
Alvaro tak sanggup membuka mata ketika waktu subuh telah tiba. Azlina sampai harus menyeret lelaki itu agar mau segera membersihkan diri.
"Ayo, Kak! Imam yang baik tidak boleh meninggalkan salat! Ayo, doakan aku agar berhasil."
Alvaro yang masih mengantuk, berusaha duduk dari pembaringan, tetapi setelah itu roboh lagi dan hal itu berhasil membuat Azlina berdecak kesal. Perempuan itu menarik tubuh Alvaro agar segera bergegas bangun, tetapi lagi-lagi lelaki itu roboh dan kali ini disengaja atau tidak, dia roboh mengarah ke tubuh Azlina.
"Kakak!"
Azlina memekik terkejut begitu Alvaro menindih tubuhnya. Namun, bukannya menyingkir lelaki itu justru tertawa kecil sembari mengeratkan pelukan di tubuh Azlina.
"Iih, modus. Udah, bangun sana! Kita salat bareng."
Tangannya menahan tubuh Alvaro, agar lelaki itu segera bangkit. "Kamu udah mandi?"
Azlina menggeleng dan ditanggapi senyuman oleh lelaki itu. "Mandi bareng, yuuk! Biar cepet."
"Enggak. Adanya makin lama."
__ADS_1
"Masak, sih? Bukannya sesuatu hal yang dikerjakan sama-sama akan cepat selesai."
"Yeah, tapi tidak berlaku untuk mandi. Udah, ah, minggir, Kak. Buruan!"
Azlina mendorong tubuh yang memang terasa berat itu. Meskipun Alvaro bukan pria gemuk, tetap saja tenaganya jauh lebih kuat daripada Azlina.
Melihat sang istri sudah mulai kesal, Alvaro akhirnya mengalah. "Iya, iya, ini juga mau mandi. Siapin minuman yang hangat-hangat, ya! Kakak mandi dulu," ucapnya dengan mengusap kepala perempuan itu.
Azlina mengangguk mengiakan, menegakkan tubuhnya setelah terbebas dari kungkungan lelaki itu, Azlina segera pergi menyiapkan apa yang diminta Alvaro sembari menunggu lelaki itu menyelesaikan mandinya.
...***...
Kenangan lama muncul kembali ketika mereka untuk pertama kalinya saling mengenal, yaitu di saat Alvaro melarikan diri karena tidak mau dijodohkan dengan Liora. Ya, sepertinya Tuhan sengaja mempertemukan jodohnya dengan cara yang begitu unik dan tidak disangka-sangka.
Tangan Azluna melingkar di perut Alvaro, memeluk lelaki itu dari belakang dengan menempelkan dagu di bahu lelaki itu. Rambut yang tergerai itu menari-nari di udara yang terkadang menjulur ke depan, menerpa wajah Alvaro ketika perempuan itu tak sengaja menoleh ke belakang.
"Zi, akhir pekan, sebelum Kakak kembali, Kakak mau ngajak kamu ke suatu tempat." Alvaro berkata di sela-sela perjalanannya sembari sedikit mengusap lengan perempuan itu agar mendengarkannya.
__ADS_1
"Ehmm, kenapa nunggu akhir pekan? Mengapa tidak nanti malam saja?"
Alvaro menipiskan bibirnya, tersenyum. Tangannya kembali mengusap lengan Azlina yang memeluk tubuhnya erat. "Kakak ingin sedikit spesial, seenggaknya kita punya kenangan sebelum Kakak balik ke Indonesia."
"Apa maksudmu, Kak?" Azlina merasa tidak senang dengan perkataan Alvaro. Kenangan? Dia tidak ingin jika semua hal yang mereka lakukan hanya akan menjadi sebuah kenangan saja. Dia ingin selamanya begini, selalu bersama baik suka maupun duka.
"Bukan gitu, Sayang. Kakak ingin ngajak kamu ke ... tempat yang romantis. Anggap aja kita bulan madu di sini. Kita berkeliling seminggu ini."
"Benarkah?" Mata Azlina berbinar ketika mengucapkannya.
"Ya, Kakak ingin nyenengin kamu selama di sini. Kita belum pernah jalan-jalan, bukan sejak menikah?"
Azlina hanya mendengar, tetapi senyumnya kian mengembang mendengar perkataan Alvaro. Hatinya benar-benar dibuat melayang oleh lelaki itu, begitu bahagia karena menjadi seorang yang istimewa.
"Kakak akan memulainya nanti malam, tentu saja setelah kamu nyelesaikan tugas kuliahmu," ucapnya kemudian.
Alvaro belajar dari pengalaman, yaitu setelah mendapatkan hukuman dari Azlina yang menyuruhnya membantu mengerjakan tugas perempuan itu malam-malam karena terlupa sehingga dia tak ingin mengulangi hal yang sama.
__ADS_1
...***...
γNext! ke bawah lagi. ππ