
Jemari itu mengepal kuat ketika melihat sosok yang menjadi panutan keluarga sedang terbaring menahan sakit di ranjang rumah sakit. Hinaan Nyonya Rani terkait Azlina yang begitu buruk membuat Pak Samsul tak bisa menahan rasa sakit di dadanya. Jantungnya kambuh sehingga pria paruh baya itu harus dilarikan ke rumah sakit.
Salwa menggusap punggung ibunya, mencoba tersenyum meskipun sakit. Dia tak menyangka jika Azlina memiliki masalah yang cukup besar di rumah mertuanya. Dia pasti paham bagaimana kesulitan seorang wanita yang tinggal seatap dengan mertua, apalagi terlibat sebuah masalah yang menyudutkan perempuan itu. Pasti adiknya itu tak bahagia dengan pernikahannya.
Akan tetapi, mengapa Azlina tak sekali pun menceritakan masalahnya kepada Salwa? Padahal sebelumnya, Azlina selalu mengatakan apa saja kepada kakaknya itu.
Menjadi kakak tertua dan sama-sama perempuan menjadikan Salwa sebagai tempat berkeluh kesah. Kendati Salwa sudah berumah tangga, Azlina selalu menceritakan masalahnya kepada kakaknya itu. Namun, semenjak menikah, Azlina tak lagi bercerita kepada Salwa, seolah-olah perempuan itu telah menjauh dan tak lagi memiliki masalah yang perlu dibagikan.
Sebelumnya, Salwa merasa Azlina sudah memiliki suami yang bisa dijadikan tempatnya mencurahkan segala isi hati. Namun, apa yang dipikirkan oleh Salwa ternyata tak sepenuhnya benar. Azlina ternyata memiliki masalah yang cukup serius sehingga mengakibatkan kemarahan sang mertua sampai mengakibatkan bapaknya masuk ke rumah sakit.
"Aku akan mencari Azlina malam ini." Sean Paderson tampak mengerang menahan marah. Dia kemudian beranjak dari duduknya, meninggalkan sorot mata tajam yang menikam.
Salwa yang mendengar penuturan sang suami segera beranjak menghampiri lelaki itu. Sean memang gerkenal tegas, tetapi terkadang lelaki itu tak bisa berpikir jernih di kala sedang larut dalam emosi. Tangannya meraih tangan lelaki itu, menggenggamnya dengan menatap manik biru yang menyiratkan sebuah kemarahan yang nyata. Senyumnya mengembang, meneduhkan bagi hati yang terasa panas membara.
"Mas, kita cari besok saja, ya? Aku juga mencemaskannya, tetapi ... kau baru pulang dari luar kota. Kau butuh istirahat." Salwa mencoba membujuk Sean agar tidak buru-buru mengambil keputusan. "Kita bisa melacak lokasinya dulu. Bukankah itu lebih baik daripada mencari tanpa tahu tujuannya?"
Ahsan terlihat mengangguk, melangkah ke arah Alfatih yang sedang memijat pangkal hidungnya. Mereka sedang duduk di luar kamar pasien, menemani Bu Darmini menjaga Pak Samsul. "Biar kami yang mencari Azlina malam ini. Kakak istirahat saja. Seharusnya kami yang menjaga Azlina."
"Kamu nyari dia ke mana, San?" Salwa memandang kedua adiknya itu, memunggu jawaban yang keluar dari mulut salah satu di antara mereka.
"Mungkin ke rumah teman-temannya atau ke ... tempat Asri. Mbak, apa mungkin dia ke tempat Asri?"
"Coba hubungi Asri, San!"
Ahsan mengangguk. Tanpa banyak bertanya, lelaki itu menghubungi telepon rumah yang ada di tempat budidaya. Sayangnya, tiada seorang pun di sana yang bisa mengangkat panggilan telepon yang beberapa kali berdering itu, membuat Ahsan kian gusar. Tentu saja tak ada yang menjawab panggilan, selain karena Asri dan Alvin--nama asli Apin-- tidak berada di tempat, juga saat ini rumah itu memang dalam kondisi kosong. Ya, Alvaro dan Azlina sudah mengunci rumah itu dan membiarkannya tanpa penghuni.
Di balik kecemasan semua orang yang berada di rumah sakit, rasa gelisah dan kekhawatiran yang tergambar nyata di sorot mata mereka akan keselamatan Azlina, di tempat yang berbeda dua orang yang tak menyadari akan kesalahan yang telah mereka timbulkan, kini justru sedang sibuk ceck-in di hotel.
__ADS_1
"Kenapa nginep di hotel, sih, Kak?"
Azlina bertanya setelah Alvaro mendapati cardlock untuk memasuki kamar yang mereka sewa.
Alvaro hanya tersenyum, mengapit tubuh sang istri dengan merangkul bahunya. "Anggap saja bulan madu." Dia mengedipkan sebelah matanya nakal setelah mengucapkan hal itu.
