Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
23. Janji Suci


__ADS_3

Gelapnya langit yang terhampar bak lautan luas di angkasa lantaran tertutup oleh mendung dengan awan menghitam mengerikan, menunjukkan jika hari ini hujan akan segera mengguyur bumi. Burung-burung berlindung di bawah rimbunnya dedaunan pohon, melindungi anak-anak mereka yang baru saja menetas agar tidak terjatuh dan kedinginan di atas sarangnya. Sementara pepohonannya sendiri tampak berayun-ayun, terombang-ambing oleh angin yang berembus kencang.


Semua orang di kediaman Azlina tampak tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak memedulikan suramnya langit sore ini, mereka sibuk mempersiapkan acara pernikahan Azlina. Ahsan dan Alfatih mengatur dekorasi sederhana mereka dengan menyulap ruang tamu sebagai acara ijab kabul adik kesayangan mereka. Tiada hal yang paling mengharukan, kecuali melepas adik tersayang untuk hidup bersama orang asing yang sebentar lagi berstatus suami.


Salwa menggenggam jemari Azlina ketika gadis itu mematung di depan cermin setelah perias menyelesaikan tugasnya. Dia tak henti-hentinya menitikkan air mata, seolah-olah tak terima jika adik bungsunya itu berakhir dengan menikah sebelum sempat menyelesaikan pendidikannya. Dia merasa gagal sebagai Kakak karena tak sanggup menjaga adik perempuannya itu.


"Mbak, jangan menangis. Bukankah Mbak Salwa juga mengalami ini? Mbak menikah di usia delapan belas, bukan? Dan Mbak ternyata bahagia dengan Om Sean."


"Tapi situasinya berbeda, Sayang."


"Semoga berakhir sama. Jangan terlalu berpikir berlebihan, Mbak. Doakan saja semoga semuanya berjalan dengan baik."


Salwa memeluk adik bungsunya itu. Entah mengapa dia merasa apa yang akan dilakukan Azlina ini tidaklah benar. Firasatnya tidak baik akan pernikahan yang akan dilakukan oleh Azlina. Hingga usapan di punggungnya itu mengakhiri pelukan hangat yang dia lakukan kepada adiknya.


"Ajak Azlina keluar. Mempelai pria telah datang." Ibu Darmini berkata dengan nada datar tanpa ekspresi, seolah-olah menahan rasa pedih yang mungkin membuat dia menangis menyambut pernikahan putri bungsunya.


Salwa mengangguk menyetujui. Dia mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya, masih tak rela membiarkan Azlina itu pergi meninggalkan keluarganya dan dimiliki oleh keluarga lain. Akan tetapi, tak ada yang bisa dia lakukan selain mengajak Azlina menemui sang mempelai pria, Alvaro.

__ADS_1


Suasana ruang tamu begitu hening, dengan banyak anggota keluarga yang sudah duduk mengitari ruangan itu. Di sisi paling depan, telah bersiap seorang penghulu mengenakan peci serta sorban yang melingkar di leher, pun dengan mempelai pria yang kini telah duduk di depan penghulu, memosisikan diri saling menghadap dengan satu meja kecil menjadi penengah di antara keduanya.


Salwa menggenggam tangan Azlina, menuntun adiknya itu untuk duduk bersanding di sisi mempelai pria. Azlina tampak begitu cantik dan anggun dengan balutan kebaya modern yang terlihat pas di badan. Sedetik pandangan Alvaro menatap kedatangan Azlina, jantungnya berdebar. Bocil itu telah berubah bak seorang ratu malam ini. Bahkan kini tangannya sedikit gemetar, gugup dengan pengucapan ijab kabul yang sebentar lagi akan berlangsung.


Hingga tepat ketika Alvaro sedang mengatur napas dan degup jantungnya agar berdetak seirama, Penghulu mulai melakukan ceramah sambutan. Lelaki berpeci hitam itu memberikan wejangan-wejangan umum terkait sebuah pernikahan.


