Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
96. Mencari Azlina Bag. 2


__ADS_3

"Sini aku bantu!"


"Enggak mau. Aku bisa sendiri."


Alvaro terkekeh mendengar penolakan Azlina. Perempuan itu makin lucu ketika merajuk, membuat dirinya ingin kembali mengajaknya berperang di atas ranjang saja.


"Tuh, 'kan, enggak bisa. Sini aku bantuin!"


Alvaro mendekat, tetapi Azlina tampak tak menyetujui dengan menggelengkan kepala. "Kakak sengaja, 'kan, belikan pakaian seperti ini. Jadi, aku kesulitan untuk meraih ujung ritsletingnya?"


"Apa?" Alvaro tergelak mendengar penuturan sang istri, tapi ... ada benarnya juga.


Azlina saat ini mengenakan dress yang ritsletingnya panjang sepunggung. Dia kesulitan menaikkannya, sehingga Alvaro mencoba membantunya. Namun, niat Alvaro tak disambut baik oleh Azlina. Perempuan itu merasa semuanya hanya akal-akalan Alvaro saja yang selalu mengerjainya.


"Ya, nanti pasti Kakak punya alasan buat meluk, setelah itu bilang 'itu'-nya berdiri, lalu pengen begitu lagi. Ya, 'kan?"


Semakin tergelaklah Alvaro mendengar celotehan Azlina. Sepertinya semua akal bulusnya untuk meminta berhubungan suami istri telah terendus oleh sang istri.


"Ya ampun, kamu suudzon terus sama suami."


Alvaro mendekat ke arah Azlina, membantu perempuan itu menaikkan ujung ritsletingnya ke atas. Lalu, seperti dugaan Azlina, dia tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk tubuh perempuan itu dengan meletakkan dagunya di bahu kiri sang istri.


"Masih sakit, enggak?" Pipi itu saling bersentuhan, menggesek pipi mulus Azlina. Hidungnya mengendus aroma sampo dari rambut yang sedikit basah, begitu segar dan menggairàhkan.

__ADS_1


"Heem, sedikit. Kakak sih mintak mulu, semalem berapa kali coba?"


Alvaro tersenyum mendengar perkataan Azlina. Bagaimana lagi, mumpung berduaan. Kalau sudah kerja tidak mungkin bisa begituan berkali-kali.


"Bukan salahku. Kamu sih bikin ketagihan." Dia terkekeh setelah mengucapkannya. Tangan Alvaro mengusap perut Azlina lembut, lalu mengeratkan pelukan di sana. "Nanti kita pulang, ya? Suruh Apin sama Asri balik! Aku sudah lama cuti kerja, nanti istriku mau dikasih makan apa kalau suaminya enggak kerja."


"Tapi, Kak. Mama bagaimana? Apa Mama sudah enggak marah lagi. Aku ... takut sama Mama." Azlina teringat akan kemarahan Mama Rani. Bagaimana perempuan itu dicaci maki di depan umum, lalu diusir dengan hinaan yang begitu menyakitkan. "Mama tidak suka denganku, Kak."


"Kamu tenang, ya! Aku akan menjelaskan semua kepada Mama. Jika Mama masih tidak mau mengerti, kita bisa tinggal di apartemen dulu. Lagi pula, Mama pasti akan luluh kalau mendengar kita sedang ngebut bikin anak." Terdengar kekehan kecil dari bibir Alvaro, membuat Azlina membulatkan matanya.


"Kakak ngomongnya gitu mulu." Bibirnya makin mengerucut dengan pipi mengembung.


Mengingat semalam Alvaro seperti sedang membalas dendam akan dirinya yang sudah menahan diri selama berbulan-bulan tak menyentuh sang istri. Bahkan, Azlina tak sempat bermimpi indah karena lelaki itu terus saja mengganggu waktu tidurnya. Hingga ketika pagi, perempuan itu menghindari Alvaro agar tak menerjangnya lagi. Suaminya itu selalu saja mencari alasan untuk mengajaknya lagi dan lagi.


"Kalau begitu kita kembali sekarang, ya? Lagi pun takut karyawan Bang Ahsan datang nyari bunga, tp enggak ada yang jaga."


Ya, biasanya karyawan dari Aurora Event Organizer datang untuk mengambil bunga yang digunakan sebagai bagian dari pesta yang sedang mereka kerjakan.


Alvaro menggeleng, sepertinya dia merasa keberatan dengan ide Azlina. Lelaki itu berbisik kemudian, mengusulkan ide yang menurutnya lebih baik dan menguntungkan. "Sebelum balik, kita main sekali lagi, ya?"


"Eh, apa?!"


Tidak bisa mengelak karena Alvaro sudah mengangkat tubuh itu dan melanjutkan kehendaknnya yang menggebu terhadap Azlina.

__ADS_1


"Kakak, kau keterlaluan!" teriak Azlina yang ditanggapi gelak tawa lelaki itu.


...***...


Tepat pukul sepuluh siang Alvaro dan Azlina baru sampai ke area budidaya. Mereka memang terlambat, tetapi tidak menyangka di depan halaman sudah ada beberapa mobil yang terparkir di sana.


"Kamu bisa jalan, enggak?"


Azlina menggeleng, "Sakit tahu!"


"Harusnya kita istirahat saja di hotel tadi. Biar aku suruh orang yang jagain tempat ini."


"Enggak, adanya Kakak yang terus-menerus menyiksaku." Azlina menatap kesal ke arah Alvaro. Lelaki itu sangat keterlaluan, membuat dirinya menjadi seperti saat ini.


"Siksaan apa? Orang enak gitu. Kamu pun senang juga, 'kan?"


"Ish, ...!" Sebuah cubitan mendarat di perut Alvaro membuat lelaki itu semakin tergelak karenanya.


"Ampun-ampun, Sayang. Jangan marah, ya? Janji hari ini enggak lagi." Alavaro mengangkat tangan kanannya dengan membuat huruf V menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.


"Beneran, ya? Awas kalau banyak alasan lagi." Azlina menatap ke depan ketika mobil Alvaro sudah memasuki area budidaya. Keningnya mengernyit mendapati banyak mobil terparkir di sana. Dan yang paling membuatnya terheran, yaitu ada mobil kakak iparnya ikut terparkir di antara mobil-mobil itu. Hatinya tiba-tiba merasa takut dan gelisah, mengapa kakak iparnya berada di tempat ini?


》Aduuh, jd deg-degan. 🤭

__ADS_1


__ADS_2