Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
47. Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

Syuruk terlihat di ufuk timur, mencipratkan rona jingga keemasan di batas cakrawala. Hawa sejuk menusuk ke rongga hidung, menggelitik untuk terus menggoda indra penciuman agar terus menikmati kesegarannya. Tangan itu saling terjalin, berjalan beriringan untuk kembali ke kediaman keluarga Samsul Arifin.


Azlina masih tak percaya jika lelaki itu masih menggenggam tangannya. Biasanya Alvaro tampak tak acuh kepadanya, membiarkan Azlina untuk berjalan sendiri, terkadang mendahului di depan. Namun, pagi ini, selepas salat Subuh di surau, Alvaro tak melepaskan genggaman tangan itu hingga sampai di depan rumah Azlina.


Keduanya masuk ke dalam rumah, mengucapkan salam bersama-sama dengan Bu Darmini menjawabnya dari arah dapur. Mereka memang berjalan dengan lambat, menikmati hawa pagi di sekitar komplek yang masih sepi, sehingga ketika mereka sampai di rumah, Bu Darmini sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk semua keluarga.


"Kak, aku mau pamit Ibuk dulu." Azlina menatap Alvaro, berharap genggaman tangan itu terlepas. Sejujurnya dia malu jika bergandengan terus seperti itu, tetapi Azlina tak berani mengatakannya. Bukan apa, Alvaro sepertinya sangat menikmati berjalan beriringan dengan tangan saling bergandengan.


Alvaro mengangguk, melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Azlina menemui Bu Darmini untuk memberi tahu keinginan mereka.


"Pergilah! Setelah itu kembali ke kamar. Aku tunggu di atas!" Alvaro mengambil alih mukena dan sajadah di tangan Azlina untuk dikembalikan ke kamar.


"Ehem, Kakak naiklah dulu."


Tanpa membuang waktu, Azlina segera menemui Bu Darmini setelah melihat Alvaro menaiki tangga menuju kamarnya.


Di sana tampak Bu Darmini sedang mencuci beras di air yang mengalir, membuang bekas rendaman, lalu menggantinya dengan yang baru secara berulang-ulang.


Azlina menghampiri Bu Darmini, bersandar di pantri dapur tanpa berniat mengganggu.


"Buk, sepertinya kami tidak sarapan di sini. Kakak mengajak kembali, karena kami tidak membawa pakaian ganti untuk ke sekolah dan berangkat kerja."


Bu Darmini menghentikan aktivitasnya. Dia melihat wajah Azlina tampak berseri-seri, tampak jelas gurat kebahagiaan di wajah putri bungsunya itu. Perempuan paruh baya itu tersenyum, sepertinya memang masalah yang sedang teejadi antara Azlina dan Alvaro telah selesai hanya dengan mempertemukan keduanya kembali.


"Iya, pergilah! Keburu terlambat."


Azlina mengangguk. "Kami siap-siap dulu."


Azlina segera meninggalkan Ibu. Sedikit mempercepat langkahnya, gadis itu menaiki tangga agar Alvro tak lama menunggunya. Dia membuka pintu kamar, lalu segera masuk ke dalamnya. Di sana tampak Alvaro sedang berganti pakaian dengan piyama tidur yang semalam dia kenakan.


"Kak, kenapa ganti pakaian ini lagi. Pakai saja punya Bang Ahsan."


Alvaro masih mengancingkan piyama itu, mengabaikan perkataan Azlina. "Sudah bilang ke Ibuk?"


Azlina mengangguk.


"Ibuk bilang apa?"


Terkadang Alvaro merasa sungkan, karena harus kembali pagi-pagi sekali, melewatkan sarapan di rumah mertua.


"Tidak ada. Ibuk hanya menyuruh bergegas agar tidak terlambat." Azlina membantu Alvaro menyematkan kancing piyamanya. Kebiasaan baru gadis itu setelah menjadi seorang istri.


"Baguslah. Aku takut beliau tersinggung karena kita kembali pagi-pagi sekali."


"Tentu saja tidak. Ibuk sangat bijaksana dan pengertian."


"Yeah, semoga anaknya juga begitu."

__ADS_1


"Heem. Eh, apa?" Azlina baru menyadari perkataan yang baru saja terucap dari bibir Alvaro.


"Tidak ada. Eh, ada sesuatu di wajahmu."


Azlina mengusap-usap wajahnya, tetapi tak ada satu pun yang merasa menempel di sana. "Ada apa?"


"Sini aku lihat!" Alvaro menangkup wajah Azlina, berpura-pura memperhatikan wajah sang istri lebih teliti dengan membungkukkan tubuh jangkungnya.


