
Pelukan Azlina di tubuh kekar itu terasa semakin erat ketika napas lelaki itu naik turun menahan gejolak amarah. Hingga terdengar helaan napas berat dari bibir lelaki itu, Azlina merasa pelukannya disambut dengan hangat.
"Kau tidak apa, 'kan?" Suaranya terdengar penuh kekhawatiran, mengusap pucuk kepala Azlina sehingga membuat perempuan itu menengadahkan wajahnya.
Dia menggeleng, berupaya menerbitkan senyum di bibir.
Lelaki itu mengeratkan pelukannya kembali dengan berkali-kali menghujani Azlina dengan ciuman di wajah serta pucuk kepala perempuan itu. "Akhirnya aku menemukanmu." Dia memejamkan mata, menarik Azlina dengan begitu erat dalam dekapannya. Dagunya diletakkan di atas kepala perempuan itu sembari merasakan syukur telah bisa bertemu Azlina kembali.
"Kak, maaf. Aku sudah mencelakaimu." Azlina tak bisa menyembunyikan rasa lega juga tangisnya. Dia bahagia bisa melihat dan memeluk pria itu lagi. Dia begitu merindukannya, merindukan lelaki itu yang tak lain adalah Alvaro, suaminya sendiri.
Lelaki itu tampak menggeleng, tak setuju dengan ucapan Azlina. "Kau tidak salah. Aku yang kurang hati-hati. Maaf, semuanya menjadi seperti ini. Kau ... pasti begitu menderita, 'kan? Maafkan aku."
Azlina tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mampu menangis dan menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. Dia rindu, teramat rindu dengan sosok di depannya itu yang kini sedang mendekap tubuhnya yang terguncang.
"Kau pasti ketakutan saat itu, kecewa, dan merasa sendiri. Aku ... tidak bisa menjagamu dengan baik, Zi. Maafkan aku yang tak bisa menjadi suami yang sempurna untukmu." Alvaro tak sedikit pun melepaskan atau bahkan melonggarkan pelukannya dari tubuh Azlina. Dia tak ingin menjauh dan melepaskan tubuh itu dalam rengkuhannya. Dia rindu, rindu yang teramat sangat dan sulit dibendung untuk saat ini.
Berkali-kali wajah itu diciumnya, mencurahkan rasa sayang serta cinta yang sejak beberapa hari lalu sempat terombang-ambing dalam ketidakberdayaan. Dia tak ingin melepaskannya lagi, tidak akan.
"Aku ... senang Kakak mencariku, tapi ... bagaimana dengan Kak Meera? Bukannya Kakak ... melamarnya?"
Perkataan Azlina cukup membuat Alvaro terkejut. Melamar Almeera? Bahkan, dia tak pernah membayangkan dalam mimpi sekali pun. "Apa yang kau katakan? Mengapa aku harus melamar Almeera?"
Barulah Alvaro melepaskan pelukan itu, menatap wajah Azlina yang sudah sembab akan air mata.
"Emm, cincin itu ... aku sudah melihatnya. Sangat indah, pasti Kak Meera bahagia mendapatkannya." Dia berusaha tersenyum dengan bibir yang ditipiskan datar, lalu melanjutkan perkataannya. "Kak, aku memang merindukanmu, tetapi aku ... bisa mundur jika memang Kakak menginginkan Kak Meera. Aku ... tidak apa, Kak. Aku ... akan baik-baik saja."
__ADS_1
Alvaro menggeleng menanggapi perkataan Azlina. Dia membungkukkan tubuh, menyetarakan tingginya dengan tinggi Azlina, lalu membingkai wajah sang istri dengan kedua telapak tangannya. "Zi, dengar aku!"
Namun, sebelum Alvaro melanjutkan kalimatnya, pria yang sebelumnya dia pukuli itu berhasil bangkit dan membalas pukulan Alvaro menggunakan kayu.
"Aaarghh!" Darah segar menetes di kening Alvaro, merasakan denyut kesakitan di kepala yang dihantam benda keras itu.
Azlina berteriak histeris melihat Alvaro limbung. Lelaki jahat itu seperti bertambah pasokan tenaganya, dia menghantam wajah Alvaro menggunakan kepalan tangan, menciptakan lebam di wajah lelaki itu.
"Kakak!" Azlina ingin membantu Alvaro, tetapi pria hidung belang itu menarik tangannya agar mengikutinya pergi.
