
"Selamat pagi! Periksa dulu, ya."
Seorang perawat datang dengan mendorong meja silver beroda yang di atasnya terdapat banyak botol-botol bening kecil, jarum suntik, dan botol infus serta perlengkapan medis lainnya. Azlina mengangguk sembari tersenyum, beranjak dari duduknya, lalu menepi memberi akses perawat itu untuk memeriksa kondisi Alvaro.
"Apa ada perkembangan, ya, Sus? Kenapa Kakak tidak bangun juga?"
Pukul lima pagi merupakan jadwal perawat memeriksa kondisi pasien yang nantinya akan digunakan sebagai rujukan dokter untuk melakukan tindakan lanjutan. Dengan cekatan perawat itu mengukur suhu tubuh, tekanan darah, lalu mengganti botol infus dengan yang baru. Sebuah cairan bening yang entah apa itu disedot dari pipa suntik untuk kemudian disuntikkan ke dalam selang infus.
"Kondisinya stabil, saturasinya baik. Saya yakin pasien sangat senang Anda berada di sini. Saya permisi dulu, ya," ucap Suster kepada Azlina sembari mendorong meja silver beroda itu.
Perempuan itu mengulas senyum. Dia duduk mendekat dengan kembali menyeret kursi untuk didekatkan di sisi ranjang Alvaro. Belum sempat mendudukinya, Azlina memilih membungkuk menatap lekat wajah yang tertutup masker oksigen itu.
"Kau dengar, Kak. Kau akan sembuh. Kau akan sembuh seperti sedia kala." Azlina mengusap rambut Alvaro, lalu menghadiahi kecupan hangat di kening lelaki itu. "Kita akan sama-sama lagi, 'kan? Aku akan menagih semua janjimu. Kau tidak boleh berbohong, ya, karena aku ... akan memukulmu."
Hanya bicara seperti itu saja sudah membuat hatinya perih, air matanya tak sanggup ditahan lagi. Sejenak dia usap air mata yang selalu saja hadir ketika berbicara bersama Alvaro, sampai matanya sembab dengan wajah memerah. Hatapan itu masih sangatlah besar, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Hanya kesadaran Alvarolah yang akan membantunya keluar dari masalah itu, sehingga dia tak henti-hentinya mendoakan kesembuhan lelaki itu di setiap sujudnya.
Hingga Azlina memilih duduk lagi, sembari menunggu waktu pagi. Dia menguap beberapa kali, karena sebelum subuh dia hanya tidur satu jam saja sebab mengajak Alvaro mengobrol panjang sambil menangis, hingga saat ini dia merobohkan kepalanya di sisi ranjang dengan menunpunya menggunakan kedua tangan. Azlina kembali tertidur dengan damai, mengulum senyum sembari tak melepaskan genggamannya pada tangan Alvaro.
Terlalu nyenyak dalam tidur, membuat Azlina tak mendengar getaran ponsel yang ada di dalam tas slempangnya. Dia masih memejamkan mata, terlalu lelah sehingga membuatnya menyesal mengabaikan pesan singkat yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
...***...
"Kau di sini?"
Suara itu sedikit berteriak, merangsek secara paksa menembus ke dalam alam bawah sadar Azlina. Dengan mata sedikit terbuka yang masih remang-remang tak jelas, perempuan itu melihat sosok yang sejak beberapa hari lalu dihindarinya.
"Ma-Mama ...."
Azlina belum sepenuhnya sadar, tetapi dengan kasar Mama Rani menarik tangan Azlina agar keluar dari ruangan Alvaro. Gadis itu berontak, tak ingin pergi. Dia masih ingin menemani sang suami, tetapi tenaga Mama Rani ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya. Azlina diseret secara paksa, tak peduli meskipun air matanya mengalir terus tiada henti.
Sampai ketika kejadian itu mengganggu, membuat sebuah keributan, seorang perawat melerainya.
"Tidak perlu! Cukup di sini saja, karena dia akan segera pergi!"
Sorot mata Mama Rani begitu menakutkan, seolah-olah Azlina adalah wanita yang tak berakhlak dan sangat mengecewakannya. Azlina ingin menjelaskan, tetapi yang bagaimana? Karena yang dijelaskan sudah kehilangan kepercayaan kepadanya.
"Pergi! Jauhi Alvaro! Aku akan menyuruh putraku menceraikanmu setelah dia sadar. Dia berhak mendapatkan wanita yang menyayanginya, setia kepadanya, bukan tukang selingkuh sepertimu."
"Mama!" Papa Agus yang baru saja datang melerai Mama Rani agar tak melukai Azlina. Dia menahan tubuh sang istri yang terlampau marah kepada menantunya.
__ADS_1
"Papa yang meminta dia untuk menjaga Alvaro, seharusnya Mama berterima kasih kepadanya."
"Apa? Kenapa Papa menyuruhnya bertemu dengan putra kita? Karena dia yang sudah menyebabkan Alvaro kita tak sadar-sadar hingga saat ini." Mama Rani berkata sambil menangis. Dia benar-benar tak bisa meligat putra semata wayangnya tak berdaya berbaring di atas ranjang. "Ini semua karenamu! Dasar istri durhaka!"
Tangan Mama Rani sempat mendorong Azlina, hingga gadis itu mundur ke belakang, tetapi tidak sampai terjatuh. Orang yang kebetulan lewat di belakangnya pun tertabrak tanpa sengaja.
"Ma!" Papa Agus berteriak.
"Maaf!"
Azlina meminta maaf tanpa menatap seseorang yang ditabraknya. Pikirannya kacau dengan apa yang terjadi dengannya. Dia berharap semua permasalahan ini akan selesai tanpa ada yang tersakiti.
"Azlina."
Suara itu mengejutkannya. Dia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Airin di sana.
》Maaf baru up, kena obat dokter banyak ngantuknya. 😄
up 3 bab, ya. Tinggalkan jejak cantiknya dulu.
__ADS_1