Tak bisa dikondisikan, wajah Azlina benar-benar bersemu ketika bisikan Alvaro itu terdengar lugas tanpa ada terselip sebuah rahasia di dalamnya. "Bulan madu? Apa kita akan jalan-jalan setelah menginap di sini?"
Alvaro terkekeh, mempercepat langkahnya menuju lift. Mereka tak memerlukan jasa bell boy, karena Alvaro meminta kuncinya sendiri. Berada di lift berdua dengan mata bulat Azlina sedang menatapnya penuh antusias, membuat Alvaro tak bisa menahan diri. Istrinya itu selalu membuatnya gemas.
Tangannya mengapit wajah itu, membuat Azlina kian menengadahkan wajahnya. Dia berusaha menelan ludah agar tak menerjag perempuan itu di sana. Hanya sebuh kecupan kecil mendarat di bibir sang istri, lalu sedikit menekannya. "Kita akan membahasnya nanti di kamar. Emm, sepertinya kita akan kesulitan tidur malam ini."
"Kesulitan tidur? Kenapa? Kalau Kakak tidak nyaman tidur di sini, sebaiknya kita kembali saja. Buat apa menyewa mahal-mahal kalau tidak nyaman dipakai tidur?"
Alvaro semakin gemas dengan sosok di depannya. Ujung hidungnya menekan ke hidung Azlina dengan tatapan lembut mengarah ke manik hitam bulat yang tampak berkilauan itu. "Tidak apa, nanti kamu juga tahu alasannya. Emm, Aku merasa lift-nya terlalu lamban. Aku sudah tidak sabar masuk ke dalam kamar."
Alvaro tergelak setelahnya, mencubit pipi yang sedikit tembam itu. "Yaa, ingin segera mengeluarkannya."
"Hemm, tahanlah dulu. Nanti kita bisa lari setelah keluar dari lift agar cepat sampai." Azlina tersenyum dengan menyipitkan mata, terlihat semakin manis dipandang.
"Baiklah! Yang kalah harus mengabulkan permintaan yang menang."
"Okey. Siapa takut?!" Azlina menanggapi dengan bersemangat, melepaskan lengan Alvaro yang sedari tadi merangkul bahunya posesif untuk mengambil ancang-ancang begitu lift terbuka.
Denting lift berbunyi dengan beberapa detik kemudian pintu terbuka. Meninggalkan Alvaro yang masih belum siap, Azlina merangsek keluar terlebih dulu menuju kamar yang dituju dengan mengingat lokasi yang ditunjukkan resepsionis hotel.
Melihat ke kanan dan ke kiri, memperhatikan nomor kamar yang akan menjadi tempatnya bermalam, Azlina berhasil menemukannya terlebih dulu. Dia tersenyum penuh kemenangan, menatap Alvaro yang masih berjalan setengah berlari di belakangnya.
__ADS_1
"Dasar, Lamban!" Azlina tertawa kecil kemudian, membalas ejekan yang biasa dia dapatkan dari Alvaro.
"Hemm, aku sengaja mengalah, biar kamu senang."
"Kalah tetap saja kalah, jangan bilang mengalah. Selalu menyebalkan!" Bola matanya memutar malas, bersedekap dada juga mengembungkan pipi.
Alvaro mengeluarkan cardlock-nya untuk dipindai di depan pintu, lalu terbukalah pintu itu setelah bunyi bip mengenali kunci digitalnya. "Jangan salah, pria menyebalkan itu ... ngangenin."
"Oh, ya ampun, Kak. Kau terlalu percaya diri." Azlina masuk setelah Alvaro membukakan pintu itu, lalu segera ditutup kembali oleh lelaki itu dan tak lupa menguncinya dari dalam.
Cardlock diletakkan di kotak yang menempel di dinding yang terhubung dengan sumber energi listrik, sehingga begitu kartu itu diletakkan di tempat yang tepat, sumber listrik yang ada di kamar itu aktif secara otomatis.
Lampu kamar menyala bersamaan Air Conditioner yang ikut menyejukkan ruangan itu. Melihat kasur yang empuk dan hangat, Azlina tak bisa menahan diri untuk tidak menjatuhkan tubuhnya tengkurap di sana.
Alvaro menggeleng, meletakkan tas yang berisi pakaian mereka, lalu segera ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
"Kakak, bukannya pengen pipis? Buruan sana!"
"Enggak jadi. Kita mulai langsung, ya?" Tangan Alvaro tanpa mengenal sabar menyibakkan kaus yang dikenakan Azlina, membuat perempuan itu melotot terkejut.
"Eh, apa yang Kakak lakukan?"
Dengan wajah menegang dan sorot mata redup lelaki itu menjawab, "Melanjutkan yang tadi siang. Ayuklah, mumpung belum terlalu malam, kita bisa mencobanya beberapa kali malam ini."
"Hei!" Azlina hanya bisa menatap kesal dengan kaus yang dikenakannya terlempar ke lantai dan disambut kekehan kecil dari bibir lelaki itu.
***
__ADS_1