Pernikahan tidak hanya menyangkut sunnah Rasul. Pernikahan juga merupakan penyatuan dua insan, laki-laki dan perempuan yang diharapkan menjadi media dan tempat yang sempurna untuk mendapatkan pahala dan ridho dariNya. Oleh sebab itu, seseorang tidak diperbolehkan mempermainkan hubungan suatu pernikahan, karena Allah akan membenci perbuatan juga pelakunya.


Azlina tampak mendengarkan dengan seksama, pun demikian dengan Alvaro. Batin mereka berteriak akan apa yang telah disampaikan oleh penghulu itu, merasa tersentil dengan apa yang saat ini sedang mereka lakukan.


Alasan pernikahan yang hanya mengedepankan atau bertujuan menutupi aib agar kedua orang tua tak malu dengan perbuatan yang tanpa sengaja mereka lakukan, lalu berharap setelah menikah masih bisa mendapatkan pasangan lain dan menganggap pernikahan yang mereka lakukan ini hanyalah ikatan sementara. Apakah kini Azlina dan Alvaro menjadi salah satu golongan orang dan perbuatannya dibenci oleh Tuhan?


Dan dengan berusaha sekuat tenaga, menghilangkan rasa gugup dalam jiwa, Alvaro mengucapkan kalimat yang berhasil mengguncangkan Arsy-Nya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Azlina Humaira binti Samsul Arifin dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar seratus dua puluh lima juta rupiah dibayar tunai." Dia berucap dengan satu tarikan napas.


Terdengar kata 'sah' dari bibir hampir semua orang dengan Azlina tiba-tiba menitikkan air mata.

__ADS_1


Beginikah akhir perjalanan kesendiriannya?


Beginikah akhir dari pencarian jati dirinya?


Karena setelah ini dia telah berstatus istri dari seorang pria. Seorang pria yang bahkan tak ada sedetik pun pernah terlintas di pikirannya untuk menjadi imam dalam kehidupannya. Seorang pria yang tak sekalipun tersebut di dalam doa.


Sungguh rizki, jodoh, dan maut sudah termaktub di dalam catatan lauhul mahfudz.


Azlina menunduk ketika tangan Alvaro menyentuh jemarinya. Dia mencium punggung tangan Alvaro. Lalu, dia merasakan sebuah kecupan hangat berlabuh di keningnya dengan mata Azlina terkatup, menerima sentuhan itu dengan pasrah.


Suasana menjadi penuh haru ketika satu per satu anggota keluarga menyalami dan memeluk mempelai, memberikan pesan-pesan yang seolah-olah itu adalah hari terakhir mereka bertatap muka. Pernikahan yang sebelumnya mereka anggap sebuah permainan ternyata memiliki arti yang begitu sakral dan suci. Bahkan Kakak Ipar yang semula selalu memberikan tatapan tajam dan menusuk, kini tampak tersenyum tulus kepadanya.


"Jaga putri Bapak, ya. Jangan sakiti dia! Perlakukan sebagaimana seorang suami memperlakukan istrinya, karena kami membesarkannya dengan sepenuh hati dan penuh kasih. Bapak tidak ingin melihat air mata kesedihan di wajahnya. Jika dia bersalah, tegurlah sebagaimana seorang suami menegur istrinya. Nasihati dia sesuai kapasitasmu sebagai kepala keluarga. Tetapi, jika kamu sudah tak sanggup untuk menerima dan tak ingin lagi bersamanya, ingatlah! Dia masih memiliki orang tua yang pintu rumahnya selalu terbuka lebar menyambut kedatangannya."


Perkataan Pak Samsul yang penuh dengan wejangan itu membuat hati Azlina begitu tersenutuh. Dia tak bisa menyembunyikan raut terharu di wajahnya. Hingga sebuah genggaman tangan yang tiba-tiba terpaut di sela-sela jemarinya, membuat Azlina seketika menoleh ke arah pemilik tangan itu.


"Saya akan menjaganya, menyayanginya seumur hidup saya. Terima kasih telah merestui hubungan kami. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Anda berikan," ucap Alvaro dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


Serius? Benarkah?


__ADS_2