Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
131. Teramat Rindu


__ADS_3

Udara malam itu terasa dingin, seharusnya membuat semua orang ingin segera membaringkan diri di ranjang dengan berbalut selimut tebal. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Alvaro. Lelaki itu tak sanggup memejamkan mata. Suhu dingin yang menyeruak masuk melewati celah kecil ventilasi udara membuatnya justru semakin merindukan Azlina.


Dalam bayangan Alvaro, malam-malam yang dingin seperti ini pastilah sangat menyenangkan jika tidur bersama sang istri, memeluknya erat, dan mungkin melakukan hal lain yang menyenangkan.


Ah, rasa rindu itu kian menjadi-jadi membuat Alvaro tak mampu hanya untuk memejamkan mata.


Dibukalah layar digital tipis miliknya, melihat galeri foto yang penuh dengan foto mereka berdua. Ibu jari dan telunjuknya mengusap wajah Azlina hingga membuat foto itu dalam posisi zoom, memperbesar wajah sang istri yang sedang tersenyum manis menatapnya. Bibirnya tak kuasa untuk tidak mencium layar smartphone itu berkali-kali, berharap rasa rindu itu sedikit berkurang dalam diri.


Akan tetapi, rindu itu bukannya semakin berkurang, justru semakin menjadi-jadi. Alvaro bahkan merasakan di bawah sana sudah menegang hanya dengan membayangkan wajah Azlina.


Tidak, sepertinya dia benar-benar menginginkan perempuan itu untuk malam ini. Rasa gelisah yang Alvaro alami sangat wajar dirasakan oleh lelaki beristri. Namun, sayangnya hal itu tak bisa dituntaskan dengan kondisinya yang sekarang. Dia benar-benar membutuhkan Azlina malam ini.

__ADS_1


Hingga lelaki itu memutuskan hal gila di tengah malam seperti ini. Dia merasa tak sabar jika harus menunggu sampai besok untuk menemui sang istri, karena malam ini dia akan pergi sendiri ke rumah sang mertua agar bisa bertemu dengan sang pujaan hati.


***


Deru suara mobil itu berhenti ketika Alvaro selesai memarkirkan roda empatnya di depan pagar rumah Azlina. Sedikit ragu dirinya di saat tangannya membuka pintu mobil. Bukannya apa, karena dia bertamu di rumah orang tepat pukul dua belas malam. Oh, sepertinya Alvaro lebih cocok disebut maling daripada sebagai seorang tamu.


Namun, rasa ragunya itu lebih kecil dibanding rasa rindu yang begitu besar membuncah di dalam diri. Allvaro tak bisa menghentikan pergolakan hatinya agar menahan diri untuk menemui Azlina.


Menghela napas panjang, Alvaro segera turun dari mobil. Karena tak mungkin menekan bel yang ada di luar pagar karena hari sudah terlalu larut, Alvaro memilih memanjat pagar rumah Azlina. Butuh beberapa menit saja hingga lelaki itu kini sudah berada di halaman rumah Pak Samsul.


Dia terlihat celingukan untuk memantau kondisi sekitar, dan pandangannya kini beralih ke arah atas di mana jendela kamar Azlina berada. Namun, ada hal yang belum sempat ia pikirkan sebelumnya, yaitu bagaimana bisa menemui Azlina malam-malam begini tanpa diketahui siapa pun.

__ADS_1


Alvaro masih mengingat kejadian memalukan ketika dirinya tertangkap basah keluar dari kamar Azlina sehabis melakukan malam panas yang menggairahkan. Malam penuh drama yang berakhir diusir oleh mertuanya karena belum bisa meyakinkan Mama Rani.


Berusaha memberanikan diri, Alvaro tak lagi mencari tangga untuk ke kamar Azlina seperti sebelum-sebelumnya. Dia tak ingin tragedi kehilangan tangga itu terulang kembali, sehingga dia memilih mengetuk pintu rumah itu, bertamu secara baik-baik.


Ketukan pintu ia lakukan, bersamaan dengan ucapan salam yang terdengar sedikit berteriak agar penghuni rumah yang sedang terlelap mendengar suaranya.


Alvaro mengetuk dengan tak sabar, berulang-ulang sehingga menimbulkan keributan penghuni rumah.


Lelaki itu berdiri mematung begitu pintu rumah itu terbuka dan mendapati Bu Darmini berdiri di depannya.


"Alvaro!"

__ADS_1


》Lanjut yaak! 🤭🤭


__ADS_2