"Lepaskan!" Azlina meronta, memukul tangan yang menggenggam dan menarik lengannya paksa. Dia ingin memeriksa kondisi Alvaro, karena yakin jika sang suami belumlah pilih benar kondisinya pasca sadar dari koma.
Melihat Azlina ditarik dan dibawa secara paksa, Alvaro segera bangkit, mengabaikan rasa pening di kepala. Diambilnya cerek besar yang biasa dipakai menyiram tanaman yang ada di peralatan berkebun, lalu dilemparkan tepat mengenai belakang kepala lelaki itu.
Cengkeraman tangan pria itu terlepas dari lengan Azlina. Perempuan itu pun lari menghampiri Alvaro, bersembunyi di belakang sang suami.
Merasa tak bisa berkutik lagi, lelaki itu melangkah dengan gontai meninggalkan area perkebunan sembari memegangi kepalanya yang sakit.
Tubuh Alvaro tiba-tiba merasa kurang bertenaga setelahnya, membuat Azlina harus menopangnya agar bisa melangkah masuk ke dalam rumah.
Azlina mendudukkan Alvaro di kursi tamu, memintanya menunggu untuk diambilkan perlengkapan pengobatan. Alvaro menyandarkan tubuhnya di sofa itu karena terlalu pening dan kesakitan.
Tak butuh waktu lama, Azlina datang dengan membawa sekotak perlengkapan P3K di tangan. Dia duduk di samping Alvaro, meletakkan kotak obatnya di atas meja. Mengambil kapas yang sudah dibasahi cairan pembersih luka, Azlina mulai membersihkan luka-luka di wajah lelaki itu.
"Auhh, pelan-pelan!" Alvaro melenguh kesakitan.
__ADS_1
Azlina terlihat cemas, bibirnya meniup setiap bagian wajah yang terluka itu dengan membersihkannya perlahan menggunakan kapas.
Alvaro yang sebelumnya memejamkan mata lantaran merasakan sakit di wajahnya yang sedang diobati oleh Azlina, kini mulai membuka mata. Sorot matanya tampak sayu ketika melihat bibir itu meniup luka di wajahnya, menciptakan sensasi sejuk dan ... intìm.
Lelaki itu menelan ludah ketika pandangannya tak lepas dari bibir sang istri yang terlihat menggoda. Sudah lama sekali dia tak mencicipinya, yaitu sejak tragedi keracunan makanan itu.
Hingga di saat Azlina membersihkan luka Alvaro di bagian rahang sembari meniup untuk mengurangi rasa sakit, lelaki itu sengaja menoleh ke samping. Begitu kepala Alvaro menoleh ke arah Azlina, bibir keduanya begitu dekat dan nyaris bersentuhan.
Azlina menurunkan tangannya, merasa canggung ketika posisi wajah mereka sedekat itu. Akan tetapi, Alvaro tak mau mengubah jarak dan justru semakin mendekatkannya ke wajah sang istri dengan mata tak beralih dari bibir itu.
Tangannya mengusap pipi Azlina perlahan dan semuanya terasa begitu cepat ketika bibirnya berlabuh di bibir perempuan itu.
Azlina tak bisa menghindar ataupun mengelak ketika lengan Alvaro menangkup tubuhnya, menahannya agar tak banyak bergerak. Lelaki itu dengan kemahirannya membungkam Azlina dengan ciuman lembut serta penuh kerinduan.
Dan ketika bibir itu belum juga saling melepas, Alvaro beranjak dari duduknya dengan posisi membungkuk, lalu mengangkat tubuh Azlina dalam gendongannya.
Azlina terkesiap ketika tubuhnya terasa melayang, matanya membeliak penuh keterkejutan. Bagaimana bisa Alvaro yang tadinya lemah tak mampu menopang tubuh sendiri sekarang justru kuat mengangkat dirinya?
"Kak!" Dia akhirnya bisa bersuara begitu Alvaro melepaskan ciumannya.
"Hemm, kau ... sudah tidak datang bulan, 'kan?"
Azlina hanya mengangguk, tangannya melingkar di leher Alvaro, menahan agar tidak sampai terjatuh.
Senyum Alvaro mengembang, menciptakan rasa nyeri di wajahnya, tetapi tak mengubah perasaannya yang teramat lega akan jawaban Azlina.
__ADS_1
"Bagus. Apakah kita bisa melanjutkan malam pertama kita yang sempat tertunda sekarang?"
》Sukses enggak, ya? 🤭