Sebuah kecupan berlabuh di bibir Azlina, membuat gadis itu membelalakkan mata. Alvaro bahkan tak segera melepaskan wajah Azlina, hingga gadis itu hanya bisa pasrah dalam rengkuhannya.


Tidak cukup lama kedua bibir itu saling terpaut, karena Alvaro melepaskannya setelah menempel sekitar dua menit lamanya. Azlina menundukkan wajah, menyembunyikan raut malu yang sudah membias di pipinya.


"Ayo, kita berangkat!"


Alvaro mendekap kepala gadis itu, mengajak Azlina keluar dari kamar mereka.


Alvaro menyalakan mesin mobil setelah berpamitan kepada kedua mertuanya. Azlina ikut menyusul, duduk di samping kursi kemudi setelah selesai mencium tangan kedua orang tuanya. Mereka mengucapkan salam dengan menoleh ke arah Bu Darmini dan Pak Samsul yang mengantar keduanya sampai di depan pintu. Mobil mulai melaju dengan jendela kaca sudah terangkat naik seiring Alvaro menekan tombol power window di mobilnya.


Jalanan masih tidak terlalu ramai mengingat waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Alvaro mengendarai mobil tanpa terburu-buru. Dia menoleh ke arah Azlina yang sedang melihat ke arah jalanan, senyum simpul terlihat di bibirnya. Dia tak tahu perasaan apa yang saat ini sedang bersemayam dari lubuk hatinya.


Setiap ada kesempatan, dia ingin menyentuh gadis itu. Padahal sebelumnya, tak ada sekalipun niatan Alvaro untuk dekat dengan Azlina karena di pikirannya hanya ada Almeera. Terlalu fokus dengan tujuan, membuatnya tak melirik siapa yang ada di sekitarnya. Hingga dia tak menyadari bahwa ada sosok menarik dan menggemaskan yang selalu menemaninya setiap hari.


"Kak, nanti sepulang sekolah boleh ikut ke kantor Kakak lagi?"


Suara Azlina membuyarkan lamunan Alvaro. Dia menatap Azlina dari pantulan kaca spion tengah.


Dengan menyembunyikan wajah malu-malu, Azlina menjawabnya. "Adalah, Kak."


"Kalau alasannya enggak jelas, enggak akan aku izinin." Alvaro masih mengingat wajah Soni ya g sepertinya tertarik melihat Azlina. Dia tak ingin gadis itu digoda oleh pria hidung belang seperti Soni.


"Emm, hanya ingin melihat informasi. Bukannya ada event, ya? Aku ingin berpartisipasi."


Alvaro tampak mengerutkan kening, berpikir sejenak. Memang ada event di perusahaannya, yaitu menerima design perhiasan untuk produk terbaru yang akan launching awal tahun nanti dan itu berlaku untuk umum tanpa terkecuali. "Oh, event itu. Iya, untuk umum. Kau yakin akan mengikuti itu?"


"Heem, aku hanya ingin mencoba. Kalah juga enggak apa, hanya ingin tahu penilaian orang terhadap karyaku."


Alvaro mengusap kepala Azlina, menyunggingkan senyum kepada gadis itu. "Baiklah. Kau boleh ikut nanti."


Butuh sekitar tiga puluh menit dari kediaman Pak Samsul Arifin hingga sampai ke rumah besar keluarga Agus Cahyono. Mobil hitam Alvaro sudah memasuki gerbang utama rumahnya. Dia menghentikan mobil itu tepat di pelataran rumah yaitu di depan pintu ruang tamu. Tanpa banyak bicara, keduanya segera melepas sabuk pengaman untuk kemudian turun dari mobil.


Seharusnya jam segini, Mama Rani dan Pak Samsul masih belum berisiap diri, tetapi apa yang terlihat di depan mata tak sesuai dengan kebiasaan mereka.


Di sana terlihat koper-koper dari ukuran kecil sampai terbesar berjajar memanjang, seolah-olah mereka sedang ingin memindahkan seluruh barang-barang keluar semua.


"Ma, Pa, ada apa ini?" Alvaro yang baru saja masuk tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Pemandangan aneh yang terlihat di depan mata pastinya membuat Alvaro terheran-heran.


"Mama dan Papa akan ke Paris dua pekan ke depan. Ada event besar di sana. Doakan agar perusahaan kita menang." Papa Agus berkata tanpa memandang Alvaro, tetapi sibuk dengan koper-koper itu.

__ADS_1


"Iya, nih Papa. Pake ajak Mama segala. Padahal Mama masih mau main sama Zizi. Kan kalau Papa enggak di rumah Mama mau ngajak Zizi shoping-shoping." Mama Rani terlihat terpaksa ketika Papa Agus membawanya ikut serta acara itu.


