Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
98. Mengelak


__ADS_3

Semua orang pasti tercengang mendengar penuturan Alvaro, pun dengan Azlina. Perempuan itu tak menyangka jika suaminya masih mengharapkan kakak sulungnya itu. Desas-desus hubungan Salwa dan Alvaro pada masa lampau membuat hati Azlina semakin tersayat pilu. Apakah lelaki itu menikahinya karena dia adik kandung dari Salwa sehingga ada bayang-bayang Salwa dalam dirinya?


Namun, pertanyaan yang membelenggu pikiran Azlina teralihkan setelah sebuah kepalan tangan mengarah ke wajah Alvaro. Sean sepertinya sudah tidak sabar mendengar Alvaro memintanya untuk menceraikan Salwa. Lelaki itu seolah-olah sedang ingin menghadapi mautnya.


Mama Rani berteriak histeris melihat anaknya dipukuli di depan mata kepalanya sendiri, sementara Papa Agus, Ahsan, dan Alfatih menahan Sean agar tidak kehilangan kendali.


Mereka mendekap lelaki itu yang tubuhnya terasa penuh dengan otot kekar yang kuat dan pastinya bisa meremukkan tulang-tulang Alvaro jika mereka berdua benar-benar berkelahi.


Sialnya, Salwa tak ikut dalam perjalanan mereka sehingga tak ada yang bisa meredam kemadahan pria berdarah Kanada itu. Mata birunya terlihat menusuk tajam kepada Alvaro yang telah terhuyung dengan darah menetes di bibir serta hidung.


Alvaro mengusap darah segar itu dengan sedikit mendesis merasakan perih. Tangannya masih belum melepaskan jemari Azlina, seolah-olah tangan itu yang memberikan kekuatan serta keberaniannya menentang seorang Sean Paderson.


Lelaki itu tersenyum sinis, tertawa kecil kemudian yang membuat semua orang bingung akan tingkahnya.


"Kenapa? Kau tidak sanggup menceraikan Salwa, hah?! Lantas, kenapa kau menyuruhku menceraikan Azlina." Dia mengangkat tangan Azlina yang sejak tadi digenggamnya, menunjukkan kepada semua orang.


"Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku. Karena aku dan dia saling mencintai. Kalian dengar itu? Kami saling mencintai. Apa hak kalian memaksa sepasang suami istri berpisah, hah? Apa?!" Alvaro berteriak lantang, menantang kemarahan semua orang terhadapnya.

__ADS_1


Deru napas mereka terdengar mendominasi keheningan di ruangan itu. Azlina tak kuasa untuk tidak menangis melihat kondisi Alvaro yang sudah babak belur karena menunjukkan cintanya kepada semua orang. Ada rasa haru serta bahagia di hati Azlina sebab merasa dicintai sedalam itu.


Hingga Alvaro menoleh kepada Azlina, menatap manik bulat berkilauan itu yang sejak tadi tak henti-hentinya meloloskan cairan bening di sudut mata. Ibu jarinya mengusap secara bergantian air mata Azlina yang telah mengalir membasahi pipi, lalu menerbitkan senyum tulus kepada perempuan itu.


"Jangan menangis! Aku tidak ingin kau menangis lagi karenaku. Aku akan menemanimu ke rumah sakit." Tanpa melihat semua orang, Alvaro mengajak Azlina masuk ke dalam sebuah kamar untuk mengemasi barang-barang mereka.


Semua orang hanya bisa terdiam, tak bisa mengucapkan sepatah kata melihat Azlina dan Alvaro berjalan dengan sedikit gontai membawa pakaian mereka untuk keluar dari rumah itu.


"Kita bicarakan baik-baik di sana. Yang penting Azlina sudah ditemukan." Ahsan mencoba mengingatkan Sean, meredam amarah pria itu yang sempat tepercik oleh ucapan Alvaro.


Sean menghela napas kasar, melepaskan cekalan tangan semua orang di tubuhnya. "Minggir!"


Azlina termenung di dalam mobil, hening menyelimuti suasana. Alvaro pun hanya terfokus kepada jalanan yang akan membawa mereka kembali pulang.


"Jangan cemas! Semuanya akan baik-baik saja."


Alvaro akhirnya bersuara ketika menyadari sang istri hanya menatap kosong ke arah jalanan. Tangannya meraih jemari Azlina, menggenggamnya lembut sembari menyunggingkan senyum penuh ketenangan.

__ADS_1


Sikap dewasa Alvaro terpancar di situasi seperti ini. Tidak ada kepanikan ataupun kecemasan yang tidak perlu sehingga membuat Azlina lebih tenang menghadapi sebuah masalah.


"Kak, apa nanti yang harus aku katakan kepada Bapak? Apakah Mama mengatakan kepada orang tuaku jika aku selingkuh? Kak, aku takut."


"Tidurlah! Tenangkan pikiranmu! Kamu pasti sangat lelah, 'kan?" Tangan Alvaro mengusap kepala Azlina. "Aku yang akan menjelaskan kepada semuanya. Aku yang bersalah di sini. Semua itu adalah ideku, jadi aku yang akan bertanggung jawab terhadap masalah itu. Jangan khawatir lagi, ya?"


Azlina mengangguk patuh, pikirannya begitu lelah setelah banyak hal yang telah terjadi tanpa jeda pada kehidupannya. Dia mulai memejamkan mata setelah Alvaro menyodorkan bantal tidur kepadanya. Kini, wajah itu tampak damai dengan mata terkatup mrngistirahatkan pikiran yang membelenggu jiwa.


"Aku janji akan menyelesaikan semuanya. Kita akan bahagia bersama," ucap Alvaro seraya mengusap pipi Azlina lembut.


...***...


Ruang perawatan VVIP itu telah dimasuki beberapa orang dengan duduk di sofa dan kursi berbahan plastik. Mata mereka tertuju pada satu orang yang kini telah sadar dan bisa menyandarkan tubuhnya dengan posisi sedikit duduk.


Azlina dan Alvaro duduk bersisian, sementara Bu Darmini duduk di kursi plastik tepat di samping ranjang pasien. Pak Samsul telah sadar dengan jarum infus masih terpasang di tangan juga selang oksigen tekanan rendah terpasang di hidungnya. Dia menatap lekat dua orang di depannya itu, satu orang putri bungsunya dan satu orang lagi adalah menatunya.


Kedua orang itu menunduk, seolah-olah sudah siap akan ceramah panjang yang akan mereka dapatkan. Melihat ketegangan yang ada, sudah bisa diperkirakan jika Pak Samsul benar-benar marah kepada keduanya.

__ADS_1


》》


Masih ada beberapa part lagi. Tinggalin jejak dulu 😁


__ADS_2