aku sebenarnya tidak makan nasi putih, tapi demi kalian aku akan memakannya."
"Jadi, Kak Meera makan apa? Memang orang bisa kenyang kalau enggak makan nasi?" Azlina mengerutkan kening ketika menanyakannya. Namun, berbeda dengan Alvaro yang justru menahan tawa dengan pertanyaan istri kecilnya itu. Andai mereka hanya berdua, mungkin dia sudah melahap bibir mungil yang selalu membuatnya ketagihan.
"Mungkin kamu harus belajar lagi tentang gaya hidup sehat. Nasi putih itu tidak bagus, seharusnya kamu mengerti itu sebelum memutuskan menikah."
"Meera! Sudah, jangan diperpanjang. Sebaiknya kita makan." Alvaro merasa kesal juga lama-lama jika Azlina disindir terus oleh Almeera. Bukan hanya sekali Almeera melakukannya, awal bertemu pun perempuan itu tampak tak menyukai Azlina. Belum jadi istri saja sudah membuat Alvaro kesal, bagaimana jika keduanya dijadikan istri olehnya. Pasti tidak akan ada kedamaian di muka bumi, setiap hari hanya mendengar perseteruam kedua istrinya.
Alvaro buru-buru menggeleng membayangkan itu semua. Mengapa juga dirinya sampai membayangkan menikahi kedua wanita itu.
__ADS_1