"Dah, Mama sama Papa pergi sana. Biar Varo bisa mesra-mesaraan sama istri di rumah, enggak ada yang ngerecokin." Alvaro malah terlihat senang.


Azlina seketika melotot mendengar penuturan Alvaro. Mengingat ciuman yang sempat mereka lakukan dua kali dalam semalam membuat gadis itu malu. Dia mencubit pinggang Alvaro. Namun, sepertinya gadis itu kesulitan mencari lemak yang ada di pinggang Alvaro untuk dicubit.


"Apaan sih, Kak."


"Udah enggak usah malu-malu. Mama sama Papa akan pergi. Lumayan, kan, kalian bisa menguasai rumah. Bisa mesra-mesraan di mana pun. Jangan lupa, bikinin cucu buat kami." Mama Rani ikut menimpali, membuat wajah Azlina bertambah memerah.


"Sudah-sudah! Kalian Anak sama Ibu sama saja. Suka sekali mengganggu Zizi." Papa Agus akhirnya bersuara, memarahi anak dan istrinya. Wajah Azlina yang sudah semerah tomat cukup membuktikan kepolosan gadis itu.


Setelah berkemas-kemas, tibalah Papa Agus dan Mama Rani berangkat menggunakan mobil putih yang lebih panjang bagian body-nya. Mereka diantarkan oleh sopir pribadi dan membawa beberapa orang ikut bersama untuk membantu mengurus keperluan mereka di sana.


Kini, tinggallah Azlina dan Alvaro yang berdiri di ambang pintu, menatap mobil yang sudah menghilang dari kelokan rumahnya.


"Sudah selesai bengong?" Alvaro menepuk bahu Azlina, menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Eh, apa, Kak?"


"Tidak ada. Ayo bersiap. Aku antar ke sekolah!" ucap Alvaro kemudian seraya melangkah pergi masuk ke rumah terlebih dahulu.


...***...


Alvaro menghentikan mobilnya tepat berada di depan gerbang sekolah Azlina. Kali ini dia tak menuruti gadis itu untuk menurunkannya di satu tempat yang agak jauh dari gerbang sekolahnya.


"Kak, harusnya turun di sana seperti biasa."


"Tidak boleh. Jika di tengah jalan ada yang jahat sama kamu, siapa yang susah?" Alvaro berkata dengan tegas, perkatannya tak ingin dibantah.


"Ya udah, Kak. Sini salim dulu." Azlina mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Alvaro, tetapi lelaki itu justru menarik tubuh Azlina mendekat.


Sekali lagi Alvaro melakukannya dan kini terjadi di depan sekolah. Azlina membulatkan mata, merasakan bibirnya mulai ******** habis-habisan oleh lelaki itu. Bahkan, Alvaro tak memberi jeda kepada Azlina untuk sekadar mengambil napas.


Gadis itu terbuai, tak bisa menghindar ataupun menolak. Lelaki itu seolah menguasainya, mungkin aroma parfum Alvaro kini sudah berpindah ke tububnya.


Azlina memukul dada Alvaro di saat dia sudah tak sanggup lagi. Napasnya terengah setelah lelaki itu melepaskan bibirnya. Kepalanya masih berada dalam rengkuhan lengan pria itu. Sapuan ibu jari di bibir Azlina, mengakhiri ciuman panas mereka.


Alvaro benar-benar keterlaluan. Azlina kini malah tak mampu menegakkan tubuhnya setelah semua itu terjadi. Rasanya syok dan lemas meski hanya sebuah ciuman di pagi hari. Sebelum gadis itu bisa menguasai tubuhnya sendiri, Alvaro masih mengangga tubuh Azlina menggunakan lengannya yang melingkar di tubuh gadis itu.


"Cepatlah lulus! Aku sudah tidak sabar lagi," ucap Alvaro dengan mengusapkan ibu jarinya lagi di bibir Azlina, menghapus bekas ciuman itu dengan tisu yang tersedia di dashboard mobil.


Azlina memandang wajah Alvaro yang tampak memerah, seolah menahan sesuatu yang hampir meledak dari dalam. Dengan polosnya dia berkata, "Tidak sabar? Kenapa Kakak yang tidak sabar melihat kelulusanku?" tanya Azlina, menatap penuh selidik ke arah Alvaro.


》Bersambung ...


1 bab tapi panjaang, ya. Makasih yang selalu meninggalkan jejak. Noveltoon makin hari aplikasinya makin berat. Jadi jadwal update gk tentu. Semoga bisa konsisten agar tamat akhir bulan ini.

__ADS_1


Selamat membaca, 🤗🤗


__ADS_2